
Di pagi yang cerah, Una mengantar sang suami sampai ke teras rumah. Ritual turun temurun yang kini menjadi kebiasaan yang tak boleh dilewatkan.
'Masa mereka mau dipisahkan sih? kak Luna nggak boleh egois.' Adit melihat kedua sejoli yang begitu romantis di pagi ini. Kadang sifat jahatnya ingin mereka berpisah, tapi sifat baik tidak membenarkan hal itu.
'Kalau begitu aku akan menjadi adikmu saja, kak.' Batin Adit tersenyum. Remaja ini masih labil.
"Ini anak ngapain bengong?" Bunda datang menepuk pundak sang anak. Membuat Adit kaget.
"Jam segini belum juga pergi sekolah."
"Bunda tenang saja. Ke sekolah cuma 2 menit sampai."
"2 menit 2 menit kamu kira kamu bisa menghilang dan langsung muncul di sekolah." Bunda menggelengkan kepala melihat putranya satu ini. 15 menit lagi masuk sekolah dan sampai sekarang belum berangkat juga.
"Baiklah Bundaku sayang. Anak ganteng Bunda ini pergi ke sekolah dulu ya." Adit menyalami sang Bunda dan tak lupa menciumi pipi wanita paruh baya itu.
"Bun, doakan aku segera menemukan wanita lain yang bisa mengobati patah hati ku ini." Ucapnya lirih.
Bunda hanya bingung tak mengerti maksud ucapan anak itu. Bukannya ke sekolah untuk belajar.
"Kak Una..." Bukannya segera pergi sekolah, Adit malah menyamperi tetangga sebelah.
"Kenapa belum berangkat ke sekolah?" Tanya Bian menoleh ke arah suara.
"Guru pelajaran pertama nggak datang, jadi masuknya di undur Bang." Alasan Adit sambil melebarkan senyum bak sedang iklan pasta gigi.
"Bilang saja kamu mau bolos." Ledek Bian.
__ADS_1
"Cowok seganteng aku nggak kenal tuh yang namanya bolos. Aku anak rajin dan pintar lho kak Una di sekolah." Adit tak mau imagenya jelek di mata Una.
Wanita itu hanya mengulum senyum melihat keduanya.
"Kak Una, aku pergi ke sekolah dulu ya." Adit mengulurkan tangan, ia pun menyalami Una.
'Lembutnya tangan kak Una ini, pasti selembut hatinya.'
"Sudah berangkat sana." Bian melepas tangan mereka, Adit terlalu lama memegang tangan Una.
"Kak Una, mau punya adik yang ganteng? jika berkenan rekrutlah aku menjadi adikmu." Adit menawarkan diri.
"Astaga... anak ini!" Bian mendorong tubuh Adit agar segera pergi. Lama-lama Adit sudah seperti rivalnya saja.
"Mas juga berangkat." Una mengingatkan.
"Mas Bianku, Mas Bianku... sama anak bau kencur saja cemburu." Ledek Una mentoel pipi Bian.
"Anak bau kencur itu tetap seorang laki-laki, Una." Wajah Bian tetap cemburu.
Tak lama akhirnya Bian pergi juga, meski tadi ngambek tak mau bekerja. Akhirnya Una membujuk akan membuatkannya nasi goreng saat ia pulang kerja. Dan bujukan itu berhasil.
Una melangkah akan masuk rumah dan ia melihat Bunda melamun melihatnya.
"Bunda..." Sapa Una menyadarkan lamunan Bunda.
"Kamu mau singgah ke rumah Bunda?" Ajak wanita paruh baya itu.
__ADS_1
###
"Kok sunyi Bun?" Tanya Una. Ia dan Bunda dengan duduk di taman kecil di belakang rumah. "Luna mana Bun?"
"Luna jam segini masih tidur."
"Nggak kerja?" Tanya Una.
"Tapi sudah di pecat sama Bian. Tapi bagus sih Luna nggak bekerja di sana lagi." Ucap wanita paruh baya itu matanya masih menatap wajah Una.
"Bunda minta maaf, Luna banyak salah sama kamu."
"Nggak apa Bun, dia belum bisa terima keadaan saja." Ucap Una mencoba memaklumi sifat Luna.
'Una di hadapanku ini pasti Una anakku, kan?? Unaku belum meninggal, ia masih hidup. Aku yakin ini anakku.'
Rosa dilanda kebingungan, Una anaknya sudah menghadap yang maha kuasa berpuluh-puluh tahun yang lalu. Tapi hati kecilnya saat ini mengatakan wanita muda di hadapannya adalah anaknya. Apa mungkin anaknya yang sudah meninggal itu masih hidup sampai sekarang? Mungkin ia selamat dari kebakaran itu?
Setahun lebih setelah berpisah, ia dan Reno kembali mencari sang anak. Mereka mendapatkan kabar jika panti yang di tinggali Una mengalami kebakaran. Seluruh penghuni panti tak dapat menyelamatkan diri. Hingga ajal pun menghampiri. Mereka tewas mengenaskan dilahap si jago merah.
"Bunda kenapa menangis?"
.
.
.
__ADS_1