TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 53


__ADS_3

"Bunda kenapa menangis?" Una bingung melihat wajah yang penuh air mata.


"Bunda cuma kelilipan." Bohongnya cepat menghapus air mata yang terus jatuh membasahi pipinya.


Una memeluk Bunda. Hatinya ingin memeluk wanita itu.


"Kalau lagi sedih dipeluk sambil ditepuk-tepuk pundaknya bisa membuat perasaan tenang, Bun." Ucap Una menepuk-nepuk pundak Bunda pelan.


"Mas Bian selalu melakukan ini jika Una menangis. Dan perasaan Una jadi tenang dan nyaman." Una tersenyum mengingat bagaimana perlakuan Bian padanya saat ia menangis.


Bunda makin memeluk Una, dengan air mata yang makin bercucuran.


Una perlahan melepaskan pelukannya. Tangannya terulur menghapus air mata di wajah Bunda.


"Bunda, kalau ada masalah bisa cerita sama Una." Ucap Una sambil tersenyum, membuat Bunda jadi ikut tersenyum.


"Oh iya, apa Bian sudah menemukan orang tua kamu?" Tanya Bunda kemudian.


"Belum Bun, kata Mas Bian tak ada informasi apapun tentang Una, sebelum terdampar di pantai itu."


'Jika Una selamat dari kebakaran, kenapa ia bisa sampai terdampar di pantai, ya?' Bunda tampak bingung.


"Sebenarnya Bunda pernah punya-."


"Aduh pinggangku." Ucapan seseorang itu membuat ucapan Bunda terpotong.


Keduanya menoleh kearah suara. Una pun menghampirinya.

__ADS_1


"Kakek, sini biar Una bantu. Ini mau dibawa kemana?" Tanya Una ramah akan mengangkat pot.


Pria tua itu melihat wanita muda itu sambil memegangi pinggangnya. Ia sudah tua dan sudah tak sanggup mengangkat beban yang berat.


"Situ..." Tunjuk kakek.


Una pun mengangkat pot yang tidak terlalu berat itu ke tempat yang ditunjukkan kakek.


"Terima kasih. Kamu tinggal dimana?" Tanya kakek dengan mata yang masih menatap lekat wanita muda itu.


"Ini Una istrinya Bian, Pa." Jawab Bunda yang langsung menghampiri mereka. Ia takut kakek akan memarahi Una.


"Kamu sudah makan?" Tanya kakek dengan nada lembut.


Bunda tampak bingung. Respon kakek berbeda. Padahal pria tua itu mendukung rencana Nenek untuk memisahkan Bian. Demi kebahagiaan Luna, cucu kesayangan mereka.


"Iya, kamu sering-sering main ke sini ya."


Una mengangguk dan berlalu.


"Luna nggak boleh terus mengharapkan Bian."


"Maksud Papa?" Rosa jadi bingung.


"Tadinya Papa ingin mereka berpisah. Tapi melihat istrinya Bian secara langsung, Papa jadi berpikir kita tidak boleh egois." Ucap pria tua itu kemudian.


Una berjalan menuju ruang tamu. Ia terdiam melihat foto keluarga yang besar terpajang di ruang tamu itu. Tadi saat masuk ia tak memperhatikan.

__ADS_1


'A-ayah...' Hati Una bergemuruh melihat wajah pria di foto itu. Dalam bingkai itu ada foto kedua orang tua dengan kedua anaknya. Ayah, Bunda, Luna dan Adit.


"Hei... apa yang kau lakukan di rumahku? pasti kau mau maling, kan?" Bentak Luna melihat Una berdiri menatap foto keluarga mereka.


Una dengan cepat mengusap air matanya.


"Apa kau menangis karena tak mempunyai keluarga?" Ledek Luna melihat sisa air mata Una.


"Wanita sepertimu sangat malang. Sudah tak punya orang tua, hidup miskin bahkan menjadi wanita malam. Tak pernah mendapat kasih sayang dari orang tua." Luna tahu hidup Una sangat merana. Walaupun ia di asuh sebuah keluarga, tapi wanita itu hanya di anggap budak.


Una melangkah pergi, ia tak peduli ucapan Luna.


"Kenapa Luna?" Tanya Bunda yang datang karena mendengar suara berisik di ruang tamu.


"Itu Bun. Wanita murahan itu menangis melihat foto keluarga kita. Ia pasti iri tak pernah mendapat kasih sayang orang tua."


"Luna..." Bunda menaikkan intonasi suaranya.


"Bun, kapan aku menikah dengan Bian?" Tanya Luna serius.


"Lupakan itu." Jawab Bunda tegas.


"Bunda..." Jerit Luna tak terima.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2