
"Tidak mungkin!!!" Dari dalam kamar Luna berteriak histeris. Ia tak terima dengan satu fakta yang dikatakan nenek.
"Nenek pembohong!" Luna berjongkok sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Kamarnya sudah seperti kapal pecah.
"Aku harus tanya langsung pada Ayah dan Bunda." Ia bangkit mengambil tas dan segera bergegas keluar.
Sampai rumah sakit, ia bertanya kamar dimana Una dirawat. Ayah dan Bundanya pasti ada disana.
Setelah mendapat informasi, ia pun setengah berlari menuju tempat yang dituju. Lorong ruangan VVIP itu sangat sunyi.
Sampai di depan kamar Una, ia menghela nafas lebih dahulu. Ia membuka pintu perlahan. Matanya langsung tertuju pada pasangan yang sedang berciuman mesra. Ia kesal mendapat pemandangan seperti itu, yang merusak mata sucinya saja.
'Mereka saling mencintai.'
Luna melihat perlakuan Bian yang begitu lembut pada Una. Tak tahan melihat itu, Luna pun segera pergi meninggalkan rumah sakit. Niatnya kemari bertemu Ayah dan Bunda, malah di suguhi live kissing.
Luna kembali ke rumah. Ia segera menuju kamar Ayah dan Bunda.
"Ayah, Bunda..." Dengan suara bergetar ia mengetok pintu.
"Ada apa?" Tanya Ayah memasang wajah dingin saat membuka pintu.
"Ayah maafkan aku. Tadi aku begitu emosi-"
"Seharusnya kamu minta maaf pada kakakmu." Ucap Ayah sambil menghela nafas.
"Ayah, apa benar kata nenek kalau aku bukan putri kandung kalian?" Tanya Luna dengan mata berkaca-kaca.
"Kita bicara di ruang tamu saja. Bundamu mau istirahat."
Luna duduk di ruang tamu dengan Ayah di depannya.
__ADS_1
"Kamu tetaplah anak kami-"
"Aku anak kandung kalian atau bukan?" Sela Luna yang tak sabaran.
"Kamu tetap anak kami. Walau-"
"Walau aku bukan darah daging kalian." Luna tak dapat membendung air matanya. Dunianya terasa hancur.
"Kamu tetaplah anak kami." Ayah pun memeluk sang putri erat. Walau bukan anak kandungnya, selama ini ia begitu menyayangi Luna.
"Tadi Bian sudah menelpon jika kakakmu sudah sadar, dan dia baik-baik saja. Ayah minta kamu minta maaf padanya."
Luna hanya terisak di pelukan Ayah. Ia tak tahu harus bagaimana sekarang.
"Nak dengar, apapun yang terjadi kamu tetap anak Ayah dan Bunda. Kamu bagian dari keluarga ini. Kamu sangat tahu kalau kami sangat menyayangimu." Ayah mengelus kepala Luna. Tatapan lembut Ayah membuat air matanya makin berlinang.
Luna kembali ke kamar setelah dinasehati sang Ayah. Kamarnya sudah rapi karena telah dibersihkan pelayan rumah.
Selama ini ia mengira ia bagian dari keluarga kaya raya dan sangat terpandang, tapi ternyata ia hanya orang lain yang menumpang hidup.
Luna memegangi dadanya merasakan perasaannya yang begitu sesak. Ia merasa ini adalah mimpi, tapi inilah kenyataannya.
Ia juga tertawa mengingat bagaimana ia memperlakukan Una. Menghina Una yang mantan seorang wanita malam. Saat Una ternyata anak kandung orang tuanya, ia juga meragukannya. Menganggap Una ingin menipu mereka. Dan ternyata sekarang, ia yang tak punya ikatan apapun dengan keluarga ini.
'Bahkan aku mencelakai anak mereka.' Luna mulai frustasi, Ayah tetap menganggap ia adalah putrinya. Setelah apa yang sudah dilakukan pada anak kandung mereka. Rasa malu mulai membayanginya.
'Aku nggak boleh tetap disini.' Ia menutup wajah dengan kedua tangannya sambil menangisi kenyataan hidup ini.
###
Una tersenyum senang saat Bunda datang dan menyuapi dirinya.
__ADS_1
"Sayang, kamu mau ikan ini?" Tanya Mama yang membuka rantang yang dibawa dari rumah.
Una mengangguk. Mama pun meletakkan ikan di mangkuk yang dipegang Bunda.
"Cepat makan yang banyak. Mertua kamu sudah capek masak."
"Iya Bunda."
Una menerima suapan demi suapan. Bunda yang menyuapi dan Mama yang memberinya minum. Ia begitu terharu pada perhatian kedua paruh baya tersebut.
"Bunda, Mama... terima kasih karena sudah menyayangiku." Ucap Una dengan nada bergetar.
Bunda pun memeluk erat sang anak. Lalu bergantian Mama juga.
"Mas Bianku mau kemana?" Tanya Una saat melihat Bian akan keluar.
"Bian, mau pulang sebentar untuk ganti baju." Ucap Mama memberitahu.
"Pulang?" Wajah yang tadi tersenyum kini mulai berkaca-kaca.
"Kusuruh saja, Wan mengambil baju ganti." Melihat ekspresi Una, pria itu tak tega meninggalkannya. Meskipun ada kedua orang tua mereka. Una tetap mau Bian ada disisinya.
Perban sudah dilepas. Kepala Una baik-baik saja. Dokter pun mengizinkan Una bisa pulang sore ini.
Keluarga mereka tampak bahagia mendengarnya.
"Bunda... Luna mana?"
.
.
__ADS_1
.