
"Kalau cucuku sampai kenapa-kenapa, aku tak akan memaafkanmu." Tunjuk Nenek geram pada Luna.
"Seharusnya saat itu kau tidak usah memungut anak seperti itu."
"Sudahlah Ma... telepon ambulan sekarang." Rosa yang menangis, masih mencoba membangunkan Una.
Luna diam masih mencerna ucapan nenek. Suara tangisan Bunda seolah tak terdengar lagi.
###
Bunda menyandar di dada Ayah, tubuhnya gemetaran. Ia sangat takut Una kenapa-kenapa. Baru juga mereka dipertemukan, ia tidak rela jika harus berpisah lagi.
"Mas Reno. Una... Una..." Lirih Rosa menatap pintu ruang ICU rumah sakit.
"Tenanglah, Una pasti baik-baik saja. Kita harus terus mendoakannya." Ayah mengelus-elus pundak Bunda, untuk menenangkan wanita itu.
Nenek ikut duduk di samping Rosa, ia menggenggam tangan menantunya itu.
"Ma, aku takut." Air mata Rosa kembali bercucuran.
"Anakmu pasti baik-baik saja. Dia anak yang kuat." Nenek mencoba menenangkan Rosa yang tampak lemah.
"Bunda... bagaimana keadaan kak Una. Kenapa ia bisa jatuh?" Adit yang saat di sekolah mendapat telepon, segera meminta izin pulang. Ia begitu kaget mendengar kabar tersebut.
"Ia didorong Luna." Jelas Nenek dengan nada tidak senang.
"Apa?" Adit tak percaya Luna bisa berbuat seperti itu. Apa mereka bertengkar hanya untuk memperebutkan Bian. Tapi ia juga tidak melihat Luna ada di rumah sakit.
__ADS_1
"Pa... gimana menantu kita? Bian mana pun, kenapa belum sampai juga?" Mama juga mulai gelisah, Una terlalu lama berada di dalam.
Dokter pun keluar, mereka segera menanyakan keadaan Una. Mereka bernafas lega saat dokter mengatakan Una baik-baik saja.
Bunda menutup mulutnya melihat Una setelah dipindahkan ke ruang pasien. Perban terbalut di kepalanya dan tangan yang terpasang jarum infus.
"Una..." Panggil Bunda lirih, ia tak sanggup melihat Una seperti itu.
"Kenapa ia belum sadar?" Tanya Nenek yang juga sedih.
"Masih pengaruh obat. Ayo kita pulang dulu. Nanti jika sudah sadar, kalian kabari kami." Ucap kakek mengajak istrinya pulang.
"Ayo, aku mau memarahi anak bandal itu." Ucap Nenek yang masih geram.
"Ma, sudahlah-" Bunda mau mencegah Mamanya.
"Cepat atau lambat Luna juga akan tahu, kalau kalian bukan orang tua kandungnya. Mama akan memberitahu semua padanya, agar ia bisa segera berpikir dan merubah sifatnya." Nenek menghela nafas, selama ini ia menyayangi Luna. Menganggap anak itu seperti cucunya sendiri. Tapi ia kesal atas kejadian ini.
"Maksud nenek, kak Lun bukan anak kandung Ayah sama Bunda?" Adit pun memastikan kembali.
"Iya, mereka memungut Luna di jalan."
###
"Apa maksud ucapan Nenek tadi?" Begitu melihat kedua orang tua itu pulang, Luna pun segera bertanya.
Nenek menatapnya sinis, bukannya seharusnya Luna bersimpati sedikit menanyakan keadaan Una. Luna memang tidak punya hati.
__ADS_1
"Apa kau tak mengerti?" Nenek malah balik bertanya.
"Katakan dengan jelas Nenek." Paksa Luna.
"Rosa dan Reno bukan orang tua kandungmu.."
Nenek pun menceritakan semua, bahwa pada saat itu Rosa dan Reno masih berduka atas kepergian Una. Mereka selalu menyempatkan waktu untuk mengunjungi makam sang anak.
Setelah berusaha ikhlas dan berniat kembali pulang. Saat itu jalanan macet total. Ternyata ada kecelakaan yang menewaskan sepasang suami istri. Pakaiannya lusuh, sepertinya mereka pemulung.
Tak jauh dari jasad sepasang suami istri itu seorang anak perempuan berusia 2 tahunan tampak bingung dengan keadaan.
Rosa yang saat itu sedang berada di mobil melihat anak kecil itu. Ia jadi teringat akan anaknya.
Singkat cerita, Rosa dan Reno mengambil alih merawat anak itu. Lantaran bocah kecil itu akan dibawa ke panti karena sudah tidak mempunyai sanak keluarga lagi.
Setelah melalui proses adopsi, Reno dan Rosa membawa bocah itu tinggal bersama mereka. Mereka bahkan menamai nama yang hampir sama. Una dan Luna.
Luna di asuh dengan penuh kasih sayang, layaknya anak sendiri. Rasa sedih dan kehilangan mulai terobati dengan kehadiran Luna. Ya, walau Rosa masih sering merindukan Una dalam diamnya.
"Nenek bohong." Pekik Luna tak terima mendengar cerita itu. Ia tak percaya jika orang tua yang ia sayangi ternyata bukan orang tua kandungnya.
"Tanyakan langsung pada Bundamu." Ucap Nenek.
"Nenek..." Air mata Luna sudah berlinang.
.
__ADS_1
.
.