
Luna masuk ke dalam kamar, ia mengambil tasnya lalu segera keluar. Matanya melihat tajam pada kedua wanita yang sedang menonton.
Langkah itu terhenti melihat interaksi keduanya. Mereka saling membahas tentang drama yang ditonton. Membuatnya larut dalam kenangan.
"Bunda, itu apa?" Tanya Luna kecil yang menonton siaran animal.
"Itu namanya jerapah, Nak"
"Oh... yang panjang itu apanya ya Bunda?"
"Itu lehernya."
"Biar gampang makan ya Bun? jadi jerapahnya nggak perlu manjat-manjat?" Luna kecil melihat jerapah itu melahap dedaunan di pohon.
Bunda tersenyum mendengarnya dan memeluk tubuh mungil itu.
Luna tersadar dari kenangan masa lalu, ia pun segera turun dari tangga dan akan melangkah keluar rumah.
"Luna... ayo sini nonton bersama." Ajak Bunda lembut.
"Aku pergi Bun." Luna segera keluar rumah. Bunda dan Una hanya bisa menggeleng kepala.
Begitu keluar rumah, Luna langsung berlari saat sebuah mobil berhenti di depan rumahnya.
"Jalan pak." Ucapnya sambil memakai sabuk pengaman.
Pria yang sedang mencari -cari sesuatu di dashboardnya melihatnya aneh.
"Kenapa kau naik mobilku?" Tanya Wan kesal.
"Apa sekarang kau merangkap jadi supir kenderaan online?" Luna sama bingungnya. Ia pun segera mengambil hp dan melirik ke pria itu.
"Aku kira ini kenderaan yang ku pesan." Luna pun segera keluar dan menutup pintu. Ia berbohong karena tak mau malu. Nyatanya ia belum memesan kenderaan apapun.
'Cewek aneh.'
__ADS_1
###
"Kamu dari mana? ke rumah Bunda? apa bertengkar dengan Luna?" Tanya Bian bertubi-tubi saat melihat Una masuk ke ruang kerjanya, membawakan nampan berisi minuman dingin.
Dengan cepat Una menggeleng. Ia meletakkan nampan itu di meja Bian.
"Untuk Mas Bianku." Dengan senyum tulus Una menyodorkan gelas.
"Terima kasih sayang." Bian menkecup pipi Una. Lalu meminum air dalam gelasnya.
Bian menarik Una agar duduk di pangkuannya. "Kamu mau minum?" Tanyanya menyodorkan ke mulut Una.
Wajah Una tampak kesal, karena begitu ia akan meminumnya Bian menjauhkan darinya. Pria itu tersenyum sambil meminum air di gelas.
Mata Una terbelalak saat Bian menumpahkan air dalam mulut secara langsung ke mulutnya. Ia secara spontan menelan air-air yang masuk ke tenggorokannya.
"Mas Bian." Una mengelap mulutnya.
Pria itu tersenyum lalu menatap berkas pekerjaan yang diantar Wan.
Una mendongakkan kepala, ia melihat Bian begitu fokus.
"Aku tahu aku tampan."
"Masa?"
Fokus Bian langsung menatap Una. "Apa kamu meragukan suamimu, sayang?"
Una pun kembali menurunkan kepalanya.
Beberapa waktu berlalu, Una merasa bosan duduk menyandar seperti ini.
"Sayang, jangan bergerak-gerak nanti dia bangun lagi." Bian memperingatkan.
Una terpaksa kembali menyandar, ia tak mau lagi menidurkan piton.
__ADS_1
"Sayang." Panggil Bian.
"Ya."
Bian membenarkan posisi duduk Una dan menatapnya.
"Aku haus."
"Sebentar aku ambil minum."
Tangan Bian segera menahan Una. "Aku mau minum itu."
Una melihat arah mata Bian. "Mau yang kanan atau yang kiri?" Una mengedipkan mata nakalnya.
"Yang kanan lalu yang kiri." Bisik Bian.
Berkas Bian tinggalkan kini ia fokus akan membuka kancing baju.
"Biar aku saja yang buka Mas."
Bian merasa Una terlalu slow motion untuk membuka satu kancing bajunya. Ia berusaha sabar, mungkin ini cara Una menggodanya.
"Sabar ya sayangku." Una mencubit gemas dagu Bian melihat pria itu melipat tangan di dada. Ia tahu pria itu tidak sabaran.
Satu kancing terbuka. Dan dengan cepat kancing ke dua terbuka. Bian menelan salivanya melihat kulit mulus itu.
Una menatap genit Bian saat akan membuka kancing ketiganya, membuat pria itu tertawa seraya menundukkan kepala sejenak. Una terlalu seksi di matanya.
"Aku akan ambil minum." Una mengambil kesempatan itu. Secepat kilat ia turun dari pangkuan Bian. Dan berlari keluar dari ruang kerja itu.
'Ia hanya menggodaku. Lihat saja ntar malam aku akan menghukumnya.' Bian pun tersenyum smirk.
.
.
__ADS_1
.