
HARAP BIJAK DALAM MEMBACA.
\=\=\=\=\=\=\=
"Bunda... Bunda..." Adit mengetok-ngetok pintu kamar orang tuanya. Tak lama pintu itu pun terbuka.
"Kenapa-"
Prang
Belum sempat Ayah bertanya terdengar suara pecahan kaca. Mereka pun segera berlari ke arah suara tepatnya dari kamar Luna.
"Luna!!!" Pekik Bunda melihat Luna mengepal pecahan kaca nakas yang telah dihancurkannya. Darah segar mengalir dari telapak tangan itu.
"Luna sayang... lepaskan ya nak." Bujuk Bunda pelan. Perlahan mencoba mendekat.
"Jangan mendekat. Jangan pedulikan aku. Urus saja anak baru kalian itu. Biarkan saja aku mati." Luna mengarahkan pecahan kaca ke tubuhnya dengan wajah yang penuh air mata.
"Luna..." Ayah juga berusaha mendekati sang anak.
"Aku bilang jangan mendekat." Pekik Luna makin mengarahkan pecahan kaca itu.
"Luna lepaskan dulu. Kita bisa bicarakan." Ucap Nenek lembut. Ia juga sangat takut.
"Benar, kita bisa bicarakan baik-baik." Kakek ikut menimpali.
"Kalian semua membohongiku. Bunda bahkan mengingkari janjinya. Kalian tahu apa yang aku mau. Aku mau Bian Aku mau Bian." Luna terisak-isak.
Mereka tak berani mendekat, takut Luna makin nekat.
"Dit, kamu panggil Bian kemari." Pinta kakek. Mungkin jika Bian membujuknya, cucunya itu akan melepaskan pecahan kaca yang terus melukai telapak tangannya.
Mendengar nama Bian, pecahan kaca itu mulai melonggar di tangannya.
Tak lama di rumah Bian. Adit mengatakan bahwa Luna akan bunuh diri. Dan dengan segera pula Una menggeret Bian ke rumah Bundanya.
"Sayang, untuk apa aku kesana? biarkan saja dia." Bian tak peduli apapun yang terjadi pada Luna. Wanita itu pasti sedang bersandiwara.
"Ayolah Mas. Kamu bujuk Luna ya." Una kembali menarik suaminya ke rumah sebelah.
"Bian..." Ucap Luna saat melihat pria tampan itu. Ia pun segera melepaskan pecahan kaca dan berlari menghampiri.
"Apa yang kau lakukan?" Bian akan melepaskan pelukan Luna, tapi ia melihat isyarat Una supaya Bian membujuknya dulu.
"Aku tahu kau peduli padaku."
Bian sedikit geli mendengar ucapan Luna. Wanita itu terlalu pede. Jika bukan Una yang meminta, menginjakkan kaki kemari pun ia tak sudi.
"Luna... ayo Bunda obati tanganmu." Bunda menarik pelan Luna dari Bian.
__ADS_1
"Nggak mau Bunda. Aku mau Bian yang mengobati. Bian, obati lukaku, ya" Ucapnya dengan nada manja. Ia melirik Una yang berdiri di samping Adit.
Bian menghela nafas panjang. "Baiklah."
'Jadi seperti ini mencari perhatianmu.' Luna tersenyum samar. Kini ia tahu cara agar Bian peduli dan melihat ke arahnya.
Dari jauh Una melihat Bian mengobati luka di tangan Luna. Ia tak berani mendekat karena Luna pasti akan kembali mengamuk dan takutnya ingin mengakhiri hidup.
Una menatap sendu keduanya. Di satu sisi ia tak tega, Luna adalah adiknya. Tapi disisi lain Bian adalah suaminya. Bagaimana ia harus memilih salah satu? sementara mereka bukanlah pilihan.
"Maafkan kami karena menyuruh Bian kemari. Agar Luna menghentikan aksinya." Kakek menepuk pelan pundak Una. Pria tua itu merasa bersalah.
"Setelah ini, kami akan membawanya keluar negeri. Kamu jangan khawatir." Ucap kakek. Luna harus dijauhkan dari Bian. Jika Luna terus disini, ia pasti akan terus mengancam untuk bunuh diri. Kakek takut jika nanti akhirnya Una yang akan mengalah pada adiknya. Ia tak mau itu terjadi.
"Sudah selesai, sekarang tidurlah." Ucap Bian setelah mengobati Luna.
Luna mengangguk dengan wajah berbinar. Ia begitu bahagia Bian bicara lembut padanya.
"Kamu tidur di kamar Bunda saja." Ajak Bunda. Karena kamar Luna sudah seperti kapal pecah.
"Selamat malam Bian." Dengan wajah merona Luna segera berlari setelah memegang kedua tangan Bian.
"Selamat malam." Jawab Bian lembut penuh senyuman palsu. Ia terpaksa melakukan itu. Jika tidak Una pasti akan tetap memaksanya.
"Semuanya aku permisi." Pamit Bian lalu memberi isyarat Una untuk segera pulang.
"Una pulang dulu." Ucapnya sopan berpamitan.
Bian melangkahkan kaki lebar saat memasuki rumah. Ia terus melangkah, tak peduli Mama bertanya.
Melihat Bian pergi begitu saja, Una pun menceritakan yang terjadi di rumah Bunda.
Sesampainya di kamar, Bian menuju kamar mandi. Air shower pun terdengar gemericik di lantai kamar mandi.
'Aku harus mandi.'
Sebenarnya Bian cukup kesal Luna tadi memeluknya. Tubuhnya ini hanya milik Una. Sekarang ia harus membersihkan diri, hingga tak ada aroma Luna menempel di tubuhnya.
Setelah bercerita sedikit pada Mama, Una pun ke kamar. Di kamar tak melihat Bian. Pria itu pasti sedang di kamar mandi.
"Sayang sayang... Una sayang." Panggil Bian dari kamar mandi.
"Ya..." Jawab Una mendekat kamar mandi. "Kenapa Mas?"
"Tolong ambilkan aku handuk. Aku lupa."
Una pun mengambil handuk, ia berjalan ke kamar mandi.
"Mas, ini..." Ketok Una pelan.
__ADS_1
Bian membuka pintu dan melihat tangan terulur. Una bersembunyi di tembok untuk memberikan handuk padanya.
'Apa yang ia takutkan!' Bian mengambil handuk lalu mengeringkan tubuhnya.
"Mas... kenapa pakainya disini!" Pekik Una langsung menutup matanya saat tak sengaja melihat sesuatu yang menggantung tapi bukan lampu.
Una tadi mengira Bian di dalam kamar mandi. Tapi ternyata pria itu akan memakai handuk diluar kamar mandi.
'Mengotori mata suciku saja.' Wajah Una sudah memerah. Ia pun berniat segera beranjak ke ranjang. Tapi...
"Sayang..." Bian menangkapnya dan memeluk tubuh itu dari belakang. Memberi kecupan-kecupan di leher putih itu. Hal itu membuat tubuh Una meremang.
"Sayang... besok kita kembali saja ke apartemen. Aku akan bicara pada Mama." Bian tetap memberikan kecupan itu.
"Ke-ke-kenapa?" Ucap Una gugup.
"Adikmu itu terus mengancam akan bunuh diri. Aku nggak mau kamu meninggalkanku hanya demi dia." Bian membalikkan tubuh Una, lalu menatap istrinya itu dengan tatapan lembut yang mendalam.
"A-aku nggak mikir begitu." Una melihat sejenak Bian yang bertelanjang dada. Ia pun segera mengalihkan pandangan. Melihat tubuh Bian bisa membuat air liurnya menetes.
Bian tersenyum senang, setidaknya Una tak menganggap ia barang yang bisa di oper sana sini.
"Maaf sayang. Tadi aku terpaksa meluk Luna. Tapi aku sudah mandi kok. Sudah nggak ada lagi bau dia." Bian pun memberitahu sambil mengangkat ketiaknya.
Una mengangguk pelan. Ia juga tak tahu harus bagaimana dengan Luna.
"Sayang..." Bian menarik tubuh Una mendekat. "Kapan em em mu itu selesai?"
Una menelan salivanya, ia mengerti maksud tujuan Bian mengarah kemana.
"Masih lama?"
"kapan? berapa hari lagi?"
Una diam, bingung menjawab. Selama ini ia berbohong pada Bian. Ia beralasan seperti itu karena belum siap.
"Mu-mungkin seminggu, tidak 2 minggu lagi. Sepertinya sebulan karena keluarnya tidak lancar." Una pun kembali beralasan.
Bian menatap Una penuh selidik. "Kalau begitu besok kamu harus ke dokter bersamaku."
"Tidak tidak... sudah biasa seperti itu. Nanti juga sembuh sendiri." Tolaknya cepat.
Bian masih menatap Una yang tampak salah tingkah. Ia bisa menebak Una hanya beralasan saja.
"Begitu ya?" Tanya Bian dengan kepala mengangguk. "Coba aku lihat."
"Apa!!!"
.
__ADS_1
.
.