TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 93


__ADS_3

"Lap itu liurmu Bang." Ledek Adit melihat Bian yang terpesona menatap kakaknya yang begitu sangat cantik.


Hari ini adalah hari yang begitu ditunggu Bian. Hari ini diadakan resepsi pernikahan mereka. Dalam acara ini ia akan memperkenalkan Una Almira sebagai istrinya.


Aula yang cukup besar dengan dekorasi serba putih menambah suasana damai dan sakral pastinya.


Mata Bian tak henti-hentinya menatap mempelai wanita yang begitu cantik dengan balutan gaun berwarna putih.


Bian menggandeng Una menuju pelaminan. Karena mereka sudah lama menikah, tidak diadakan proses ijab kabul lagi.


Para tamu berdatangan memenuhi aula itu. Dari para rekan bisnis, para karyawan, keluarga besar dan teman-teman kedua mempelai.


Ayah menatap sendu Una yang berdiri di pelaminan bersama Bian. Ia sempat sedih karena tak jadi wali saat Una menikah dulu, tapi juga bersyukur diberi kesempatan melihat putrinya, bersanding dengan pria yang dicintai dan mencintainya.


"Nggak apa Mas." Rosa menepuk pelan pundak Reno. Ia tahu suaminya itu juga pasti sedih tak bisa menikahkan putrinya saat itu.


"Putri kita cantik ya." Puji Reno yang diangguki Rosa.


Bian dan Una menyalami para tamu undangan yang datang. Ucapan selamat menempuh hidup baru, selamat berbahagia serta segera mendapat momongan bergantian mereka dengar.


"Ziva... kenapa tidak cerita padaku?" Bisik Una saat Ziva membawa pasangannya bersalaman.


Ziva mengedipkan mata sambil tertawa.


Una menatap pria itu dari atas hingga atas lagi. Dari bentuk tubuh, pria itu bisa melindungi temannya. Apalagi kata Bian ia adalah seorang bodyguard.


"Tolong jaga temanku. Jangan sampai dia menangis." Ucap Una sambil tersenyum. Ia sengaja mengeratkan tangan saat menyalami pria itu.


"Baik Nona." Pria itu hanya tersenyum. Sebenarnya jika ia mau membalas sangat mudah, tangannya lebih besar dari tangan Una. Tapi mengingat pria yang berada di samping wanita itu adalah sumber uangnya.


'Masih gantengan aku!!!' Dari jauh Adit mencibir. Kalau dilihat dari tampang Adit pasti menang. Kalau tinggi serta bentuk badan, Adit lebih baik minggir saja.


Kakek dan Nenek juga memberi doa restu. Mereka senang diberi kesempatan dapat melihat pernikahan cucunya itu.


"Sayang Mama..." Mama memeluk Una erat.


"Makasih sayang, sudah mau menikah dengan anak Mama yang nakal ini." Mama melirik Bian.

__ADS_1


"Mama..." Bian tak terima dikatakan nakal. Ia adalah anak yang baik budi.


"Sayang..." Mama mengeluarkan hp dari tasnya. Ia menunjukkan sebuah foto pada Una.


Wajah Una langsung memerah dan malu. "Mama..."


"Selamat ya sayang. Cucu Mama otw." Wajah paruh baya itu begitu bahagia. Tadi sebelum pergi ia masuk ke kamar mereka, Bian meninggalkan dompetnya dan meminta Mama mengambilnya. Karena tebelet pipis Mama masuk kamar mandi dan menemukan tespack di sela-sela dinding. Mama pun langsung memfotonya.


"Cucu?" Bian menatap Una menelisik.


"Selamat ya sayang. Jangan jadi anak nakal lagi. Sudah tua, sudah mau punya anak juga." Mama terus mengoceh sambil memeluk putranya itu.


"Sayang... kamu hamil?" Tanya Bian setelah pelukan Mama lepas.


Una nampak ragu, ia melihat Mama. Wanita paruh baya itu malah mengangguk.


"I-iya Mas." Jawab Una gugup.


"Sayang.." Sangking senangnya Bian memeluk Una erat, ia bahkan mengangkat dan memutar tubuh Una. Ia begitu sangat bahagia mendengar kabar itu.


"Istriku hamil. Aku akan jadi Daddy."


"Kenapa tak memberitahuku?" Tanya Bian setelah menurunkan istrinya.


"I-itu. A-aku takut alat itu salah, aku nggak mau Mas Bianku kecewa. Jadi kupikir setelah acara pernikahan kita, aku akan periksa ke dokter saja." Jelas Una gugup.


Bian mengangguk, ia menerima alasan Una. "Ayo, kita cek sekarang saja." Bian sudah tidak sabaran.


"Nanti setelah acara ini selesai. Tamu yang datang mau dikemanai?" Mama menahan Bian. Tamu masih pada berdatangan, bagaimana bisa kedua mempelai tidak ada di tempat.


"Tapi Ma.."


"Besok saja Mas. Jadi kita bisa sekalian bertanya panjang lebar sama dokternya." Una membujuk Bian.


"Baiklah." Bian akan mengalah saja.


###

__ADS_1


"1 2 3." Ucap Bian dan Una kompak seraya melempar buket bunga.


Buket bunga tersebut melayang terbang melewati para tamu yang hadir. Mereka berantusias merebut buket bunga tersebut.


"Dapat." Ucap Luna menangkap buket bunga yang berada di atas kepalanya.


"Aku yang dapat." Ucap seorang pria yang berdiri tepat dibelakangnya. Mereka sama-sama memegang buket bunga tersebut.


"Ini punyaku." Luna akan merebutnya.


"Punyaku." Pria itu tetap merebut juga.


"Kak Una memberikan padaku."


"Tuan Bian memberikan padaku."


Mereka berdua saling tarik-tarikan buket bunga tersebut.


"Sepertinya kalian berdua ingin segera menikah. Menikahlah." Ucap Bian tersenyum melihat keduanya.


"Untukmu saja." Luna melepas buket itu


"Untukmu saja." Pria itu memberikannya.


"Kan kau yang mau segera menikah Wawan."


"Bukannya kau yang mau menikah."


"Mas Bianku sayang... mereka cocok ya." Ucap Una yang diangguki Bian.


~Tamat~


.


.


.

__ADS_1


Akhirnya selesai juga. Terima kasih buat like, komen, vote dan favoritnya. Terima kasih juga sudah mengikuti kisah Bian dan Una. Mohon maaf untuk segala kekurangan di novel ini.


Jaga kesehatan selalu ya. Love you all😘😘


__ADS_2