
...Kakak Cantik...
^^^Hai kak...^^^
Hai juga, kamu sudah belajar?
^^^sudah tadi kak^^^
^^^kak lagi apa nih?^^^
lagi santai..
Adit yang sedang berdiri di balkon rumahnya, tersenyum-senyum pada layar ponselnya. Perasaannya sangat senang saat ini, apa lagi jika bukan karena Una mau membalas chatnya. Ia menutup mulutnya bingung mau membalas apa lagi agar obrolan mereka tetap berlanjut.
"Hei... hei..."
Adit menoleh ke arah suara, ia melihat Bian sedang berdiri di depan balkon rumah.
"Bang Bian..." Sapanya.
"Lagi chat-an sama siapa? sampai dipanggili nggak dengar." Ucap Bian dengan tatapan curiga.
"Sama te-teman Bang." Jawab Adit gugup.
"Teman apa teman?" Goda Bian.
"Te-teman Bang." Ucap Adit cepat.
"Iya teman tapi demen, kan." Ledek Bian, pria itu tersenyum melihat wajah Adit yang malu.
"Sudah jadian?" Tanya Bian kembali.
Adit menggeleng. "Masih PDKT Bang."
"Oh... pepet terus jangan kasih kendor. Kasih perhatian biar cewek itu kesemsem.." Bian memberikan sedikit arahan pada Adit untuk mengejar cewek. Adit fokus mendengar sambil mengangguk-angguk.
"Oh iya Bang, selamat atas pernikahan Bang Bian. Aku baru sempat mengucapkannya."
"Nggak masalah. Terima kasih ya." Bian lalu menatap pemandangan malam dari balkon rumahnya.
"Bang Bian, apa kakak ipar kita cantik?" Gantian Adit yang bertanya. Ia sengaja menaik turunkan alisnya.
Bian jadi tersenyum dan berbalik badan. Matanya melihat Una yang sedang berbaring di ranjang. Wanita itu tersenyum menatap ponselnya. Ia jadi penasaran hal menarik apa yang ada di ponsel wanita itu.
__ADS_1
"Iya, dia sangat cantik." Puji Bian dengan tatapan masih pada Una.
"Wuih... aku jadi ingin berkenalan dengan kakak ipar kita yang cantik itu. Tapi..."
Bian mengalihkan pandangan pada Adit yang menjeda ucapannya. Pria itu melihat Adit, penasaran apa yang mau dikatakannya.
"Tapi... pasti masih kalah jauh dari teman aku kan Bang. Teman aku sangat cantik, dia itu seperti bidadari tanpa sayap." Puji Adit membayangkan wajah Una.
"Iya lah itu." Bian jadi tertawa melihat Adit.
Tak lama Bian masuk setelah mengobrol cukup lama dengan Adit di balkon. Melihat Bian datang, Una pun membenarkan posisi dari yang tadi berbaring menjadi bersila di ranjang.
"Tuan." Panggil Una takut-takut. Ia meletakkan ponsel di atas nakas.
"Apa?" Tanya Bian mengambil baju dari lemari.
"I-itu, kenapa anda tidak menikah dengan kekasih anda saja?" Tanya Una melihat Bian serius.
Pria itu juga melihat Una sesaat, lalu membuka kaosnya.
Melihat pemandangan dibalik kaos itu, Una langsung mengalihkan pandangannya. Pria itu tak ada malunya bertelanjang dada, mengotori mata sucinya saja.
"Kenapa?" Bian bertanya balik.
"Kalau ngomong itu lihat orangnya. Apa kamu sedang ngomong sama tembok?"
"Aku lihat orang tua anda sangat berharap anda memberikan mereka cucu." Seolah tak peduli Una melanjutkan apa yang mau dikatakannya.
"Bukankah lebih baik seharusnya anda menikah dengan wanita yang anda dicintai, lalu memberikan cucu pada mereka. Itu akan lebih baik dari pada anda menjalani kebohongan seperti ini. Anda bisa..."
"Bisa apa?" Tanya Bian yang sudah berada didepannya.
"Bi-bi-bisa bisa..." Una jadi gugup, terkejut dengan pria dihadapannya itu yang menatapnya sangat mengintimidasi.
"Ku-ku- kualat." Una memelankan suaranya.
"Kamu bilang apa?"
"Kualat, anda bisa kualat membohongi orang tua." Ucap Una cepat lalu menutup mulut, sepertinya ia sudah salah bicara. Tampang pria itu sangat tidak senang mendengarnya.
"Supaya aku jangan kualat. Apa kita berikan saja mereka cucu yang menggemaskan sekarang?" Seringai Bian membuat Una pucat.
"Tu-tuan, tolong jaga bicara anda. Perjanjian kita tidak seperti ini." Ucap Una perlahan menjauh dari Bian yang makin mendekat. Pria itu juga naik ke ranjang .
__ADS_1
"Memang seperti apa perjanjian kita?" Bian makin mendekat pada Una.
"Tolong segera turun dari sini. Aku mau tidur Tuan."
"Ini kamarku. Ini juga ranjangku."
"Tuan, tolong jangan mempersulit aku." Una menghela nafas.
"Mempersulit?"
"Tuan, menjauh dariku!!!" Teriak Una mendorong tubuh Bian dengan bantal lalu wanita itu pun turun dari ranjang.
Bugh
Suara pintu kamar mandi menggema. Bian yang melihat itu hanya menggeleng sambil tersenyum puas. Menggoda istrinya itu seperti hobi baru baginya.
Tak lama Una keluar dari kamar mandi dan melihat Bian berbaring di ranjang, pria itu menaik turunkan alisnya melihat dirinya.
Una mengambil bantal dan selimut.
"Mau kemana?" Tanya Bian mengkerutkan keningnya.
"Tidur. Tuan tidur di ranjang saja, biar aku tidur di sofa." Jawab Una.
"Ayo tidur bersama. Disini masih lebar, masih cukup untuk kita berdua." Bian menepuk-nepuk ranjang itu.
Malas mendengar ucapan Bian, Una melangkah ke sofa. Melihat itu Bian pun bangkit. Dan merampas bantal serta selimut yang Una bawa.
"Tu-Tuan..."
"Tidurlah di ranjang, aku akan tidur di sofa." Bian pun membaringkan tubuhnya di sofa yang kecil itu, yang membuat kakinya terlipat.
"Dasar pelit, bahkan berbagi ranjang sama tidak mau." Dumel Bian sambil menutup matanya.
Una kesal mendengar dumelan Bian. "Katanya sanggup membeli 10 mall beserta isinya, tapi ranjang saja pun harus berbagi."
'Una.... awas kamu!!!'
.
.
.
__ADS_1