TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 54


__ADS_3

"Bunda..." Rengek Luna mengejar sang Bunda, ia memeluk Bunda dari belakang.


"Bun, kapan aku akan menikah dengan Bian?" Selalu pertanyaan Luna hanya itu.


Wanita paruh baya itu hanya mampu menghela nafas. "Coba kamu mulai lupakan Bian. Ada banyak pria di dunia ini, Luna. Jangan jadi perebut suami orang."


"Bun, bukan aku yang merebut Bian,tapi wanita itu. Dia yang merebut Bian dariku. Bian tak pernah melihatku gara-gara dia Bunda. Apa kurangnya aku dari wanita itu?" Air mata Luna kembali berjatuhan. Ia kecewa, ia lebih dahulu mengenal pria itu dari pada Una.


"Luna, kamu sayang sama Bunda nggak?" Tanya Bunda membalikkan badan, menatap sendu sang anak.


"Kenapa Bunda bertanya begitu? aku sangat menyayangi Bunda." Jawabnya jujur.


"Kalau kamu sayang sama Bunda, lupakan Bian." Pinta Bunda dengan suara lirih.


"Bunda... apa aku salah menginginkan hidup bahagia bersama Bian?"


"Kamu sudah tahu jawabannya, Luna." Rosa segera berlalu, lama-lama ia bisa pusing. Di kepala Luna hanya ada Bian, Bian, dan Bian saja.


###


'Itu Ayahkan. Aku yakin itu Ayah. Kenapa sulit sekali mengingatnya.' Una kembali mencoba mengingat kenangan samar itu.


'Kalau itu benar Ayah, berarti Bunda Rosa benar Bundaku. Luna dan Adit adalah adikku?'


Una menghapus air matanya saat mengingat ucapan Bunda yang mengatakan hanya mempunyai 2 orang anak saja, yakni Luna dan Adit.


'Apa aku yang terlalu berharap bisa bertemu Ayah dan Bunda? sepertinya aku salah orang lagi.'

__ADS_1


Una menjatuhkan dirinya di ranjang. Kepalanya mulai pusing memaksakan mengingat kejadian berpuluh-puluh tahun yang lalu.


'Aku akan tanya Mama saja.' Una pun bangkit lalu menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Jika ia keluar seperti ini, Mama pasti akan terus menanyainya.


Di dapur terlihat seorang wanita paruh baya membuat kue. Mencetak adonan dengan cetakan berbagai bentuk, lalu memasukkan ke oven.


"Mama, buat apa? kenapa nggak ngajak Una, biar Una bantu Mama."


"Sudah nggak apa. Kamu tinggal makan saja. Sebentar lagi sudah mau matang." Mama senyum melihat oven. Matanya berbinar, sebentar lagi kuenya matang.


"Kamu dari mana?" Mama melihat Una. Mata Una nampak bengkak.


"Ke tempat Bunda." Ucap Una sambil menenggak minumannya.


"Apa?" Pekik Mama, membuat Una hampir tersedak.


Mama mengelus punggung Una. "Maaf sayang. Ngapain kamu kesana? ada Luna di sana, kan?" Mama sudah menebak, Luna pasti sudah membuat menantunya menangis.


'Pasti Luna berkata kasar pada menantuku. Lihat saja akan ku sumbel mulutnya itu.'


"Oh iya, Mama sudah lama tinggal di rumah ini?" Tanya Una berwajah serius.


"Lama lah sayang. Bian masih SD ya? kalau nggak salah sekitar 17-18 tahunan gitulah." Mama cukup sulit mengingat. Waktu begitu cepat berlalu.


"Hmm... Jadi Mama sama Bunda sebelah, siapa dulu yang tinggal di sini?"


"Hmm... Bunda sebelah. Karena Mama ingat waktu kami baru pindah, si Luna itu selalu datang ke rumah membawa makanan untuk Bian."

__ADS_1


Una mengangguk. "Berarti Cinta mati Luna sama mas Bian?"


"Itu bukan cinta, hanya terlalu terobsesi sama Bian."


"Terus kenapa mas Bian menolak Luna?" Una juga ingin tahu alasannya.


"Entahlah, ia nggak punya perasaan pada Luna. Dulu Bian pernah mengenalkan pacarnya dan si Luna itu yang membuat mereka putus. Ia bilang dia hamil anak Bian." Mama mulai bergosip.


Una cuma tercengang. Segitu terobsesinya Luna pada Bian.


"Oh ya Ma, Jadi Papa sama Ayahnya Luna teman sekolah atau teman kuliah?" Una kembali menyelidiki.


"Bukan... Papa kenal sama Reno sesudah kami tinggal di sini."


Deg


"Reno siapa Bun?" Una masih memastikan.


"Reno, Ayahnya Luna."


Jantung Una mulai berdetak tak stabil. Sangat kencang hingga seperti akan keluar dari tempatnya.


'Mama tinggal di sini sudah 17 tahunan. Bunda dan ayah sudah tinggal disini sebelum Mama. Kenapa mereka tidak mencariku?' Tangan Una mulai gemetaran, hatinya seperti tercabik dengan pemikirannya.


'Apa mereka membuangku?'


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2