TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 59


__ADS_3

"Tes DNA?" Luna tiba-tiba muncul. Wanita itu baru bangun tidur dna kebetulan lewat ruang tamu. "Siapa yang mau di tes DNA?"


Para orang tua saling menatap. Mereka tak sadar jika Luna ada di rumah.


"Sebenarnya Bunda kamu punya anak perempuan." Nenek membuka pembicaraan.


"Apa Bunda berselingkuh?" Tanya Luna bingung. Ia melihat wajah serius mereka dan jadi beranggapan begitu.


"Bukan. Kamu dan Adit punya seorang kakak." Ayah membenarkan, ia tak mau terjadi kesalah pahaman.


"Oh ya. Bagaimana bisa? terus dimana dia?" Luna sangat penasaran. Selama ini yang ia tahu hanya 2 bersaudara.


"Bunda kamu punya seorang putri. Karena satu hal mereka kehilangan anak itu. Mereka mencarinya tapi anak malang itu meninggal dalam kebakaran." Nenek pun menjelaskan pada Luna.


Luna menutup mulutnya tak percaya. Ia merasa kasihan pada sang kakak yang malang.


"Ma, anakku belum meninggal." Rosa kembali menyanggah ucapan Nenek.


"Maksudnya gimana ini?" Luna jadi bingung. Kakaknya itu masih hidup atau sudah meninggal.


"Jadi Bunda kamu bertemu dengan wanita yang ia kira anaknya. Hanya karena nama mereka yang sama, jadi Bundamu mengira putrinya selamat dari kebakaran itu."


"Sudahlah. Kita akan tahu setelah tes DNA. Dan kamu jangan banyak bicara." Kakek menunjuk Nenek agar tidak membicarakannya masalah itu di depan cucunya.


"Nek... jadi siapa wanita yang katanya seperti kakak?" Tanya Luna sangat penasaran.


Nenek jadi mengunci mulutnya, tadi ia ingin memberitahukan pada Luna siapa wanita itu. Tapi ia takut suaminya akan mengamuk jika ia banyak bicara.

__ADS_1


###


Bian senyum menatap Una yang sedang tertidur. Selama 2 jam perjalanan wanita itu hanya tidur. Tanpa menemani dirinya yang sedang mengemudi.


Una merenggangkan tubuhnya, ia menguap dan membuka matanya.


"Astaga..." Kagetnya melihat Bian. Ia melihat sekitar sambil menyatukan jiwa raganya.


"Sudah bangun putri tidur." Ledek Bian melihat Una yang masih dalam proses sadar.


"Ki-kita dimana?" Una tampak gugup.


"Kita mau liburan. Ayo turun." Bian pun segera keluar mobil. Ia merenggangkan tubuhnya menikmati hembusan angin pantai.


Sementara Una tampak gugup melihat tempat yang mereka datangi. Sebuah bangunan menjulang tinggi yang berada di tepian pantai.


'Ho-hotel?' Una menelan salivanya susah. Ia bisa membayangkan apa yang akan terjadi antara dirinya dan Bian di tempat ini.


Una kaget Bian mengetuk kaca mobil. Wanita itu pun menurunkan kaca tersebut.


"Kenapa belum turun? apa mau ku gendong?" Goda Bian yang melihat wajah Una langsung memerah.


"Ti-tidak perlu. Ki-kita pulang saja ya." Ajak Una penuh kegugupan. Ia masih belum siap menjadi seorang istri seutuhnya untuk Bian.


"Kenapa?" Bian mendekat ke jendela mobil. Mereka baru saja tiba dan wanita ini ingin langsung pulang.


"I-itu..." Una mengalihkan pandangannya, bibirnya tak dapat berucap sangking gugup.

__ADS_1


Cup


Bian menkecup pipi kiri Una. " Ayo turun atau aku akan menggendongmu."


Pria itu menunggu di depan mobil, menunggu wanita yang beberapa waktu berlalu dan belum juga keluar dari mobil. Ia melipat tangannya menatap depan, wajahnya mulai kesal.


Una masih tak keluar juga dalam mobil, membuat Bian pun melangkahkan kaki memasuki area hotel. Dalam pikirannya sekarang terserahlah Una mau ikut atau tidak. Pria itu akan liburan sendiri.


"Mas, tunggu." Una menahan tangan Bian. Wanita itu langsung keluar dari mobil melihat Bian pergi begitu saja.


"A-aku belum siap." Aku Una cepat menundukkan kepala.


"Aku akan memberikanmu 100 mall beserta isinya."


Kepala Una tanpa sadar mengangguk. "Aku siap." Ia lalu menutup mulutnya, meruntuki ucapannya yang tiba-tiba.


"Maksudku, maksudku..." Tak tahu mau beralasan apa. Otak Una terasa kosong tak bisa berpikir.


"Aku akan melakukannya pelan-pelan." Bian tersenyum puas sambil menggandeng Una memasuki hotel.


"A-apa?"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2