TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 79


__ADS_3

Dengan raut wajah masam dan tangan menggepal, Luna menatap pintu rumah yang sudah tertutup. Ia sangat kesal tante Mely mengusirnya begitu saja. Mengingat wanita itu dulu menyayanginya.


Luna pun membalikkan badan akan kembali ke rumahnya saja.


Bugh...


"Kalau jalan itu pake mata." Hardik Luna saat tubuh seorang pria bernabrak dirinya. Membuatnya terjatuh di teras.


Luna mendongak untuk melihat siapa pria yang berani menabraknya.


"Jalan itu pakai kaki." Jawab pria itu dengan nada datar, sama seperti wajahnya yang datar.


"Kau." Luna berdiri dan menunjuk pria itu.


"Kenapa sifatmu begitu angkuh?" Cibir pria itu.


"Bukan urusanmu." Jawab Luna dan kembali melangkahkan kaki.


"Gunakan otakmu."


"Apa kau bilang?" Mendengar itu Luna langsung berbalik dan melihat punggung pria itu.


"Kau itu pintar. Seharusnya kau bisa melihat pria beristri itu sangat mencintai istrinya. Kenapa kau masih saja menjadi orang bodoh? kapan otakmu akan berguna?"


Luna makin emosi mendengar perkataan dengan nada merendahkan dari pria itu. Matanya menatap tak senang pada pemilik punggung yang makin lama menjauh.


"Wawan..." Pekik Luna sambil melempar sendalnya. Sendal itu tepat mengenai punggung pria itu.


"Luna..." Wan meninggikan suaranya dan berbalik. Wanita itu berlari tanpa sandal memasuki rumah.


'Sabar sabar..'


###


"Bunda... Bunda..." Luna keluar kamar setelah membersihkan dirinya.


"Ada apa? kenapa berteriak-teriak?" Suara Luna membuat kepalanya pusing.

__ADS_1


"Aku mau menikah dengan Bian." Ucapnya segera.


"Nak, dia suami kakakmu. Kamu-"


"Nggak Bun, dia masih peduli padaku. Ia baru bertemu dengan wanita itu, sedang denganku ia begitu lama. Aku tahu ia belum sadar kalau menyukaiku."


Bunda menatap horor sang putri. Tah dapat pikiran dari mana, hingga Luna bisa berasumsi seperti itu.


"Kamu lupakan dia ya." Mohon Bunda.


Luna menggeleng cepat. Ia tak akan melepaskan Bian. Terlebih lagi semalam Bian bersikap lembut padanya.


"Dengarkan Bunda. Bian menikahi kakakmu karena ia sangat mencintainya."


Perasaan Luna tak senang mendengar penuturan Bunda.


"Sebagai kakak dia harus mengalah pada adiknya kan Bun. Wanita itu tak boleh egois. Apa wanita itu mau melihatku mati demi mempertahankan Bian?" Ada saja jawaban Luna.


"Luna..." Bunda memijat pelipisnya, ia tak mengerti dengan jalan pikiran anaknya satu ini.


"Kamu yang harus mengalah-"


"Una itu kakakmu. Panggil ia kakak, jangan memanggilnya seperti itu lagi." Nada bicara Bunda mulai tak senang, Luna selalu seenaknya.


"Atau jadikan aku istri kedua. Aku tak keberatan." Luna sudah merencanakan seribu satu cara agar Bian dengannya.


"Lama-lama kamu kalau bicara tidak pakai otak." Setelah mengatakan itu, Bunda bangkit dan hendak ke dapur.


"Una.." Bunda melihat Una berdiri memegang mangkuk.


"Ini dari Mama, Bun." Jawabnya dengan mata sendu melihat Luna.


"Kau baru bangun jam segini? istri seperti apa kau?"


"Luna." Ucap Bunda.


"Karena kau sudah disini, aku akan katakan langsung. Bercerailah dari Bian. Biar aku menikah dengannya. Kau tak cocok dengannya." Luna menatap Una dari atas hingga ke bawah dengan wajah jijik.

__ADS_1


Una menghela nafas pelan. "Aku tak akan menceraikan Bian begitupun Bian. Mau kau yang lebih dahulu mengenalnya. Itu adalah masalahmu. Kenapa kau tak bisa menarik perhatiannya?"


Wajah Luna memerah mendengar ucapan Una. Seolah ia kalah saing.


"Kau..." Luna maju dan menunjuk wajah Una, ia hampir mengenai hidungnya. Una sama sekali tak berkedip dan itu membuatnya kesal.


"Tinggalkan Bian."


"Seharusnya aku yang mengatakan itu."


"Kau harus mengalah pada adikmu."


"Apa kau pernah menganggapku seorang kakak?"


"Aku membencimu.."


"Apa kau kira aku menyukaimu hanya karena sama-sama anak Bunda?"


Luna benar-benar marah mendengar semua jawaban Una. Ia tak menyangka wanita itu pandai bersilat lidah.


"Dengar, Bian Arkana itu suamiku dan apa kau tahu ada banyak benihnya dalam perutku?" Luna menunjuk perut ratanya. Sebenarnya ia malu mengatakan itu, tapi ia tak mau berbagi pria yang dicintainya. Walaupun itu dengan adiknya. Jadi ia harus mempertahankan pria itu.


"Kau-" Seperti biasa, Luna menaikkan tangannya. Tapi ditahan Una.


"Sebaiknya kau lupakan suamiku. Apa kau tak malu jika nanti anak ini tahu bahwa kau berusaha memisahkan orangtuanya. Tapi..."


Una menepis kasar tangan Luna. "Tapi selalu gagal." Timpal Una dengan senyum mengejeknya.


"Ayo Bun. Aku lapar, aku mau makan masakan Bunda."


Wanita paruh baya itu tampak kaget. Dari tadi ia hanya memikirkan perkataan Una tentang anak.


'Cucuku dalam proses.'


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2