TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 69


__ADS_3

"Mas."


"Ya."


"Mas."


"Ya."


"Mas!!!"


"Iya, sayang."


"Aku nggak bisa memasak jika Mas memelukku begini."


"Kamu masak saja. Aku kan cuma diam meluk kamu." Jawab Bian santai tanpa beban. Ia memeluk wanita yang dicintainya itu dari belakang. Menyanggahkan dagu di pundak Una. Menatap pergunungan yang menyejukkan mata.


Una menghela nafas. Hembusan nafas Bian membuatnya tak nyaman.


Brak..


Una menancapkan pisau di telenan. Aksi istrinya itu membuat Bian ciut.


"Mas, tolong duduk disana." Ucapan Una terkesan datar dan dingin.


Dengan tak rela Bian menuruti. Melepaskan pelukan dan berjalan ke meja makan. Mata pria itu mengekori setiap pergerakan Una.


'Kapan aku bisa memilikimu?'


Tak berapa lama, Una menghidangkan dua piring nasi goreng untuknya dan Bian. Ia tak membuat banyak, karena orang tua Bian pasti sudah tidur.


"Mas Bianku, silahkan dimakan." Ucap Una manja.


Dengan semangat Bian melahap nasi goreng itu. Una hanya bisa memasak nasi goreng. Jika memasak yang lain, rasa masakan Una banyak kurangnya.


"Mas, ini minumnya." Menyodorkan segelas air. Una tersenyum senang, nasi goreng di piring Bian sudah bersih. Tak ada tersisa satu butir pun.

__ADS_1


Dengan menyanggahkan dagu, Bian kembali menatap wanita cantik itu.


"Sayang, aku mencintaimu."


Dag


Dig


Dug


Lagi dan lagi hati Una berdebar-debar. Kunyahannya terhenti menatap wajah pria itu.


"Jawab aku." Pinta Bian.


"Apa sih, Mas." Una yang kikuk kembali melahap nasi goreng. Tah kenapa ia malu menjawab perasaan Bian dan lebih memilih mengalihkan pandangannya.


"Kamu tinggal jawab. Aku juga mencintaimu atau aku sangat mencintaimu."


'Jawaban apa itu, keduanya sama saja. Apa bedanya.'


"Sayang, aku mau dengar kamu bilang cinta padaku..." Bian merengek seperti anak kecil. Tapi Una tak menggubris, wanita itu masih fokus melahap nasi gorengnya.


Pagi itu Bunda terlihat sibuk di dapur. Adit yang sudah berseragam sekolah duduk di kursi meja makan.


"Hari ini Bunda buat sandwhich." Bunda meletakkan di piring Adit.


"Bun, kenapa buat sebanyak itu?" Adit heran, sandwhich yang Bunda buat terlalu banyak.


"Bunda mau kasih tante Mely." Alasan Bunda, padahal sebenarnya ia ingin membuatkan Una sarapan. Agar putrinya itu tahu jika ia sangat menyayanginya.


"Oh ya Bun... kata kak Lun. Kami punya kakak ya?" Adit akan memastikan cerita kakaknya itu.


Bunda mengangguk. "Benar."


"Terus sekarang kakak dimana?"

__ADS_1


"Masih menunggu hasil tes DNA."


Adit mengangguk seolah mengerti.


"Jika kakak ada. Aku akan menyuruh kakak untuk memarahi wanita tak tahu malu itu."Luna datang dan ikut duduk.


"Kamu nggak boleh gitu."


"Akan kuadukan semua pada kakak. Wanita itu telah merebut Bian dariku."


Bunda menghela nafas panjang. Jika Luna tahu kakaknya yang dimaksud adalah Una. Apa mereka akan akur?


"Tumben kak Lun sudah bangun? biasanya matahari sudah mau tenggelam baru kak Lun bangun." Ledek Adit.


"Aku nggak tidur selama itu ya." Sanggah Luna pada tuduhan Adit yang berlebihan. Ia hanya tidur sampai tengah hari.


"Oh ya Bun. Kapan aku dan Bian menikah?" Luna menagih janji.


"Bunda sudah bilang jangan jadi penganggu suami orang Luna." Nasehat Bunda pada Luna yang tak pernah berubah.


"Aku nggak mau tahu Bun. Aku mau menikah dengan Bian." Luna masih dengan keinginannya.


"Kak Lun kak Lun. Carilah pria lain. Masa mau sama bekasan kak Una sih." Adit sengaja mengatakan hal itu, agar Luna menjauh.


"Diam kau!" Luna malah memarahi adiknya itu.


"Mereka sangat cocok dan saling mencintai. Aku yakin pasti tiap malam bang Bian selalu membuat istrinya mendesah."


Bunda menepuk jidatnya, pikiran Adit bisa sampai kesana. "Kamu ini." Bunda menjewer telinga Adit.


Sementara Luna masih membayangkan perkataan Adit. Bian itu pria normal. Hal seperti itu sudah pasti mereka lakukan.


'Aku tak peduli. Setelah menikah denganku, aku akan membuat Bian melupakan wanita murahan itu.'


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2