TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 43


__ADS_3

"Una sayang... Bunda sangat merindukanmu, nak." Air mata Rosa berjatuhan membasahi bingkai foto anak perempuan berseragam SD.


"Maafkan Bunda ya nak, sudah meninggalkan kamu..." Ia mengusap kepala anak di foto dengan rasa sayangnya, seolah sedang mengusap kepala anaknya.


"Kamu tahu, Bunda bertemu dengan anak yang namanya sama dengan kamu. Entah kenapa perasaan Bunda jadi berpikir itu kamu." Rosa mengusap air mata yang terus mengalir keluar dari matanya.


"Apa karena nama kalian yang sama, ya? kamu nggak marahkan kalau Bunda anggap dia kamu. Bunda sangat rindu kamu, nak." Rosa memeluk bingkai foto itu. Jika ia sedang rindu pada anaknya, Rosa hanya dapat memeluk bingkai foto itu dengan erat sambil menangis dalam penyesalan.


"Ma-ma..." Wanita paruh baya itu langsung kaget saat wanita tua itu masuk ke kamarnya.


"Kamu harus mengikhlaskan anak kamu itu. Dia sudah tenang di sana." Wanita tua itu mengelus pundak menantunya itu setelah mendudukkan diri di tepi tempat tidur.


Rosa diam memandangi wajah bocah yang sangat ia rindukan. Jika waktu bisa berputar kembali, ia tak akan pernah meninggalkan Una di sana.


"Ma, pasti Una saat itu menangis. Anak itu sangat cengeng, tiap mati lampu saja ia akan menangis karena tak melihat aku dan mas Reno." Rosa mengingat kenangan mereka dulu. Kebersamaan mereka yang kini hanya tinggal kenangan saja.


"Maafkan kami nak." Wanita tua itu juga meneteskan air mata. Ia juga sedih, akibat keegoisan ia dan suaminya, membuat Reno dan Rosa kehilangan buah hatinya.

__ADS_1


'Jika saja dulu aku merestui mereka, aku pasti bisa melihat cucuku itu.' Batin nenek juga penuh dengan penyesalan. Wanita tua itu melihat sang cucu yang telah tiada, yang tersenyum menggemaskan dalam bingkai foto itu.


"Ma, kenapa aku merasa Unaku itu istrinya Bian, ya?" Ucap Rosa berwajah sendu menatap Mama.


"Mereka berbeda, wanita itu bukan anakmu. Kamu yang terlalu merindukan anakmu itu dan berpikir wanita itu adalah anakmu, hanya karena nama mereka yang sama." Wanita tua itu seakan tak terima mendiang cucunya disamakan dengan wanita tetangga sebelah rumah mereka, yang hanya seorang wanita murahan.


"Sudah kamu jangan sedih terus. Mama yakin Una juga nggak mau lihat kamu sedih dan selalu menangis seperti ini."


Rosa mengusap air matanya yang seolah enggan berhenti menetes membasahi pipinya. Ia bangkit dan menyimpan foto Una di lemari. Lalu berjalan masuk ke kamar mandi.


Bruak...


"Nenek..." Luna pun menangis dan berlari memeluk nenek tua itu.


"Kenapa kamu?" Walaupun tadi sempat kesal, melihat cucunya menangis membuatnya luluh.


"Bian jahat Nek. Dia membawa wanita itu ke kantor dan mereka melakukan hal yang tidak senonoh di sana." Adu Luna sambil terisak-isak.

__ADS_1


"Kenapa Ma?" Bunda Rosa yang baru keluar kamar mandi bingung melihat Luna yang menangis.


"Bunda... aku benci wanita itu. Dia merebut Bian dariku." Luna memeluk Bundanya dengan air mata yang berlinang.


"Bian juga memecatku, Bun."


"Bunda sudah bilang, kamu jangan mengharapkan Bian terus menerus.."


"Bunda... kenapa selalu mendukung mereka? Wanita itu tak pantas untuk Bian. Dia itu cuma wanita malam yang menjijikkan."


"Kamu nggak boleh bicara begitu. Bunda nggak pernah mengajarkan kamu seperti itu." Rosa meninggikan suaranya, perkataan Luna sudah sangat kelewatan.


"Ayo kita ke kamarmu." Nenek membawa Luna keluar dari kamar itu saat melihat menantunya mulai emosi pada sang anak.


Nenek mengerti dari dulu Rosa tak pernah suka menghina dan berkata kasar pada orang lain. Rosa akan marah jika anak-anaknya seperti itu, karena Rosa mengajarkan anak-anaknya untuk menghormati orang lain.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2