TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 63


__ADS_3

"Mas Bianku, untuk apa kita ke rumah sakit?" Tanya Una saat mobil berhenti di parkiran rumah sakit.


"Akhir-akhir ini kamu sering sakit. Jadi kita akan memeriksa kesehatanmu." Jawab Bian santai sambil membuka sabuk pengamannya.


"Ta-tapi aku sehat lho Mas." Sanggah Una tak terima dianggap penyakitan.


"Ayo sayangku."


Langkah Una begitu berat saat Bian menggandengnya memasuki koridor rumah sakit. Tapi pria itu seperti tak peduli.


'Mereka begitu dekat, kenapa sulit sekali menemukannya. Awas kau Wan, kerjamu mulai tak becus!!'


Mama sudah menceritakan semua pada Bian, bahwa kemungkinan Tante Rosa dan Reno adalah orang tua kandung Una. Ia juga mengingat ucapan Una yang pernah mengatakan telah menemukan orang tuanya. Mungkin saja memang benar mereka orang tua istrinya itu?


Tapi Mama berpesan agar tak mengatakan langsung pada Una. Wanita paruh baya itu takut jika nanti Una akan kecewa, jika hasil tes DNA itu menyatakan jika Rosa dan Reno bukan orang tuanya.


Beberapa saat berlalu, Una dan Bian keluar dari ruangan setelah melakukan pemeriksaan.


"Mas, aku sakit apa? kenapa mereka mengambil darahku? apa aku penyakitan?" Una menatap lekat Bian dengan wajah sendunya.


Bian mengelus kepala Una. "Hanya pemeriksaan biasa."


"Una..."


Bian dan Una menoleh ke arah suara. Terlihat sepasang paruh baya menatap Una sendu, membuat hati Una jadi berdesir.


"Bun-Bunda, kenapa di sini? apa sakit?" Tanya Una menatap kedua orang tua itu bergantian. Melihat mereka di rumah sakit, pikiran Una bertanya-tanya.


"Kami cuma cek rutin saja." Jawab Bunda. "Kamu sudah makan?"

__ADS_1


"Su-sudah Bunda." Una gugup dengan pandangan mata Bunda yang begitu lembut, tapi mimik wajahnya menahan kesedihan.


"Kalian mau langsung pulang?" Tanya Bunda.


Una menatap Bian yang dari tadi melihat interaksi mereka. Pria itu melihat baik Una maupun kedua orang tua itu seperti sama-sama menahan beban.


"Mas, apa kita langsung pulang?" Una menyenggol lengan Bian.


"Terserah kamu saja." Jawab Bian cepat.


"Bunda, kami pergi dahulu." Pamit Una sopan, ia juga menundukkan kepala sejenak pada pria paruh baya di samping Bunda, yang terus menatapnya.


"Hati-hati di jalan." Ucap Reno akhirnya.


Una dan Bian pun segera melangkah akan keluar dari rumah sakit.


"Una..."


"Maafkan Bunda nak. Maafkan Bunda..." Rosa tak dapat menahan hatinya yang bergejolak. Menunggu hasil tes DNA beberapa hari lagi, terasa begitu lama. Ia yakin Una adalah anaknya.


"Kamu Una, anak Bunda. Maafkan Bunda nak."


"Bun-Bunda..." Air mata Una mengalir deras.


"Maafkan Bunda, saat itu pergi meninggalkanmu." Wajah berlinang air mata itu mengusap air mata di pipi sang anak.


"Kenapa kalian pergi meninggalkan Una di sana sendirian? saat itu Una sangat takut Bunda..." Una mengeluarkan segala isi hatinya yang selama ini ditahan.


"Una selalu menunggu kalian, kenapa kalian tak pernah mencariku? apa kalian memang membuangku?" Wajah Una begitu sangat menyedihkan menatap wajah Bunda.

__ADS_1


"Nggak sayang, bukan begitu nak." Bunda menggeleng cepat, lalu kembali memeluk putrinya yang selama ini ingin selalu di peluknya erat. Perasaannya bercampur aduk saat ini. Ia tak menyangka akan memeluk sang anak yang selama ini sudah dianggap meninggal.


Una menutup wajahnya saat mendengar cerita panjang Bunda dan Ayah. Berkali-kali keduanya meminta maaf menyalahkan diri masing-masing.


"Maafkan Bunda Nak..."


"Ayah yang salah. Maafkan Ayah, ya."


"Tidak Mas. Aku yang salah."


"Tidak. Aku yang salah. Aku yang meninggalkan kalian."


"Tidak Mas, aku-"


"Ayah, Bunda hentikan. Aku mengerti." Setelah mendengar cerita itu, Una mengerti alasan mereka.


kenapa mereka pergi?


kenapa mereka meninggalkannya?


kenapa mereka tidak mencari dirinya?


"Aku sangat merindukan Ayah dan Bunda.." Ucap Una akhirnya. Ia menghampiri kedua paruh baya tersebut.


Mereka berpelukan sambil menangis terharu, tak memperdulikan orang-orang di kantin itu yang melihatnya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2