
Dari balkon lantai 2, Rosa melihat pemandangan pagi. Ia menatap sepasang anak manusia, yang begitu mesra saling berpamitan. Rosa pun mengulum senyum.
'Apa dia sudah sembuh ya?' Batin Rosa. Wanita itu pun lalu bergegas turun dan menuju dapur.
Rosa tampak sibuk di dapur, ia sedang memasak bubur. Ia akan membawakan untuk tetangga sebelah rumah.
"Ngapain Bun?" Tanya Luna yang melihat aneh Bundanya. Wanita itu jarang masuk dapur.
"Ingin masak saja." Jawab Rosa seadanya.
"Bun, aku akan bekerja di kantor Bian. Aku sudah memasukkan lamaranku." Ucap Luna sambil melahap masakan yang telah disediakan para pelayan rumah.
"Luna... sudahlah. Untuk apa kamu terus mengganggu Bian? dia sudah menikah lho, Nak." Ucap Bunda sambil menghela nafas. Luna tetap tak mau mundur.
"Aku tidak peduli ia sudah menikah. Bian menikah dengan wanita seperti itu, aku nggak terima Bunda. Dia itu seorang pelacur." Cibir Luna yang berusaha menahan emosinya. Tiap mengingat Una ia selalu ingin mencekik wanita itu. Tensinya selalu saja naik.
"Luna kamu nggak boleh bicara seperti itu." Bunda menasehati, ada rasa sedih ketika Luna berkata seperti itu pada Una.
"Kenapa nggak boleh? dia kan memang seorang pelacur..."
__ADS_1
"Bunda nggak pernah mengajari kamu berbicara seperti itu." Ucap Bunda menaikkan intonasi suaranya.
Luna pun diam, ia lanjut melahap makanannya. Bundanya selalu marah jika ia menghina orang lain.
###
"Kamu makannya pelan-pelan." Bunda mengelap bubur yang menempel di mulut Una sambil tersenyum manis.
Una merasa perasaannya tiba-tiba menghangat. Wanita di depannya itu memasakkan bubur untuknya. Ia juga di temani menghabiskan bubur itu.
"Te-terima kasih Tante buat buburnya." Ucap Una gugup. Ada rasa berharap saat melihat wanita itu.
"Jangan panggil Tante. Kamu boleh panggil Bunda." Pinta wanita itu dengan wajah serius.
"Karena kamu adalah menantunya Mely, maka kamu menantu Bunda juga." Ucap Bunda.
"Mana boleh nikung-nikung." Sambung Mama yang datang membawa buah yang sudah dipotong.
"Mertua kamu sudah cerita semua. Jika boleh Bunda akan menjadi orang tua kamu juga." Ucap Rosa.
__ADS_1
Mungkin karena sama nama, Rosa akan menganggap Una seperti anak kandungnya saja. Untuk mengobati kerinduannya pada Una, sang anak kandung, yang sudah menghadap yang maha kuasa berpuluh-puluh tahun yang lalu.
Una diam mencerna ucapan Bunda. Ia merasa kecewa dan sedih, tadinya ia berpikir mungkin Rosa ini benar adalah Bundanya. Ternyata salah, nama mereka saja yang sama. Ia tak punya foto orang tuanya dan wajah mereka juga mulai samar di ingatannya.
"Kamu nggak mau ya?" Tanya Bunda dengan wajah sendu.
"Mana mungkin Una mau sama kamu. Luna mau dikemanai? bisa-bisa ia marah kalau kamu mau jadi orang tua Una pula." Ucap Mama yang mengingatkan sambil menggelengkan kepala. Ada-ada saja tingkah tetangga sebelah rumahnya ini.
"Lagian kamu sudah punya 2 anak sepasang lagi. Kalau mau nambah anak lagi, hamil lagi saja. Kalau sudah nggak bisa, adopsi anak. Jangan mengangkat menantuku. Una, cuma aku yang boleh menyayanginya." Ucap Mama sambil memeluk Una. Seperti seorang ibu yang memberi perlindungan pada anaknya.
"Makasih Ma." Una membalas pelukan Mama. Wanita paruh baya itu begitu baik padanya. Ia ingin berteriak dan melompat kegirangan.
Rosa melihat interaksi antara keduanya. Tah kenapa ia merasa sedih dan kecewa. Ia juga ingin memeluk wanita muda itu.
'Jika aku tak meninggalkan Una dulu. Una pasti sudah dewasa sekarang.' Rosa kembali pada penyesalannya.
"Anak Bunda ada berapa?" Tanya Una yang penasaran.
"Anak Bunda 2. Luna dan Adit. Luna itu yang suka sama suami kamu. Adit, adiknya Luna yang masih SMA." Jelas Bunda.
__ADS_1
Una mengangguk, Bunda mengatakan ia hanya punya 2 orang anak saja. Berarti ia tak punya anak lain. Wanita ini bukan Bunda Rosanya. Hanya karena nama mereka saja yang sama, sehingga perasaannya jadi tak menentu seperti ini.
'Bukan Bundaku!'