TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 87


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Wan melihat seorang wanita meringkuk didepan pintu apartemennya.


"Aku akan menginap beberapa hari di tempatmu." Ucapnya sambil bangkit.


"Wow... apa aku harus terkejut?" Wan menutup mulutnya seolah mengekspresikan dirinya yang sedang terkejut.


"Apa nona sombong dan angkuh ini sudah tidak mempunyai tempat tinggal? hingga menumpang di gubuk reot ini?" Cibir Wan penuh penekanan.


Luna menghela nafas. Ia pernah menghina Wan dan pria ini langsung membalasnya.


"Wawan... buka pintunya!" Seolah tak peduli Luna memaksa Wan membuka pintu.


Wan hanya menggeleng, sifat Luna sudah mendarah daging.


"Pulanglah." Ucap Wan sambil meletakkan minuman di meja.


"Apa kau tuli? aku bilang aku akan menumpang." Luna duduk di sofa sambil melipat tangannya.


Wan berusaha bersabar, ia mendudukkan diri di sofa di samping Luna.


"Seharusnya kau cari tumpangan di tempat temanmu yang lain." Saran Wan.


"Aku tidak punya teman, Wawan." Jawab Luna cepat.


"Kita bukan teman, saudara-"


"Sepertinya kau mengusirku. Baiklah, aku akan pergi." Potong Luna segera, ia pun bangkit.


"Duduklah." Wan menahan tangan Luna. "Kembalilah ke rumahmu."


"Itu bukan rumahku."


"Mereka orang tuamu."


"Bukan."


"Selama ini mereka menyayangimu, kan?"


"Mereka bukan orang tua kandungku. Aku harus mengembalikan semuanya."

__ADS_1


"Luna..."


"Sudahlah Wawan... aku nggak mau menumpang hidup lagi dengan mereka. Aku seharusnya tahu diri." Luna mengalihkan pandangannya. Ia mengusap air mata di sudut mata, tak mau Wan melihatnya menangis.


"Jadi apa yang mau kau lakukan sekarang?" Tanya Wan serius.


"Aku akan pergi keluar negeri." Ucap Luna yakin.


"Untuk?"


"Aku akan bekerja disana."


"Wow.."


Bantal sofa pun melayang ke wajah Wan. Luna mendengus, Wan masih saja meledeknya.


"Luna..." Dengus Wan kesal.


"Jika kau ingin pergi, selesaikan masalahmu disini." Ucap Wan pelan.


"Aku tidak punya masalah."


"Keluargamu itu sangat baik. Mereka memaafkan perlakuanmu. Malah nona Una juga memaafkanmu. Bukannya seharusnya kau meminta maaf padanya?"


Luna diam saja. Sebenarnya ia sudah tidak sanggup menunjukkan wajahnya pada Una. Ucapan dan perlakuan pada wanita itu sungguh tidak termaafkan. Ditambah ia juga malu dan gengsi untuk melakukan itu.


"Sudahlah Wawan, jangan mengajariku." Luna segera menepis ucapan Wan.


"Apa itu kamarmu?" Tunjuk Luna pada satu-satu kamar di tempat itu. Wan menggangguk. Luna segera berlari dan mengunci pintu.


"Astaga... wanita ini!" Wan hanya dapat mengelus dada.


Wan merogoh sakunya. Bian meneleponnya.


Tak lama...


"Kenapa aku harus menjaga wanita ini!" Wan melempar ponselnya ke sofa. Ia pun segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


###

__ADS_1


Pagi itu Luna sudah bangun dan menyiapkan sarapan. Wan yang sudah rapi akan berangkat kerja menatapnya kaget.


"Apa yang kau lakukan?"


"Kau mau sarapan tidak?" Luna bertanya dengan raut wajah tidak senang.


Wan harus extra bersabar. Ia seperti sedang menumpang di apartemennya sendiri.


Luna duduk di kursi meja makan dan melahap sarapannya. Wan pun ikut duduk. Sambil sarapan ia terus menatap Luna.


'Bagaimana aku membawanya pulang?' Wan bingung, Bian memerintahkan ia untuk membawa Luna pulang.


"Hati-hati dijalan ya." Ucap Luna, duduk di sofa sambil menonton tv.


"Kau harus pulang." Wan menarik tangan Luna.


"Wawan, aku nggak mau."


"Ayo cepat." Wan tetap menariknya. Luna berusaha menahan, wanita itu sampai memegang sandaran sofa.


"Wawan, jangan paksa aku. Aku hanya menumpang beberapa hari. Kau jangan pelit. Setelah aku mendapat pekerjaan, aku akan menggantinya semua." Oceh Luna yang tak mau kembali ke rumah itu.


"Menunggumu sampai dapat pekerjaan? Aku sudah dipecat sama abang iparmu itu." Wan sudah diancam Bian. Demi periuknya tetap mengepul, ia harus menuruti perintah pria itu.


"Wawan... kenapa kau menurut sekali padanya sih?"


"Dia yang membayarku."


Luna tetap memeluk erat sandaran sofa tersebut. Wan menghela nafas sejenak.


"Maafkan aku." Wan memukul tengkuk Luna dengan tangannya. Wanita itu pun pingsan di tempat.


'Kenapa begitu berat? apa kebanyakan dosa?' Wan memikul Luna bak membawa karung beras.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2