
"Jadi kak tinggal di sini?" Tanya Adit sambil menepikan mobilnya di depan sebuah kos-an.
"Iya, makasih ya sudah diantar." Setelah membuka sabuk pengaman, Ziva pun segera turun.
Melihat Ziva keluar dari mobilnya, Adit pun bergegas ikut turun juga.
"Kakak..." Panggil Adit. "A-aku boleh-" Adit berniat meminta nomor ponsel Ziva. Sebenarnya ia bisa bertanya pada kak Unanya, tapi pasti kakaknya itu akan bertanya macam-macam. Demi menjadi pria sejati, ia akan memintanya langsung pada orangnya.
"Kamu dari mana?" Seorang pria menghampiri Ziva.
Adit tak jadi melanjutkan ucapannya, ia bingung melihat pria itu tersenyum pada Ziva, begitupun sebaliknya.
"Aku tadi dari rumah teman. Diantar adiknya temanku." Ziva menjelaskan pada pria tersebut.
"Oh iya Adit, ini pacar kakak." Ziva memperkenalkan pria disampingnya.
"Oh.." Adit terkejut bukan main tapi berusaha menutupinya. Ia tak mengira Ziva sudah mempunyai kekasih. Dengan terpaksa ia mengulurkan tangan pada pria itu.
"Baiklah kak... aku pergi dulu." Pamit Adit lalu bergegas pergi, ia juga menganggukkan kepala pada pria itu.
"Iya, hati-hati ya."
Adit mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Patah sudah hatinya. Setiap wanita yang ditaksirnya pasti pasangan orang.
Dulu ia sempat naksir pada Una yang ternyata istrinya Bian, bahkan menjadi kakak kandungnya. Sekarang naksir sama teman kakaknya dan ternyata sudah punya pacar.
'Sepertinya aku harus fokus pada pendidikanku sajalah.'
###
__ADS_1
"Mas Bianku sayang..." Panggil Una manja.
"Hmm." Jawab Bian memeluk tubuh polos di sampingnya.
"Mas.."
"Iya sayang." Bian menatap wajah cantik itu. Perlahan mengusap sisa keringat karena pergulatan panas mereka beberapa saat yang lalu.
"Mas punya teman?" Tanya Una sambil menyentuh bidang dada pria itu.
"Hmm... banyak." Jawab Bian.
"Serius?" Mata Una berbinar.
Bian menggangguk.
"Kita kenali sama Luna. Pria itu harus tampan, mapan, tajir, baik hati, bertanggung jawab, penuh kasih sayang, perhatian, sabar, pekerja keras, setia..." Una menyebutkan semua kriteria pria yang banyak dihalukan kaum hawa. Pokoknya paket komplitlah.
"Biarkan saja adikmu itu. Nanti juga ada yang dekati dia. Biarkan saja dia mau melakukan apa. Katanya dia mau kerja, kan?"
Una mengangguk, benar apa yang dikatakan Bian. Biarkan saja Luna fokus bekerja. Jika nanti dijodohkan dan Luna tidak menyukainya. Adiknya itu pasti akan berniat keluar negeri lagi.
"Kalau begitu teman Mas Bian kenali saja sama Ziva."
"Sayang... kamu mau jadi mak comblang sekarang? sudahlah biarkan saja mereka."
"Tapi aku takut Ziva kenal dengan pria jahat." Sebagai teman, Una selalu berharap yang terbaik untuk Ziva.
"Tidak."
__ADS_1
"Kok Mas tahu?"
"Selama ini aku selalu mengutus bodyguard untuk mengawasinya, aku tahu kamu pasti akan sedih jika temanmu itu kenapa-kenapa." Jelas Bian perlahan.
"Terus?"
"Nggak tahu gimana ceritanya. Tiba-tiba yang kudengar mereka dekat."
"Oh pantaslah... dia selalu menolak mas Dino." Kini Una tahu alasan temannya tak mau dicomblangi dengan Dino.
Bian menatap Una, tah kenapa mendengar nama Dino, rasa kesalnya muncul. Ia pun segera menyerang Una. Menyerang bibir merah yang sangat menggoda.
"Mas... aku nggak bisa nafas." Una ngosh-ngoshan, Bian memberikan sensasi yang membuatnya melayang bahkan kesulitan bernafas.
"Aku menginginkanmu sayang.." Gairah mata pria itu sudah bergejolak.
"Tadikan sudah Mas. 2 kali lho." Una mengingatkan dengan wajah malu. Bian selalu bersemangat.
"Kurang... kita lakukan 10 kali lagi." Seringai itu muncul di wajah tampan nan rupawan.
"Apa 10 kali???"
.
.
.
.
__ADS_1
.
.