
Una menarik nafasnya berkali-kali di depan pintu kamarnya. Sesudah kabur dari Bian wanita itu pergi ke dapur, menenggak air minum dalam lemari pendingin.
Dengan perlahan Una pun membuka pintu kamar. Kepalanya terlebih dahulu nyelonong melihat keadaan. Pria itu tidak ada di ranjang. Kemana dia?
"Lama-lama kamu seperti maling." Ledek Bian yang melihat Una mengendap-endap masuk kamar.
"Tadi kamu mau minta bantuan apa, sayang?" Tanya Bian kemudian yang melihat Una seperti berlari menuju ranjang.
Una yang akan naik ke ranjang menghentikan langkahnya. Ia berolah raga wajah terlebih dahulu, lalu membalikkan badan.
"Begi... astaga." Una sangat kaget karena Bian sudah berada di belakangnya saja. Padahal pria itu tadi masih duduk di sofa.
"Mas Bian.." Una berusaha menetralkan debaran jantungnya, tah karena terkejut atau karena di dekat pria ini jantungnya selalu berdetak kencang.
"Kamu mau minta bantuan apa?" Bian mengulang pertanyaannya, matanya menatap lekat wajah cantik itu.
"I-itu.." Belum mengatakan apapun, Una sudah segugup ini.
"Itu apa?" Tanya pria itu begitu lembut.
"A-akan kukatakan sambil duduk." Una menarik Bian menuju sofa.
Bian memicingkan matanya melihat Una yang berkali-kali menghela nafas. Sepertinya wanita itu begitu gugup.
"Itu- bantu aku mencari alamat." Ucap Una cepat.
"Alamat siapa?" Tanya Bian dengan wajah serius.
"Aku dan kedua orang tuaku pernah tinggal di rumah kontrakkan."
Bian masih melihat Una menunggu ucapan selanjutnya.
"Kontrakannya itu punya ibu-ibu gendut bernama..." Una mulai berpikir, ia lupa siapa nama ibu gendut pemilik kontrakan yang selalu main tangan dan memarahinya.
"Aku lupa namanya, tapi ia punya anak namanya tasya, anaknya seusiaku. Terus suaminya itu pengangguran. Orang tuaku pernah mengontrak di rumahnya. Kalau nggak salah kontrakkannya itu berapa pintu ya? banyaklah, pintunya warna biru semua. Berjejer gitu, kontarakkan kami yang berada di pinggir. Jadi..." Cerita Una sambil berusaha mengingat. Air mata Una menetes, mimik wajahnya pun berubah sedih.
Bian menarik Una dalam dekapannya. Memeluk tubuh Una dengan erat.
"Jangan dipaksakan. Pelan-pelan saja mengingatnya. Jika sudah ingat katakan padaku." Bian tahu pasti sulit bagi Una untuk mengingat saat berpuluh tahun yang lalu. Una pasti masih kecil sekali.
__ADS_1
"Tapi tak ada yang bisa ku ingat." Ucap Una lirih memeluk Bian. Air mata itu kembali tumpah menahan perasaan rindu yang teramat dalam.
Pria itu menepuk-nepuk pundak Una pelan, menenangkan wanita itu yang sesekali terisak.
"Apa aku bisa bertemu mereka, Mas?"
"Aku akan berusaha mencari mereka. Tapi kamu harus siapkan mental ya, apapun yang terjadi kamu harus menerimanya." Bian mewanti-wanti. Tak tahu apa kabarnya kedua orang tua Una, ada kemungkinan mereka sudah tiada.
"Mas..." Una makin menangis mendengarnya, ia tak pernah berpikir seperti itu.
Bian merasa bersalah, kenapa ia jadi berbicara seperti itu. Tapi hal seperti itu bisa saja terjadi, mengingat mereka telah lama terpisah.
###
Hari sudah tengah malam, Una belum bisa tidur. Berkali-kali memejamkan matanya tapi hati dan pikirannya tetap berkelana.
'Ayah, Bunda... Una harap kalian baik-baik saja. Una masih berharap bertemu dengan kalian. Una ingin memeluk kalian. Una disini baik-baik saja. Una percaya kita akan bertemu kembali. Una percaya itu..' Wanita itu memegangi dadanya yang terasa begitu sesak. Rasa kesal dan sedih menjadi satu.
"Tidur, ini sudah malam. Kalau kamu kurang tidur bagaimana mau mengingat orang tuamu." Bian terbangun karena mendengar isakan tangis Una. Walaupun begitu pelan tapi masih terdengar jelas di telinganya.
"Aku janji, kita akan bersama-sama mencari mereka." Bian mengusap air mata yang sudah berlinang. Rasanya ia ingin segera menemukan orang tua istrinya itu. Agar Una tidak menangis lagi.
"Tidur ya sayang." Bujuk Bian memeluk Una.
Pagi menjelang, sinar matahari masuk melalui celah menerangi kamar itu.
"Sayang..." Panggil Bian dengan suara serak menepuk-nepuk sampingnya.
Bian masih sangat mengantuk, dengan susah payah ia membuka matanya dan tak menemukan Una di sampingnya.
"Sayang..." Bian pun bangkit mencari Una di kamar mandi. Tapi istrinya itu tak ada disana.
"Sayang... kamu dimana?" Bian mulai khawatir, ia pun bergegas keluar kamar.
"Una Una..." Bian terus memanggil Una, wajahnya seperti kehilangan orang.
"Pa, Ma... lihat Una?" Tanya pada kedua orang tuanya yang sedang duduk di ruang tv.
"Una... mana Una ya? sepertinya tadi pergi bawa koper." Mama memasang wajah serius.
__ADS_1
"Apa? Una kemana Ma?" Bian tampak panik.
"Nggak tahu. Apa kalian bertengkar?" Tanya Papa dengan wajah serius juga.
Bian tampak bingung, ia mengingat tadi malam Una terus menangis. Apa wanita itu marah karena perkataannya tentang siapkan mental.
"Kamu mau kemana?" Tanya Mama yang melihat Bian berjalan ke arah tangga.
"Ambil kunci mobil. Aku akan mencari Una." Jawab Bian.
Mama dan Papa malah tertawa. Pagi-pagi mereka sudah melihat wajah khawatir sang anak.
"Mama... Una dimana?" Tanya Bian yang menyadari Kedua orang tuanya sedang mengerjai dirinya.
"Papa, Mama, Mas Bian... sarapannya sudah siap." Ucap seorang wanita yang tiba-tiba muncul.
"Sayang..." Melihat Una, Bian langsung menghampiri dan memeluknya. Ia sangat takut Una pergi meninggalkannya.
"Kamu kemana? aku bangun kamu nggak ada di sampingku."
"Aku-aku buat sarapan Mas." Ucap Una setelah pelukan Bian melonggar.
"Kamu buat sarapan Nasi goreng?" Bian memastikan.
Una mengangguk.
"Ayo kita sarapan, aku merindukan nasi gorengmu itu." Bian merangkul Una.
"Apa tak merindukanku?"
"Untuk apa merindukanmu kalau kamu selalu ada di sampingku."
"Pagi-pagi sudah drama.." Dengus Mama melihat keromatisan sang anak.
"Pa, ibu suri itu sepertinya kurang dibelai." Ledek Bian.
"Anak ini..." Mama memelototi Bian yang malah cengegesan. Wanita paruh baya itu hanya dapat menghela nafas, bisanya ia punya anak rada-rada kurang ajar.
.
__ADS_1
.
.