
"Mas Dino, kenalin ini Ziva temanku." Una memperkenalkan Ziva pada Dino. Mereka berdua pun saling berjabat tangan. Una mengulum senyum melihat keduanya.
"Oh iya, Mas Dino lagi cari apa di sini?" Tanya Una penasaran.
"Oh, aku mau cari kado, Na."
"Kami bantu ya, Mas." Tawar Una.
"Na..." Bisik Ziva, karena tadi rencana mereka mau makan. Ini malah mau bantu orang cari kado.
"Benaran nggak apa nih? soalnya aku juga bingung mau ngasih apa." Ucap Dino sambil tertawa.
"Kadonya untuk siapa Mas?" Kata Una sambil jalan menggandeng Ziva.
"Anaknya temanku. Anak laki-laki kelas 3 SD.." Jawab Dino sambil ikut melangkah melihat sekeliling apa yang mau dibeli.
Beberapa waktu pun berlalu, mereka telah menemukan kado yang akan diberikan pada anak temannya Dino.
"Terima kasih ya, sudah bantui aku cari kado." Ucap Dino ramah sambil tersenyum.
"Pasti dia suka itu, Mas." Jawab Una. Mereka tadi membeli satu set helikopter mainan.
"Sebagai ucapan terima kasihku karena sudah membantu memilihkan kado. Aku traktir kalian ya." Tawar Dino.
"Tidak usah." Jawab Ziva cepat.
"Boleh Mas." Jawab Una bersamaan dengan Ziva. "Kita kan tadi mau makan Va."
Ziva melirik Una. Mereka memang akan makan, tapi jika ada orang lain yang bergabung sangat tidak nyaman.
Dino membawa Una dan Ziva ke sebuah kafe yang masih di dalam Mall tersebut. Mereka memesan beberapa makanan.
__ADS_1
"Na, aku ke toilet dulu." Ucap Ziva lalu berlalu meninggalkan Una dan Dino berdua.
Sambil menunggu pesanan datang Una dan Dino saling mengobrol. Sambil berhaha hihi.
'Itukan wanita murahan itu. Dia berselingkuh.' Dari jauh seorang wanita mengambil foto kedua orang yang sedang asik mengobrol tersebut.
'Dasar wanita murahan, pantang lihat jantan. Akan ku adukan pada Bian.' Ia tersenyum-senyum pada layar hp melihat apa yang di dapatnya. Itu pasti akan membuat Bian murka. Pria itu dari dulu sangat tidak suka diselingkuhi dan ini akan menjadi senjatanya untuk memisahkan mereka.
###
Bian keluar dari kamar mandi setelah lama berendam. Ia melihat jam dinding yang sepertinya enggan berputar.
'Sabar...'
Bian pun melangkah menuju cermin, dengan handuk yang masih terlilit di pinggang. Ia tersenyum melihat tubuhnya dalam pantulan cermin.
'Pasti Una akan nyaman memelukku.' Bian tersenyum sambil membusungkan dadanya. Otaknya mulai traveling membayangkan Una berada dalam dekapannya.
Melihat dengan malas nama penelepon yang tertera di layar, JANGAN DIANGKAT.
Pria tampan nan rupawan itu kembali bercermin membenarkan rambutnya. Mengacuhkan panggilan telepon yang terus berdering.
Ting
Satu pesan masuk. Bian menatap hp yang tergeletak di ranjang. Ia pun segera meraihnya.
'Apa sih yang dikirimnya?' Bian kesal, ia tadi mengira itu pesan dari sang istri.
Mata itu begitu tajam melihat layar hp. Wajahnya memerah menahan emosi yang tiba-tiba meluap, bahkan Bian meremas tangannya.
Ting
__ADS_1
Satu pesan kembali masuk. Bian pun membacanya.
...SAYANGKU...
Mas, jadi mau jemput?
^^^Aku masih ada urusan.^^^
oh, ya sudah.
Mas mau aku makan apa?
Biar sekalian aku belikan.
^^^Nggak usah^^^
'Kenapa dia?' Pikir Una melihat Bian membalas pesannya. Padahal tadi pria itu bilang ingin menjemputnya.
"Kalian mau kemana lagi?" Tanya Dino. Mereka telah habis melahap makanan pesanan mereka.
"Pulang, kami akan pulang." Jawab Ziva cepat.
"Ya sudah, aku antar saja. Kebetulan aku juga mau pulang."
"Boleh Mas, tapi kita antar ziva dulu ya."
"Boleh." Jawab Dino mengangguk.
.
.
__ADS_1
.