
"Imutnya foto kamu dulu." Una melihat-lihat album foto yang ditunjukkan Adit di kamarnya.
Tadi setelah sarapan Una merasa bosan, Bian hanya meneleponnya sebentar. Jadi Una datang ke rumah Bunda. Lalu Adit menunjukkan foto-foto masa kecilnya.
Una tersenyum melihat foto adiknya itu saat masih kecil, begitu sangat menggemaskan duduk di pangkuan Bunda. Luna juga duduk di pangkuan Ayah.
"Bunda nggak pernah cerita tentang kakak. Jadi aku nggak pernah tahu kalau aku punya kakak perempuan lagi." Cerita Adit pelan.
"Kak, selama ini Bunda sering menangis. Aku sering mengintip Bunda menangis saat melihat bingkai foto." Adit memberitahu.
Una melihat adiknya itu sejenak.
"Karena penasaran, waktu kecil aku diam-diam masuk kamar dan melihat bingkai foto itu. Disana ada foto anak perempuan memakai seragam SD."
"Sekarang aku baru tahu, ternyata anak perempuan berseragam SD itu ternyata kak Una."
Una mengusap sudut matanya, mendengar cerita Adit ia jadi sedih. Pasti Bunda melewati hari-hari sulit selama ini.
"Kamu kenapa bahas lagi sih."
Adit jadi tertawa, Kakaknya itu sudah berlinang air mata saja.
"Kak, maafin sikap kak Lun. Ia terlalu terobsesi sama bang Bian. Tapi aku yakin lama-lama kak Lun sadar jika sikapnya salah."
"Iya, kakak ngerti. Kamu nggak pergi sekolah?"
Adit melirik jam dinding sudah pukul 8 pagi. Ia sudah terlambat ke sekolah. Ia tadi begitu bersemangat menunjukkan foto-foto masa kecilnya hingga lupa waktu.
"Aku berangkat ya kak." Adit menyalami Una lalu segera berlalu pergi.
Una membereskan album foto itu. Meletakkan kembali pada raknya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan di kamar Adit? apa kau sedang mencuri?" Luna melipat tangan di dada melihat Una di kamar Adit. Ia seperti sedang menangkap basah pencuri.
"Adit menunjukkan foto masa kecilnya padaku." Jawab Una akan keluar kamar.
"Bohong. Kau pasti mengambil sesuatu, kan?"
"Apa yang mau ku ambil? Luna... tolong sopan sedikit." Una menaikkan nada bicaranya.
"Jangan karena kau lahir lebih dulu dari rahim Bunda, aku harus hormat padamu." Cibir Luna dengan nada menghina.
"Kau suka atau tidak suka. Aku ini kakakmu dan kita sama-sama lahir dari rahim Bunda." Una malas berdebat, setelah mengatakan itu ia pun keluar kamar.
"Apa kau tak bisa mengalah padaku?"
Una menghentikan langkahnya.
"Aku yang lebih dahulu mengenal Bian. Dan kau muncul begitu saja dalam kehidupan Bian. Kau merebut Bian dariku. Apa kau tak bisa melepaskannya? aku sangat mencintainya, apa kau tahu itu?" Dengan nada bergetar Luna mengatakan itu.
"Luna, kau cuma terobsesi padanya. Seharusnya kau bisa melihat aku dan Bian saling mencintai. Apa kau tak merasa bersalah?"
Luna mengepal tangannya, ia kesal mendengar wanita itu dengan bangganya mengatakan jika mereka saling mencintai.
"Lepaskan Bian. Sebagai kakak kau harus melepaskannya untukku."
"Aku tak mau." Una pun akan berlalu pergi.
Luna segera mengejarnya, ia menjambak rambut Una.
"Lepaskan Bian. Aku akan memberikan semuanya."
"Lupakan itu."
__ADS_1
Luna makin tak senang, ia menjambak. Tapi Una juga kembali menjambaknya. Mereka pun terlibat aksi jambak-jambakan.
Luna yang sudah emosi menidih tubuh Una, lalu kedua tangannya mencekik leher.
"Lepaskan aku. Apa kau tidak waras?" Una merasa Luna mulai aneh.
"Melepaskanmu? kau harus melepaskan Bian."
Luna makin mencekik Una, membuat Una kesulitan untuk bernafas. Ia mencoba menjauhkan tangan Luna dari lehernya, tapi wanita kesetanan itu tenanganya terlalu kuat. Tatapan matanya juga begitu penuh aura permusuhan. Terlihat sangat membencinya.
"Lepaskan aku. Bunda tolong..." Teriak Una dengan sekuat tenaga mencoba melepas tangan Luna dari lehernya. Begitu lepas, ia pun segera bangkit untuk meminta pertolongan. Luna seperti sedang kerasukan.
Una bergegas menuruni tangga, Luna juga mengejarnya.
"Tamatlah riwayatmu." Dengan senyum menakutkan Luna mendorong tubuh Una.
"Una..." Teriak Bunda yang melihat Una jatuh terguling-guling di tangga.
"Luna... apa yang kau lakukan pada cucuku?" Bentak nenek yang juga melihat kejadian itu.
Luna terdiam melihat Una berada di bawah tangga dengan darah bercucuran di kepalanya.
"Una, kamu nggak apa kan Nak?" Bunda memegang kepala yang sudah berdarah. Anaknya itu diam saja.
"Una... bangun Nak."
.
.
.
__ADS_1