
Beberapa hari pun berlalu. Una ditemani Bian datang ke rumah sebelah.
Pria itu mengeratkan genggaman tangannya, saat merasakan tangan Una yang sudah dingin.
Di ruang tamu itu ada mereka berdua, kedua orang tua Una, kakek, nenek, Luna dan juga Adit.
'Ada apa ini? apa mereka akan berpisah?' Pikir Luna.
"Jadi begini. Kita berkumpul disini untuk memberi kabar jika kami sudah menemukan putri kami yang telah lama hilang." Reno memegang bahu Rosa. Istrinya itu sudah berlinang air mata.
"Una, putri kandung kami." Aku Reno.
"Apa?" Teriak Luna tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
Kakek yang juga kaget melihat lembar hasil tes DNA.
"Ayah, Bunda... sandiwara apa ini?" Tanya Luna yang merasa aneh. Dari sekian banyak manusia, kenapa wanita yang paling dibencinya itu adalah kakaknya.
"Kami sudah melakukan tes DNa. Dan hasil menyatakan Una memang anak kandung kami." Timpal Bunda.
"Bohong, ini pasti palsu. Mana mungkin wanita ini anak Ayah dan Bunda." Luna menunjuk Una tak senang.
"Kau pasti menipu orang tuaku-"
"Kau bisa melihat sendiri hasil tes itu dan itu asli." Bian kesal dengan sikap Luna. Wanita keras kepala itu selalu ingin bertengkar dengan Una.
__ADS_1
"Itu palsu. Bunda, ini pasti ada kesalahan. Bunda yang bilang, ia tewas dalam kebakaran. Jadi nggak mungkin ia hidup lagi. Kakek, Nenek... wanita ini pasti berencana menipu orang tuaku. Dia mau-"
"Hentikan ucapanmu." Bentak kakek yang membuat semua orang kaget.
"Ka-kakek..." Ucap Luna lirih, selama ini kakek tak pernah memarahinya.
Pria tua itu bangkit dan duduk di samping Una. "Tolong, maafkan kakekmu ini."
Una menatap pria tua itu dengan mata berkaca-kaca.
"Kakek yang menyebabkan kamu terpisah dari orang tuamu. Tolong maafkan kakekmu yang tak berguna ini."
"Benar maafkan kami. Kami yang begitu kejam dan egois pada orang tuamu. Maafkan nenekmu ini." Wajah nenek sudah berlinang air mata.
Una sambil menangis bergantian memeluk mereka. Ia telah ikhlas menerima apapun yang telah terjadi selama ini. Baginya yang terpenting ia masih diberi kesempatan bertemu dengan Ayah dan Bundanya lagi. Bertemu dengan keluarganya lagi.
Melihat kakek dan nenek menerima Una, membuat Luna pun bergegas ke kamar. Hatinya tak terima jika Luna adalah anak orang tuanya. Yang berarti Una adalah kakaknya.
"Kak Una..." Adit menghampiri. Ia memeluk wanita yang sempat ditaksirnya itu.
'Pantas aku merasa ingin dekat, ternyata ikatan batin kakak dan adik.'
Bian melihat Adit yang memeluk Una begitu erat. Ia ingin marah, tapi tak mungkin. Pria ingusan itu adalah adik iparnya sekarang. Masa ia harus cemburu pada adik istrinya itu.
"Ada yang mau saya sampaikan." Ucap Bian setelah drama peluk-pelukan berakhir.
__ADS_1
"Saya dan Una berniat menyelenggarakan acara resepsi pernikahan."
'Kapan aku bilang setuju?' Una melihat Bian yang juga mengatasnamakan dirinya.
"Ah benar, kita harus mengadakan acara resepsi." Ayah sangat mendukung.
"Iya, sekalian pengenalan keluarga baru kita." Timpal kakek juga. Selama ini ia sudah menghilangkan nama cucunya itu, ini waktunya ia memperbaiki kesalahannya.
"Jadi nanti konsepnya begini..."
"Iya Ma, kita harus mengundang seluruh keluarga besar.."
"Kita harus mengadakan pesta pernikahan yang besar.."
Wajah Una begitu bahagia melihat antusias keluarga barunya itu. Suasana keluarga yang begitu sangat ia rindukan. Ia sangat bersyukur.
"Sudah jangan nangis." Bian menghapus air mata di pipi Una.
"Aku terharu Mas.." Wajah Una sudah mewek.
"Luna mana?" Tanya Bunda yang baru menyadari putrinya satu lagi tak ada bersama mereka.
"Paling merajuk Bun." Jawab Adit cepat.
.
__ADS_1
.
.