
"Bersiap-siaplah sekarang." Ucap Bian setelah menerima telepon.
"Bersiap? memang mau kemana?" Tanya Una dengan mulut penuh makanan. Ia masih memakan ayam kriuknya.
"Sudah cepat. Nanti dilanjut lagi makannya." Bian mendorong tubuh Una agar segera masuk ke kamar untuk berganti baju.
"Ta-tapi..." Una tak rela meninggalkan 2 potong ayam kriuknya yang masih tersisa.
"Dandan yang cantik." Ucap Bian kembali lalu menutup pintu kamar.
Tak lama Bian mengetok pintu kamar. Sudah menunggu cukup lama, wanita itu tak keluar-keluar kamar.
"Na... sudah selesai." Ketok Bian.
"Bentar... aku masih dandan." Teriak Una dari dalam.
"Buka dulu. Aku mau ambil baju."
Bian pun masuk dan melihat Una masih bertempur dengan peralatan make upnya. Pria itu memilih baju di lemari sambil matanya melirik Una.
Wanita memang ribet. Wajah didempul, bibir di warnai, alis ditebali, belum lagi tah untuk apa spidol ditulis di kelopak mata. Itu lagi bulu mata ditempel, biar kelihatan lebat mungkin ya. Dan apa itu yang di masukkan ke dalam mata?
Bian hanya terbengong melihat step by step ritual make up Una.
"Aku sudah siap." Ucap Una.
Bian terpaku sejenak saat melihat wanita itu sudah berdiri. Ia mengakui Una memang cantik, tapi saat ini dengan sapuan make up, wajah Una lebih cantik dan terlihat lebih segar.
'Astaga...'
Yang jadi masalah sekarang adalah pakaiannya. Wanita itu memakai pakaian yang membuat khilaf. Terbuka atas dan bawah.
"Ganti pakaianmu." Pinta Bian mengalihkan tatapannya. Bahaya jika terus dilihat, ia masih pria normal.
"Tapi..." Bagi Una sekarang imagenya adalah wanita malam, maka ia harus berpenampilan seperti itu.
"Pakai pakaian santai yang tertutup. Jika kamu berpakaian seperti itu, orang-orang akan merasa kepanasan."
Bian pun keluar dari kamar. Mungkin sebenarnya yang kepanasan sekarang adalah dirinya. Berdua di kamar dengan wanita cantik berpakaian seksi seperti itu bisa membuatnya seakan terbakar.
"Ini rumah siapa?" Tanya Una saat Bian memberhentikan mobilnya di depan sebuah rumah mewah.
"Rumahku. Ayo turun." Ucap pria itu sambil membuka sabuk pengamannya.
__ADS_1
"Kenapa kita kemari?" Tanya Una yang tiba-tiba merasa takut.
"Kenapa kamu banyak tanya? ikut saja." Pinta Bian yang tak mau menanggapi pertanyaan.
Begitu Una turun dari mobil, Bian langsung meraih tangannya dan menyatukan jari-jari mereka.
"Tu-Tuan..." Kontak fisik yang dilakukan Bian membuatnya gugup.
"Kenapa tanganmu begitu dingin? bersikaplah seperti biasa. Jangan takut, ada aku." Bian makin mempererat genggamannya.
Bian pun menggandeng Una masuk ke dalam rumah. Begitu masuk Una merasakan suasana yang dingin dan menyeramkan. Pandangan orang tua Bian yang menatap tajam dan sangat tidak suka melihatnya.
"Siapa wanita ini?" Tanya Papa setelah Bian dan Una duduk.
"Wanita hamba yang Mulia." Ucap Bian penuh keseriusan. "Ini orang tuaku, sayang." Ucap Bian dengan nada yang sangat lembut. Hingga terasa seperti gula kapas.
Una mengangguk sambil tersenyum. "Halo Om dan Tante. Saya Una." Una bangkit dan akan menyalami kedua orang tua Bian. Tapi uluran tangannya tak ditanggapi, hingga Una memutuskan duduk kembali.
"Kamu siapanya anak saya?" Tanya Mama dengan nada dingin.
"Saya..." Una melirik Bian, pria itu mengangguk mengisyaratkan sesuatu.
"Saya kekasihnya Mas Bian." Ucap Una kemudian. Bian tersenyum samar mendengar ia dipanggil Mas.
'Mas Bian Mas Bian..'
"Mas... kamu akan menikah? bagaimana hubungan kita?" Mata Una mulai berair menatap Bian. Wajahnya juga penuh dengan kesedihan.
'Kenapa nggak jadi artis saja dia?!'
"Bukan begitu sayang. Aku dijodohkan, mereka menjodohkanku. Tapi kamu tenang saja, aku nggak bakal menikah dengannya. Aku hanya mencintai kamu." Bian pun juga mulai berakting meyakinkan. Ia menggenggam erat tangan Una.
"Aku hanya mencintai kamu, dan..."
Deg
Una jadi baper. Perkataan dan tatapan cinta Bian membuat Una berdebar. Hatinya seakan melayang terbang.
"Dan... anak kita."
Wanita itu menatap Bian dengan tatapan bertanya. Bian bisa mengatakan hal seperti itu sambil mengusap-usap perutnya. Apa maksudnya?
"Bian... apa yang sudah kamu lakukan?" Bentak Papa yang seperti sudah kehilangan kesabaran.
__ADS_1
"Una hamil. Ia sedang mengandung cucu kalian." Bian mengucapkan dengan tenang sambil tersenyum manis pada Una.
'Apa-apaan dia.' Una tak mengerti apa yang sedang direncanakan Bian. Hal ini seperti ini, tidak masuk dalam perjanjian mereka.
"Kamu... kamu pasti mau menjebak anakku, kan?" Tunjuk Mama pada Una, sudah tak bisa menahan amarahnya.
"Ibu Suri tolong jaga perkataan anda pada Ibu dari anakku. Sebagai seorang pria, aku akan bertanggung jawab padanya. Hanya itu yang mau aku sampaikan pada Papa dan Mama." Ucap Bian masih tenang.
"Kami pulang dulu." Bian pamit dan menarik tangan Una untuk mengikutinya keluar dari rumah itu. Jika tetap disana, Papanya pasti akan memukulinya lagi. Jadi lebih baik segera kabur.
Di dalam perjalanan, Una menatap Bian kesal. Tapi malah yang ditatap tetap santai melajukan mobilnya sedang, membela jalanan malam.
"Apa aku begitu tampan hingga membuatmu tak bisa berkedip lagi?" Ledek Bian seraya melirik Una.
"Maaf Tuan. Tolong dikurangi kepedean anda." Una menghela nafasnya. "Apa anda tahu anda sudah melanggar perjanjian kita." Ucap Una dengan nada serius.
"Aku?" Bian menunjuk dirinya bingung. "Perjanjian mana yang aku langgar sayang?" Bian mencubit pipi Una karena gemas dengan wajah serius wanita itu. Bukannya menakutkan, malah terlihat begitu menggemaskan.
"Tuan, tolong jaga tangan anda. Aku bisa mematahkannya." Ucap Una seram seakan keluar taring.
"Ma-maaf." Bian pun melepas tangannya. Ia menggeleng, Una itu tak ada seram-seramnya. Malah wanita itu sangat lucu.
"Didalam perjanjian, aku hanya wanita simpanan anda, untuk membuat Luna menjauhi anda."
Bian mendengarkan sambil matanya tetap menatap jalan. "Benar."
"Terus bagaimana bisa wanita simpanan anda hamil?"
"Kenapa nggak bisa? kamu mau kita praktekkan sekarang?" Goda Bian yang malah tersenyum senang.
"Tuan... tolong serius." Una yang kesal mengeraskan suaranya. Bian pun mengangguk pelan.
"Jadi begini, orang tuaku berniat menyelenggarakan pesta pernikahan 2 minggu lagi. Jika pengantin prianya tak datang, itu akan membuat malu mereka. Aku disuruh memilih antara buat malu keluarga atau tetap menikah. Begitulah cara tersadis yang Mulia dan Ibu Suri itu lakukan kepadaku. Mereka memaksaku menikah dengan cara yang sungguh kejam."
Una hanya diam mendengar ucapan Bian. Apa orang tua Bian sampai segitunya ingin tetap menikahkan Bian dan Luna?
"Jadi cara satu-satunya, agar pernikahan itu tidak dilaksanakan adalah mengatakan kalau aku sudah menghamili wanita lain. Aku ini tertekan Na." Bian memijat pelipisnya. Ia sangat tahu orang tuanya pasti akan terus mendesaknya untuk menikahi Luna.
"Jadi kita akan segera menikah." Sambung Bian kemudian.
"A-apa?? menikah???"
.
__ADS_1
.
.