
Begitu masuk ke apartement, Una langsung melangkah menuju kamarnya. Ia begitu kesal Bian tadi meledeknya. Mengatakan ia sejenis ikan duyung lantaran terdampar di pinggiran pantai.
"Tidur yang nyenyak. Besok kita akan menikah." Ucap Bian mengeraskan suaranya. Ia tersenyum melihat wajah kesal Una.
Una tak mengacuhkan dan langsung menutup pintu kamar. Tak lupa mengunci pintu, agar pria itu tak masuk ke kamarnya.
Sudah pukul 10 malam, Una tak ada keluar kamar. Apa mungkin wanita itu sudah tidur?
Bian pun tersenyum sambil mengeluarkan hp.
Apalagi yang dilakukan Bian, kecuali memantau CCTV kamarnya. Ia melihat Una terbaring di ranjangnya. Sepertinya wanita itu begitu sangat kelelahan. Una harus beristirahat, agar besok wajahnya tak kusut.
Di pagi yang cukup cerah.
"Sah..." Ucap beberapa pria yang menjadi saksi pernikahan dua anak manusia.
Bian dan Una telah resmi menikah. Mereka menikah dengan langsung datang ke KUA. Hanya ada petugas KUA, penghulu, saksi dan kedua calon pengantin. Tak lupa juga Wan yang berada disana menghandle semuanya.
Tak ada keluarga Bian, jika mereka tahu mungkin akan menentang pernikahan itu. Apalagi Luna, jika wanita itu tahu mungkin KUA ini akan dibakarnya.
Keluarga Una apa lagi? menurut Bian, Una itu sejenis ikan duyung yang terdampar di pinggiran pantai, jadi mesti menyelam di lautan jika ingin mencari keluarganya.
"Wan... tolong foto kami." Pinta Bian pada Wan. Ia juga mengisyaratkan pada Una untuk mengikutinya menunjukkan buku nikah mereka.
__ADS_1
"Senyum... wajahmu seperti dipaksa menikah dengan om-om. Padahal aku ini pria muda yang tampan lho." Ledek Bian melihat wajah Una seperti terbebani. Padahal menurutnya Una beruntung, banyak wanita yang bersedia mengantri untuk menikah dengannya. Bahkan mungkin untuk menjadi pelakor mereka juga bersedia.
Una pun tersenyum tipis. Wan mengambil foto mereka. Foto pernikahan keduanya.
'Kenapa sampai harus menikah demi menjauhi nona Luna? Sepertinya itu hanya alasan saja. Tuan Bian sepertinya menyukai wanita ini.' Batin Wan yang mengamati tatapan Bian. Walau sering meledek dan mencibir Una. Bian selalu mencuri pandang sambil tersenyum tipis pada wanita itu.
~
"Apa? Bian sudah menikah?" Papa seperti tersambar petir di siang bolong mendapat informasi tersebut. Putranya itu bahkan bisa menikah tanpa meminta izin darinya.
"Pa... Bian." Mama juga mendadak pusing, memijat pelipisnya. Ia juga tak menyangka Bian bisa senekat itu.
Dulu Bian sempat mengenalkan wanita pada mereka, tapi karena tak mendapat restu mereka. Hubungan Bian pun berakhir dengan wanita itu. Tapi ini, Bian menikah bahkan tanpa memberitahu mereka. Benar-benar anak kurang ajar.
"Mau gimana lagi? anak kurang ajar itu sudah menikah. Mana mungkin kita tetap menyuruhnya menikah dengan Luna. Nggak ada wanita yang mau dimadu, Pa." Bagaimana pun Mama tak mau anaknya sampai punya 2 istri.
Keduanya diam dengan pikirannya masing-masing.
"Ma... apa berarti dalam beberapa bulan lagi kita punya cucu?" Tanya Papa memastikan. Wajah Papa tersenyum membayangkan akan menggendong seorang cucu.
"Iya ya Pa." Mama menutup mulutnya. "Pasti cucu kita tampan dan cantik. Bian kan tampan dan wanita itu... juga sangat cantik. Ya walaupun imagenya buruk." Mama juga mendengar Una yang merupakan wanita malam.
"Mungkin ada alasan tersendiri wanita itu sampai begitu Ma. Kita berharap kedepannya ia tidak begitu. Bagaimana pun ia ibu dari cucu kita."
__ADS_1
Mama mengangguk. "Kita harus merawatnya kan Pa. Biar cucu kita bisa lahir dengan selamat dan sehat, tanpa kekurangan apapun. Tapi..." Mama juga merasa nggak enak hati pada keluarganya Luna.
"Mereka pasti mengerti. Kita sudah setuju Bian dengan Luna. Tapi jika Biannya menolak mau bagaimana lagi?"
"Iya ya Pa." Mama mengiyakan ucapan Papa. "Mama jadi nggak sabar gendong cucu." Mama sama dengan Papa sudah berkhayal menggendong cucu.
Kedua orang tua Bian dari dulu sangat berharap Bian segera menikah dan memberikan mereka cucu yang imut. Mereka menjodohkan Bian dengan Luna. Bian menolak, tapi karena rasa berhutang budi pada keluarga Luna. Mau tak mau mereka selalu tak merestui jika Bian mengenalkan seorang wanita. Dan tetap memaksa Bian menikah dengan Luna.
"Kalau dulu kita restui Bian. Pasti cucu kita sudah besar ya, Pa."
Sementara di tempat lain. Tepatnya di sebuah kamar yang sudah seperti kapal pecah. Sangat berantakan. Luna menangis histeris sambil menghancurkan kamarnya. Ia tak terima mendengar berita pernikahan Bian.
"Luna... sudah sayang." Bunda menenangkan sambil memeluk sang anak.
"Bian jahat Bun."
"Sudahlah sayang." Bunda menepuk-nepuk pundak sang anak pelan. Ia sangat tahu Luna begitu menyukai Bian, tapi jika pria itu tak menyukai putrinya. Mau bagaimana lagi?
"Bian sudah menikah. Sudahlah kamu lupakan dia. Masih banyak pria yang lain, yang pasti akan mencintai kamu, menerima kamu..." Bunda menasehati Luna dengab lembut.
Wajah Luna penuh dengan air mata. Walau sudah mengusap air matanya, tetap juga berlinang air mata itu. Ia begitu sedih dan tak merelakan Bian.
'Aku tak akan melepaskanmu Bian. Kau milikku hanya milikku..'
__ADS_1