
"Mas Bi-an.."
"Jangan terpaksa seperti itu."
"Mas Bian."
"Kenapa begitu datar?"
"Mas Bian."
"Ulang, tidak ada improvisasinya."
"Mas Bian mas Bian mas Bian."
"Aku nggak budek Una."
"Mas Bian.."
"Nggak kedengaran. Apa yang kamu katakan?"
Una menatap Bian kesal, dari tadi ia salah terus mengucapkan kata mas Bian. Tah harus dengan nada seperti apa memanggil pria yang lama-lama makin menyebalkan.
"Kenapa diam?" Bian bertanya. "Apa susahnya tinggal katakan Mas Bian.."
"Mas Bian.." Ucap Una akhirnya dengan nada sangat manja.
"Ulangi." Bian menahan senyumnya. Ia senang Una memanggilnya seperti itu.
"Mas Bian."
"Sekali lagi."
"Mas Bian.." Ucap Una masih dengan nada yang sama.
"Katakan 10 kali lagi." Pinta pria itu.
__ADS_1
Una mengambil hpnya dan merekam perkataannya. Ia lalu mengirim pesan suara pada Bian.
Suara pesan masuk ke hp Bian, pria itu pun melihat hpnya dan membuka pesan suara tersebut.
"Dengarkan sampai puas. Mau 10 kali, 100 kali atau 1000 kali pun terserah anda Tuan." Ucap Una lalu pergi meninggalkan Bian.
Tingkah Una membuat Bian tertawa. Una begitu lucu dan menggemaskan. Satu hari tak mengerjainya, rasanya sangat merugikan.
Malam itu. Luna dan nenek datang ke rumah Bian. Mereka berkumpul di ruang tamu dengan Bian, Una dan Juga Mama.
"Nek... itu istrinya. Sok cantik" Bisik Luna pada sang nenek.
'Pantaslah ia tak mau dengan Luna.' Wanita tua itu melihat Una sangat tajam. Wajar sih Bian lebih memilih Una, wanita itu sangat cantik.
"Oh ya, nek. Kenalkan ini Una istriku." Bian memperkenalkan Una.
"Apa kabar nek? Saya Una." Ucap Una sopan, ia bangkit dari sofa untuk menyalami wanita tua itu.
"Jangan panggil saya nenek. Saya bukan nenek kamu." Ucapan sinis wanita tua itu membuat Una terdiam.
"Bagaimana kabar nenek?" Tanya Mama berbasa-basi.
"Saya langsung saja pada intinya. Kenapa kamu menolak Luna dan lebih memilih wanita ini?" Tunjuk wanita tua itu pada Bian lalu pada Una.
"Aku tak mencintai Luna, aku mencintai istriku." Ucap Bian tegas lalu menatap Una dalam. Wanita itu menundukkan kepala karena malu, perkataan dan perlakuan Bian membuat hatinya berdebar.
"Cinta bisa tumbuh seiring waktu. Kamu saja yang tak mau memberi kesempatan pada Luna. Malah menikahi wanita murahan seperti itu."
"Nenek..." Ucap Bian tak terima.
"Tolong jaga ucapan anda pada menantu saya. Una istri Bian sekarang, jika tak ada lagi hal penting yang mau dibicarakan silahkan keluar. Ini juga sudah malam." Ucap Mama menahan emosinya. Ia kesal Una dihina seperti itu. Ia saja tak memperdulikan masa lalu Una, kenapa mereka malah mengungkit untuk menghinanya.
Una tersenyum samar, ia terharu Mama membela dirinya.
"Berapa uang yang kamu minta agar pergi meninggalkan Bian?" Nenek menunjuk Una dengan emosinya.
__ADS_1
"Nenek... sudah cukup hentikan." Ucap Bian sedikit meninggikan suaranya. "Tolong hargai pilihanku."
Bian pun pergi meninggalkan ruang tamu sambil menggandeng Una. Ia tak mau berdebat lagi.
"Bian..." Panggil Luna yang tak digubris Bian. "Nenek... aku mau Bian." Luna pun merengek pada neneknya.
###
Pagi itu seperti biasa, Una dan Mama mengantar para suami sampai depan rumah.
"Kalau ada apa-apa telepon aku. Mau pergi juga bilang. Jangan sudah pergi baru bilang." Bian kembali mengingatkan Una. Wanita itu hanya mengangguk pelan sambil tersenyum malu.
Una hanya terdiam menerima kecupan demi kecupan yang diberikan Bian. Pria itu agak beda, ia begitu lembut dan perhatian.
Setelah menkecup kening dan kedua pipi Una, Bian menatap bibir itu. Rasanya ia ingin menjelajahinya lagi.
"Mas..." Panggil Una melihat Bian diam saja. Padahal Papa sudah menunggunga.
Bian tersadar dari dunia travelingnya. Ia tersenyum lalu masuk ke mobil. Dan mobil pun melaju sedang diiringi lambaian tangan Una.
"Mely..." Panggil tetangga sebelah. "Iyalah itu yang romantis terus."
"Kamu pun juga begitu." Ledek Mely juga.
"Siapa?" Tanya Rosa melihat wanita muda melambaikan tangan pada mobil yang telah melaju.
"Menantuku. Sayang, kemarilah." Panggil Mama pada Una.
Una pun berbalik dan menghampiri Mama.
"Ini Tante Rosa tetangga kita." Mama memperkenalkan tetangganya pada Una.
Una terdiam melihat wanita yang dikenalkan Mama. Una melihatnya dengan perasaan yang berkecambuk.
'Apa ini Bun-da...?'
__ADS_1