
"Ma... Una pergi dulu ya." Pamitnya menyalami sang Mama.
"Hati-hati. Ntar kalau pulang telepon Bian atau naik Taksi, jangan naik ojek." Ucap Mama. Tadi Una mau memesan ojek, tapi Mama melarangnya. Mengingat menantunya itu sudah berbadan dua.
Una mengangguk dan memeluk wanita paruh baya itu. "Makasih ya Ma." Mata Una mulai berkaca-kaca, wanita paruh baya itu begitu sangat menyayanginya.
"Pak, tolong jangan ngebut-ngebut ya. Menantu saya sedang hamil." Ucap Mama pada sang supir Taksi.
"Siap Buk."
Una hanya menunduk malu. Perasaannya campur aduk. Ia senang karena Mama begitu menyayanginya, tapi ia juga sedih sudah berbohong padanya. Apa wanita paruh baya itu akan tetap bersikap baik padanya di kemudian hari nanti?
Taksi Una pun melaju, Mama melambaikan tangannya dan dibalas lambaian tangan juga oleh Una.
"Mel..." Panggil seseorang setelah taksi berlalu.
"Ros.." Mama tersenyum melihat Rosa.
"Siapa yang naik taksi?"
"Menantuku."
Rosa mengangguk. "Mau kemana dia?"
"Mau ketemu temannya."
"Hmm... padahal aku mau lihat menantumu itu."
"Ntar sore kamu bisa lihat juga. Selama hamil ia akan tinggal di sini. Aku takut kalau tinggal di apartemen Bian, kalau ada apa-apa kan susah jadinya. Aku nggak mau cucuku kenapa-kenapa..." Ucap Mama mengobrol sambil mengajak Rosa masuk ke rumah.
###
"Una..." Panggil Ziva menghampiri sang teman yang sedang duduk menunggu di sudut kafe.
"Ziva." Una pun memeluk sang teman. "Aku rindu kamu."
"Aku juga Una..." Rengek Ziva membalas pelukan sang teman.
Mereka memesan makanan, tak lama makanan yang mereka pesan pun datang.
"Gimana pekerjaanmu apa kau betah?" Tanya Una senang melihat Ziva berpakaian wanita kantoran.
"Betah dong Na. Gajinya besar." Jawab Ziva tersenyum bahagia.
"Oh ya. Bagus dong, aku senang mendengarnya. Jadi kapan nih aku ditraktir?"
"Hmm... kapan ya? saat aku libur kerja gimana?"
__ADS_1
"Ok deal." Jawab Una berjabat tangan. "Nanti kau kabari aku saja."
Ziva mengangguk.
"Astaga... dilihat dari dekat aslinya sangat tampan."
"Itu manusia apa malaikat?"
"Seharusnya aku pakai kacamata hitam, kilauan ketampanannya sangat terlalu.."
"Apa yang harus kita lakukan?"
Una dan Ziva yang sedang mengobrol, terganggu oleh suara heboh para wanita. Mereka mengalihkan pandangan ke arah apa yang sedang wanita-wanita itu bahas.
'Astaga... kenapa dia disini?' Una mengusap-usap telapak tangannya di pipi, seolah menyembunyikan wajahnya. Ia berharap pria yang sedang dibahas tak melihat ke arahnya.
"Na... apa kau tahu siapa pria itu?"
Una menggeleng.
"Pria itu bos besar di kantorku. Jabatannya CEO CEO gitu lah."
"Oh iya?"
Ziva mengangguk. "Kabarnya pak Bian sudah menikah. Tapi kenapa wanita-wanita itu masih memujanya?"
"Pasti istrinya itu sangat cantik, berasal dari keluarga kalangan atas, dan pasti punya pendidikan yang tinggi.." Ziva membayangkan istri Bian pasti wanita seperti utu.
Una pun meminum minumannya pelan. Bian menikah dengannya karena ingin menghindar dari Luna. Jika wanita bernama Luna tidak seperti itu, apa mungkin Bian mau menikah dengannya?
'Apa yang kupikirkan?' Una menepis pikirannya. Tujuannya menikah dengan Bian, hanya untuk lepas dari jerat Mami Lisa.
Una tersentak saat suara deringan panggilan masuk berbunyi di hpnya. Ia melihat nama pemanggil.
"Su-suamiku?" Ziva yang sempat melihat, menatap Una meminta penjelasan.
Una meletakkan telunjuk di bibirnya, ia akan mengangkat panggilan telepon itu terlebih dahulu.
"Ha-halo..." Ucap Una gugup. Rasanya aura di kafe itu membuat merinding.
"Kamu dimana?" Tanya suara berat yang terasa begitu dingin.
Una mengalihkan matanya dan mendapati Bian sedang menatapnya tajam. Pria itu duduk tak jauh dari mejanya. Wanita itu menelan salivanya, tatapan Bian tak baik sekarang.
"Lagi di kafe sama teman." Jawab jujur Una. Mau bohong pun tak bisa, Bian ada di tempat itu juga.
"Siapa yang mengizinkanmu pergi?" Tanya Bian dengan nada datar.
__ADS_1
"Tadi aku sudah izin sama Mama kok."
"Samaku ada izin?"
"Belum. Baiklah, aku izin pergi sama temanku ya." Ucap Una cepat meminta izin.
Bian mendengus, Una baru meminta izin pergi padanya sekarang. Tadi bahkan ia tidak ingat.
"Segera pulang. Aku tunggu diparkiran."
"Ta-tapi..."
Una menatap layar ponselnya, pria itu sudah memutuskan panggilan telepon itu. Una juga melihat Bian yang melangkah keluar kafe.
"Na... kau sudah menikah? kenapa tak memberitahuku? kenapa kau bisa menikah? dengan siapa? apa pria itu baik atau ia mengancammu...?" Pertanyaan bertubi-tubi Ziva dilayangkan pada Una.
"Kau nggak masuk kerja?" Una mengalihkan topik.
"Iya kerja, tapi jawab dulu pertanyaanku."
"Iya, aku sudah menikah." Jawab Una cepat. Ia tahu Ziva sangat penasaran.
"Sudah, cepat masuk kerja sana. Jam istirahatmu sudah selesai. Nanti kau bisa dipecat."
"Ya sudah aku kerja. Tapi janji Na, kau harus cerita semuanya padaku. Jangan ada yang kau rahasiakan."
Una mengangguk. "Iya Va."
Di parkiran kafe Una berdiri menunggu. Ia celingak celinguk mencari mobil Bian. Tapi tak ada melihatnya.
'Apa dia sudah pulang?'
"Aduh..."
Seseorang yang sedang terburu-buru menabrak pundak Una, membuat wanita itu hampir terjatuh. Tapi untung saja pria itu dengan sigap langsung menarik tangan Una, hingga Una hampir terantuk tubuh kekar pria itu.
"Maaf, maafkan aku. Aku sedang terburu-buru. Kamu tidak apa-apa?" Tanyanya setelah memastikan Una bisa berdiri sendiri, ia pun perlahan melepaskan tangan yang masih memegang lengan Una.
"I-iya." Jawab Una gugup, matanya menatap kagum pada pria itu.
"Sekali lagi maaf ya." Pria itu pun bergegas pergi. Sepertinya ia sangat terburu-buru.
Mata Una tak lepas menatap kepergian pria itu.
'Apa aku sedang bermimpi?' Batin Una menepuk pipinya pelan.
__ADS_1