TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 86


__ADS_3

Bian tetaplah Bian. Begitu sampai rumah, ia langsung menghampiri Una dan menggendongnya. Tak perlu kursi roda untuk membawa Una memasuki rumah.


Yang tiba-tiba digendong tampak malu, perlakuan Bian dilihat orang tua mereka.


"Aku permisi, aku akan membawa Una untuk istirahat." Pamit Bian yang tak peduli keadaan. Saat ini prioritasnya Una. Ia harus segera membawa Una ke kamar untuk beristirahat.


"Mereka begitu mesra, bikin iri saja." Bisik Mama pada Bunda yang melihat perlakuan manis putranya.


"Kamu Mel... kayak nggak pernah muda saja." Bunda jadi tersenyum.


"Una sudah hamil belum ya?" Tanya Mama penasaran.


"Kita tunggu saja Mel."


Setelah mengobrol sebentar, Bunda pun masuk ke rumahnya. Ia berniat bertemu Luna dan menjelaskan semuanya.


Di kamar Luna tidak ada. Bunda mencari di seluruh ruangan. Ia juga bertanya pada para pelayan rumah. Mereka mengatakan Luna pergi.


"Apa dia membawa koper?" Tanya Bunda yang merasa Luna mungkin akan pergi meninggalkan rumah.


"Tidak, hanya membawa tas saja." Ucap mereka.


Bunda bernafas lega. Ia akan meluruskan masalah ini. Una juga sudah memaafkan adiknya dan Bian juga membatalkan tuntutannya. Luna harus berdamai dengan keadaan.


Wanita paruh baya itu mencoba menelepon, tapi nomornya Luna tidak aktif. Ada rasa gelisah, ia pun menemui suaminya.


"Mas, hp Luna nggak aktif. Aku takut dia pergi."


"Tidak, kita tunggu sampai malam. Ia pasti pulang kok."


Reno menenangkan Rosa yang matanya mulai berair.


###

__ADS_1


"Sayang... ayo makan dulu." Bian meletakkan nampan di meja. Ia mentoel pipi Una.


"Masih ngantuk Mas." Una masih bergumul dalam selimut.


"Ayo makan lalu minum obat. Setelah itu kamu bisa tidur lagi." Bian mengangkat tubuh Una pelan. Dengan terpaksa Una pun jadi bangun.


"Mas..." Una mulai merengek.


"Makan!" Bian menyodorkan sendok ke depan mulut Una.


"Nggak mau." Rengeknya dengan wajah memelas.


"Makan!" Bian menunjukkan wajah tidak senangnya.


Bibir Una mengkerucut, biasanya jika ia merengek Bian akan mengalah padanya. Tapi pria ini tetap memaksanya untuk makan.


"Sayang, cepat makan. Aku mau kamu cepat sembuh." Bian mencoba tersenyum.


Una membuka mulutnya dan menerima suapan Bian.


Una tersedak mendengar ucapan tanpa filter itu. Ia pun minum air yang disodorkan Bian.


"Sudah 2 malam aku tidak menyentuhmu. Ini juga malam ketiga." Bian mengulum senyum melihat wajah Una yang mulai kesal.


"Mas Bian..." Pekik Una.


"Makan ya sayang." Bian kembali menyuapi Una.


Setelah makan, Bian memberikan obat. Una pun meminumnya. Ia masih memasang wajah sebal pada Bian.


Una masih sakit dan pria itu hanya memikirkan kapan akan bercinta saja. Walau ia juga menginginkannya. Tapi kan seharusnya Bian bisa melihat kondisinya sekarang.


"Anak pintar, sudah minum obat. Sekarang bobok ya." Bian mengelus kepala Una.

__ADS_1


Cup


Bian menkecup bibir yang menkerucut itu. Ia lalu menkecup kening dan kedua pipi Una.


Wajah Una yang cemberut perlahan mulai tersenyum. Perlakuan Bian yang begitu lembut membuatnya bahagia.


"Mas..." Una naik ke pangkuan Bian. "Gendong.."


Bian jadi tersenyum. Ia pun menuruti Una. Berdiri di depan balkon sambil menggendong anak koala yang begitu manja.


Sekarang Bian seperti seorang Ayah yang sedang menidurkan bocah. Tapi ini bocah raksasa.


Sambil menggendong Bian menkecup lama kepala Una. Menyalurkan seluruh kasih dan sayangnya. Ia sangat mencintai dan menyayangi anak koala ini.


Dengan hati-hati Bian meletakkan Una diatas ranjang. Ia membenarkan selimut. Sejenak menatap wajah sendu itu. Una terlalu baik, bahkan ia memaafkan Luna. Walau ia tahu tak ada ikatan darah diantara mereka.


Orang tua mereka sudah menceritakan tentang status Luna. Dan Una masih menganggap Luna itu adiknya. Bagian dari keluarganya.


Mata Bian tertuju pada hp, ia menjauh untuk mengangkat panggilan tersebut Agar Una tidak terganggu.


"Apa Luna belum pulang?" Tanya Bian dengan suara pelan.


"Baik Bun, aku akan menyuruh Wan untuk mencarinya."


Setelah memutuskan panggilan itu, Bian pun menelepon Wan.


"Tolong segera cari lokasi Luna." Pinta Bian saat sudah tersambung.


Bian pun tersenyum sambil menggeleng. "Baiklah, tolong jaga dia."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2