
"Mas, apa Mas yakin putri kita sudah meninggal?" Tanya Rosa dengan wajah sendu, berusaha menahan air mata yang terasa akan tumpah tiap mengingat sang anak.
"Sayang..." Reno mengelus kepala Rosa. Sampai sekarang istrinya ini belum bisa mengikhlaskan kepergian sang anak.
"Kita sudah ke Panti dan mendapatkan kabar duka itu-" Reno tak sanggup membahas cerita masa lalu. Hatinya selalu sakit, karena penyesalan yang masih setia membayangi hidupnya.
"Mas, anak kita masih hidup." Rosa bangkit dan berjalan ke lemari, mengambil bingkai foto.
"Maafkan aku.." Reno menatap istrinya prihatin. Jika saja waktu dapat terulang kembali, ia tak akan mengambil keputusan seperti itu. Keputusan yang menjadi penyesalan seumur hidup, yang tak mungkin dapat termaafkan.
"Aku merasa Una istrinya Bian itu Una kita, putri kita Mas." Rosa menatap foto itu.
"Mungkin hanya perasaan kamu saja. Una telah lama meninggalkan ki-"
"Mas, aku yakin dia anakku. Aku yakin Una masih hidup. Anak kita selamat dari kebakaran itu." Potong Rosa menatap Reno dengan air mata berlinang.
Reno menarik Rosa dalam pelukannya. Tapi Rosa menolak pelukan suaminya itu.
"Mas, Una anak kita-"
"Sayang, Una korban dalam kebakaran itu." Reno kembali menyadarkan istrinya.
"Nggak Mas, Una selamat. Aku yakin Una selamat. Tiap melihat istri Bian, perasaanku berdesir mengatakan kalau ia anak kita Mas-"
Reno pun kembali memeluk Rosa yang sudah menangis terisak. Selama berpuluh tahun ini, istrinya selalu merindukan sosok anak yang tak lagi bisa ia dipeluk. Ia pasti meyakini karena nama mereka yang sama membuat perasaan Rosa jadi tak menentu.
Jika saja Una hilang, mungkin ia akan mencoba untuk percaya. Tapi putrinya yang sangat malang itu termasuk salah satu korban yang berada dalam kebakaran di panti tersebut. Putrinya tinggal di panti tersebut.
"Mas, kita harus pastikan dulu. Apa Mas Reno pernah melihat istri Bian?" Tanya Rosa.
Reno menggeleng, ia sibuk kerja dan belum pernah melihat wanita yang bernama sama dengan anaknya tersebut.
"Ayo kita ke sebelah, Mas." Rosa meraih tangan Reno. Ia akan membawa Reno melihat langsung wanita yang ia yakini anaknya. Apa Reno akan merasakan hal yang sama dengannya saat melihat Una secara langsung?
__ADS_1
"Sayang, ini sudah malam. Tak baik bertamu malam-malam." Reno menahan tangan Rosa. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.
"Ayo tidurlah. Besok kita akan membahasnya kembali."
###
"Bagaimana?" Bian meletakkan hp di telinganya. Wajahnya berubah kesal menerima telepon tersebut.
"Bukan informasi seperti ini yang ku mau." Bian menaikkan intonasi suaranya lalu melempar hp.
"Mas, kenapa?" Tanya Una yang terbangun karena suara Bian.
"Maaf maaf sayang. Tidurlah kembali." Bian menepuk-nepuk punggung sang istri. Suaranya tadi pasti membangunkan wanita itu.
"Apa ada masalah?" Una tidak melanjutkan tidurnya, ia malah menatap Bian dengan mata sendu.
"I-itu... aku minta maaf sama kamu. Belum dapat informasi apapun tentang kamu dan orang tuamu." Aku Bian. Ia sudah memerintahkan Wan mencari informasi, tapi tak ada informasi apapun yang di dapat.
Una bingung menatap Bian. Jika pria ini masih mencari orang tuanya, kenapa tak ada informasi apapun?
Wanita itu benar-benar bingung.
Apa benar yang sedang dipikirkannya saat ini?
Apa benar Ayah dan Bunda Luna adalah orang tua kandungnya?
Atau ini hanya perasaannya saja karena begitu merindukan mereka?
Jika mereka sangat dekat, tapi kenapa Bian sulit menemukannya?
'Apa aku salah orang?"
"Sayang, maafkan aku." Bian memeluk Una melihat mata yang sudah berkaca-kaca. Ia merasa bersalah tak dapat menemukan orang tua Una. Istrinya ini begitu merindukan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Sayang, besok kita liburan ya?" Bian akan mengajak Una liburan. Agar istrinya itu bisa merefreshingkan pikirannya sejenak.
"Liburan?" Una mengangkat kepalanya.
"Iya, kita liburan. Kamu mau kemana? anggap saja ini sebagai bulan madu kita."
"Mas kan harus bekerja." Una mengingatkan Bian.
"Gampang itu. Aku akan mengambil cuti."
"Ta-tapi..."
"Sudah kamu tenang saja. Besok kita pergi liburan. Kita akan liburan selama seminggu." Bian sudah membayangkan satu tempat yang akan dikunjunginya. Mereka akan berbulan madu di tempat itu.
"Ba-bagaimana dengan Mama?" Una takut Mama tak mengizinkannya.
"Mama kenapa? ibu Suri pasti mengizinkan kita pergi liburan. Asal..." Bian sengaja menjeda ucapannya membuat Una tampak antusias menunggu perkataan berikutnya.
"Asal pulang liburan kita bawakan oleh-oleh." Bian menatap Una.
"Ibu Suri pasti senang jika oleh-olehnya seorang cucu."
"Oh..." Una mengangguk mengerti. Otaknya masih proses loading.
"A-apa?" Pekik Una saat mulai paham maksud perkataan Bian.
"Kita akan membawakan Ibu Suri oleh-oleh 6 orang cucu.." Bian menunjukkan senyuman mesum, sambil menarik turunkan alisnya.
.
.
.
__ADS_1