
"Bian..." Luna memeluk Bian, begitu pintu itu terbuka.
"Astaga... lepas Lun." Pria itu menjauhkan Luna, tapi wanita itu semakin erat memeluknya.
"Kak Lun, lepaskan bang Bian." Adit juga membantu menarik tangan Luna.
"Bian..." Pelukan Luna akhirnya lepas juga, wajah wanita itu sudah basah oleh air mata.
"Mana wanita itu? aku akan menghajarnya." Luna menepis tangan Adit dan melangkah masuk, ia membuka kamar untuk mencari Una.
"Dimana kau wanita ******?" Teriak Luna mencari di semua sudut kamar. Tapi tak ada wanita itu. Dimana ia bersembunyi?
"Luna... apa yang kau lakukan? keluar." Bian menarik Luna, tapi wanita itu menepisnya.
Luna pun membuka lemari dan terdiam melihat isinya. Beragam baju tidur seksi tergantung disana dan beberapa baju tidur pria juga ada. Ia menutup mulutnya, tak menyangka Bian sudah sejauh itu dengan wanita malam tersebut.
'Wow...'
Jangankan Luna yang kaget, Bian sendiri saja juga tak kalah kaget melihat isi lemari itu. Pasti Una yang membeli semua ini. Tapi kapan? saat itu mereka bahkan tak singgah ke toko baju tidur.
"Tolong keluar Luna. Kamu mengganggu privasi orang." Bian mengisyaratkan Adit untuk membawa Luna keluar.
"Kak Lun, ayo kita pergi dari sini. Sudahlah lupakan saja bang Bian." Bujuk Adit menarik sang kakak.
"Aku membencimu Bian... aku sangat membencimu..." Luna langsung melangkah pergi setelah mengatakan itu.
'Bagus...'
###
"Aku haus." Ucap Luna sambil mengusap air matanya. Menangis membuat tenggorokannya kering.
Adit menepikan mobil di depan sebuah mini market. Ia membuka sabuk pengaman sambil melihat Luna.
"Kak Lun, nggak ikut?" Tanyanya.
"Aku di sini saja."
Adit tampak berpikir, sang kakak moodnya sedang kacau. Ia takut Luna berbuat yang tidak-tidak.
"Pergilah, aku tidak akan kemana-mana. Aku kan menunggumu di sini." Senggak Luna yang seperti tahu apa yang dipikirkan adiknya.
"Baiklah, aku akan cepat." Ucap Adit yang tetap membawa kunci mobil. Agar Luna tak bisa mengemudi sendiri. Menghindari bahaya yang mungkin akan terjadi.
Dengan langkah cepat Adit masuk ke dalam Mini market, menuju chiller lalu mengambil 2 botol minuman. Ia juga mengambil coklat, katanya coklat bisa merubah mood.
Adit meletakkannya di meja kasir. Ia akan mengambil dompet di sakunya. Tapi tak ada. Ia pun menepuk-nepuk semua kantung celananya, tak menemukan dompetnya juga. Mungkin saja dompet itu ketinggalan di rumah atau mungkin ia telah kecopetan.
__ADS_1
"Mbak, sekalian hitung saja ini." Ucap seorang wanita kepada kasir.
Adit berbalik dan terpaku melihat wanita itu.
'Astaga... apa ini bidadari?' Adit melihat kaki wanita itu, masih menginjak tanah ternyata.
"Nggak usah kak, sepertinya dompetku ketinggalan di rumah." Ucap Adit tak kedip menatap wanita di hadapannya itu.
"Sudah nggak apa kok. Mbak... tolong digabung saja." Ucap wanita itu dengan senyuman yang membuat hati Adit meleleh.
"Bagaimana aku bisa membalas kebaikan kakak?" Tanya Adit modus berharap wanita itu memberinya nomor hp.
"Sudah nggak apa."
"Siapa nama kakak cantik?" Tak dapat nomor hp minimal ia tahu nama kakak cantik ini.
"Una."
"Aku Adit. Baiklah kak Una, jika kita bertemu lain waktu, aku pasti akan mentraktir kakak." Ucapnya kemudian.
Una mengangguk sambil tersenyum. Adit pun pamit setelah berterima kasih. Ia ingat Luna sendirian di dalam mobil.
'Semoga aku bisa bertemu kakak cantik itu lagi.'
"Kenapa lama? ngapain sih?" Luna membuka botol minum dan menenggak air botol hingga habis.
###
Una memasukkan bahan makanan yang dibelinya ke lemari pendingin. Ada juga sebagian diletak di lemari. Dalam frezer ia meletakkan eskrim yang juga sempat di belinya.
"Hei..."
Una tersentak kaget Bian sudah di sampingnya saja. "A-ada apa Tuan?"
"Kapan kamu beli pakaian itu?" Tanya Bian penasaran.
"Pakaian?" Una tampak bingung, pakaian apa yang di maksud Bian.
"Itu pakaian di lemari? pakaian menggoda iman." Ledek Bian.
"I-itu." Una pun mengerti pakaian apa yang dimaksud Bian sekarang.
"Aku pesan online. Tadi pagi diantar. Kita kan harus berakting meyakinkan. Jadi aku pesan seperti itu, supaya jika Luna melihatnya, mungkin wanita itu akan berpikiran jauh." Ucap Una mengutarakan pemikirannya.
"Berpikir jauh bagaimana?" Tanya Bian seolah tak mengerti.
"Se-seperti itu Tuan."
__ADS_1
"Seperti apa?" Bian seperti sengaja bertanya kembali.
"Sama seperti apa yang anda pikirkan Tuan, saat anda menyewa wanita dari Club malam." Ucap Una akhirnya.
"Apa kamu memakai pakaian itu saat tidur?" Bian mengalihkan pertanyaannya.
Una mendelik mendengar pertanyaan Bian, pria itu tampak menahan tawanya.
"Aku tak memakai pakaian seperti itu, Tuan."
"Oh ya, apa berarti kamu tidak memakai pakaian saat tidur?" Tanya Bian dengan wajah yang menyebalkan.
"Tuan, tolong jaga ucapan anda." Una pun pergi meninggalkan Bian, pria itu malah tertawa puas.
###
"Bunda... Bian jahat Bunda." Tangis Luna memeluk sang Bunda erat.
Wanita paruh baya itu menepuk-nepuk punggung sang anak, sambil matanya menatap Adit.
"Biasa bang Bian." Ucap Adit tanpa suara hanya menggerakkan bibir saja.
Wanita paruh baya itu menghela nafas, ia tahu putrinya tergila-gila pada Bian. Semacam cinta bertepuk sebelah tangan.
"Kamu mau Bunda kenali sama anak teman ayah?" Bunda tak mau Luna terus berharap pada Bian.
"Bunda... Aku cuma mau sama Bian. Titik nggak mau yang lain." Luna masih bersikeras dengan tujuan hidupnya. Apalagi tujuan hidupnya jika bukan menikah dengan Bian.
"Bunda... Bian jahat. Dia sekarang punya sugar Baby. Sugar babynya itu wanita dari Club malam dan sekarang wanita itu tinggal di Apartemen Bian Bunda..." Adu Luna sambil menangis. Ia sudah bisa membayangkan Bian dan wanita itu pasti telah melewati malam panas yang bergairah. Membayangkannya saja membuatnya sangat kesal.
"Sudahlah sayang... lupakan saja Bian, lepaskan dia sayang. Bunda yakin kamu pasti akan bertemu dengan pria yang mencintaimu..." Bunda menasehatinya.
"Aku maunya Bian. Aku nggak mau yang lain. Aku cuma mau Bian. Aku mau Bian Bunda. Cuma Bian Bunda..." Potong Luna dengan tangisnya kencang. Ia tak bisa melepaskan Bian. Pria itu harus menjadi miliknya apapun ceritanya.
Bunda dan Adit hanya saling melirik. Luna sangat sulit dinasehati. Apapun yang menjadi keinginannya harus tercapai.
"Bunda... Aku nggak bisa melepaskan Bian dengan wanita seperti itu. Dia bukan wanita yang baik-baik, Bun. Wanita itu sangat menjijikkan Bunda. Ia sudah banyak berhubungan dengan berbagai pria. Aku nggak rela Bian dengan wanita seperti itu." Jelas Luna tak terima. Bian lebih memilih wanita seperti itu daripada dirinya.
"Aku nggak akan membiarkan wanita bernama Una itu bersama Bianku. Awas kau Una." Luna meremas tangannya. Matanya memancarkan emosi yang membara.
'Una? seperti nama kakak cantik itu.'
'Una...?'
.
.
__ADS_1
.