TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 61


__ADS_3

"Bunda sama Ayah mau kemana?" Tanya Luna yang sedang menonton tv. Kedua orang tuanya diam saja, membuatnya mengekor dari belakang.


"Kamu mau ngapain ngikuti kami?" Tanya Bunda saat akan mengetuk pintu tetangga sebelah.


"Bunda sama Ayah mau apa ke rumah Bian?" Tanya Luna begitu penasaran.


"Kami ada urusan. Sudah kamu pulang sana." Ucap Ayah.


"Aku mau-" Luna menunduk melihat tatapan Ayahnya. " Baiklah, aku akan pulang."


Luna kembali berjalan ke rumahnya. Saat ia akan membuka pintu ia melihat kedua orang tuanya masuk ke rumah Bian.


'Mau apa Ayah sama Bunda? apa jangan-jangan mereka mau mengatur pesta pernikahanku dengan Bian.' Luna menutup mulutnya tak percaya. Bunda ternyata menepati janjinya.


'Baiklah. Aku akan duduk manis menunggu kabar bahagia.'


###


Sementara di ruang tamu sebelah.


"Mel, U-una mana?" Tanya Bunda melihat sekelilingnya yang sepi.


"Menantuku dan Bian jalan-jalan ke pantai. Sebentar lagi akan pulang." Jawab Mely melihat jam dinding yang sudah pukul 7 malam.


'Lihat saja jika Bian tidak membawa Una pulang, akan ku jemput mereka kesana.' Mely meremas tangannya.


"Oh ya Mel. Apa Bian telah menemukan orang tua Una?" Rosa menahan matanya yang sudah berkaca-kaca.

__ADS_1


"Belum. Kenapa begitu sulit ya, Pa?" Mama menatap suaminya.


"Bian sudah menyewa orang untuk mencari tahu. Tapi tak mendapat informasi apapun." Papa juga membantu Bian mencari informasi tentang menantunya itu.


"Una... U-una itu anakku." Ungkap Rosa, air matanya pun tak dapat dibendung lagi.


"Apa maksudmu?" Tanya Mely bingung. Rosa tiba-tiba mengatakan Una anaknya.


Reno pun menceritakan awal mulanya. Rosa hanya menangis senggugukan meremas lengan suaminya. Ia sudah tak sanggup bercerita masa lalu itu.


"Astaga, Ros. Kenapa setega itu!" Mely menutup wajahnya tak percaya mendengar cerita sedih itu.


"A-aku yang salah. Aku memang salah. Jika aku tidak meninggalkannya, Una pasti akan tetap bersamaku. Aku-" Rosa menangis terisak sambil menepuk-nepuk dada yang terasa begitu menyesakkan. Reno pun menenangkan istrinya.


"Kalian bilang Una meninggal dalam kebakaran di panti itu. Tapi Una terpisah dari orang tuanya dan terdampar di pantai?" Papa juga mulai bingung.


"Ia pasti selamat dari kebakaran itu. Aku yakin Una putriku. Aku sangat yakin dia selamat. Una anakku, Mas. Aku selalu ingin memeluknya." Rosa menangis histeris.


"Kami ingin melakukan tes DNA untuk memastikan kembali." Reno mengutarakan rencananya.


Papa dan Mama pun mengangguk.


"Tapi sebelum hasilnya keluar, kalian jangan katakan jika kalian adalah orang tuanya. Aku nggak mau dia berharap lebih dan saat hasilnya ternyata tidak sesuai, Una jadi sedih. Aku nggak mau melihatnya menangis." Mama menghapus air mata yang tiba-tiba jatuh. Ia begitu sangat menyayangi menantunya itu.


"Tapi aku yakin. Una putriku, Mel." Rosa tetap mengikuti kata hati.


"Aku mengerti perasaanmu Ros. Tapi, kita harus pastikan dulu, ya." Mely menepuk pundak Rosa.

__ADS_1


"Kami pulang dulu. Besok Mas Reno akan ke rumah sakit jam 9." Rosa sudah mulai agak tenang.


"Baiklah, besok aku dan Una akan datang jam 9. Kamu yang sabar ya." Mama memeluk Rosa.


"Kami pulang." Ucap Bian memasuki rumah sambil merangkul Una.


Deg


'Ayah.' Hati Una berdesir melihat pria paruh baya itu yang juga melihat dirinya.


Reno menatap wanita yang sedang di rangkul Bian. Menatap dengan perasaan yang berkecambuk.


"Una sayang, Ayah pulang."


"Una... Ayah bawa boneka lho.."


"Mana anak Ayah, ya? Ayah bawa susu untuk kamu nih.."


"Ayah sangat sayang sama Una.."


"Ayah akan peluk kamu erat."


Kenangan masa-masa itu berputar-putar di kepala Reno. Pria paruh baya itu akan melangkahkan kaki menghampiri Una.


"Bian...!!!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2