
HARAP BIJAK DALAM MEMBACA!!!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Jadi loyangnya diolesi mentega dulu, sebelum adonannya ditaruh.." Bunda menjelaskan cara membuat bolu pada Una. Sang anak mengangguk mendengarkan setiap tips dari Bundanya.
"Begitu ya Bun... mas Bian sebentar lagi mau ulang tahun, Una mau membuatkan bolu untuknya." Ungkap Una dengan wajah malu.
"Nanti Bunda ajarkan." Wanita paruh baya itu mencubit gemas pipi Una, membuat Una memeluk manja Bundanya itu.
'Awas kau!!!' Luna meremas tangannya, melihat keduanya yang begitu akrab tanpa tahu ada mata yang sedang memperhatikan.
"Mana mungkin ia anak kandung Bunda. Pasti wanita itu penipu. Ia sudah merebut Bian dan sekarang merebut Bundaku. Ia mau merebut semua keluargaku." Luna bermonolog sendiri berbolak-balik di kamarnya. Ia masih tak percaya Una adalah kakaknya.
'Dasar wanita tak tahu malu. Aku akan menghajarmu.' Bergegas keluar dari kamarnya.
Di dapur, Una dan Bunda mengobrol akrab sambil menunggu bolu matang dalam oven.
"Menjauh dari Bundaku..." Pekik Luna yang membuat kedua orang yang sedang mengobrol melihat ke arahnya.
"Jangan pernah menyentuh Bundaku dengan tangan kotormu itu." Luna menjauhkan Bundanya dari Una. Amarah menguasai hatinya.
"Luna, apa yang kamu lakukan?" Tanya Bunda mulai tak senang.
"Bunda, perempuan ini bukan anak kandung Bunda." Luna menujuk wajah Una.
"Dia ini tak pantas jadi anak Bunda. Dia ini wanita kotor. Wanita ****** memalukan-"
Plak
Satu tamparan melayang ke pipi Luna. Luna menatap Bundanya yang sudah berlinang air mata.
__ADS_1
"Bunda, kenapa Bunda menamparku demi dia?" Tanya Luna lirih. " Yang kukatakan benar. Ia hanya wanita malam yang menjijikkan."
"Diam, Bunda bilang diam. Kembali ke kamarmu." Dengan wajah memerah Bunda mengusir Luna.
Luna memegang pipinya yang merah dan berlalu pergi. Ia makin membenci Una.
"Una, maafkan Bunda, nak." Ia memegang kedua tangan Una, dengan terisak meminta maaf.
"Jika Bunda tak meninggalkanmu saat itu, kamu tak akan mengalami hal buruk. Bunda menyesal, nak. Bunda-" Wanita paruh baya itu tak mampu berkata lagi.
"Sudahlah Bun. Jangan terus menyalahkan diri Bunda." Una memeluk Bundanya.
"Saat itu Una memang dijadikan penebus hutang. Tapi Una juga tak lama berada disana. Una bertemu dengan mas Bian dan ia yang membebaskan Una dari sana." Jelas Una. Ia tak mau menjelaskan semuanya, bahwa Bian saat itu melakukannya hanya untuk lepas dari Luna.
###
"Jam berapa Mas?" Tanya Una di kamar. Ia sedang video call dengan Bian.
"Kita ketemu di lokasinya saja." Una tak mau Bian bolak balik lagi. "Atau aku ke kantor Mas Bianku. Boleh?"
"Boleh." Bian mengangguk setuju.
"Ya, sudah Mas. Aku mau bersiap dulu."
"Kamu mau kemana?" Tanya Bian mengerutkan dahinya.
"Tapi ke kantor Mas Bian. Ini sudah jam 1. Aku mau mandi dulu."
Bian tersenyum smirk. "Ya sudah mandilah."
"Baiklah. Aku tutup. Bye..." Una melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Tunggu.."
"Kenapa?"
"Siapa yang menyuruhmu menutup teleponku?"
"Aku mau mandi dulu, Mas. Aku mau ke kantor Mas."
"Saat mandi kamu kan tetap bisa meneleponku."
"Mana bisa, itu-" Ucapan Una terhenti, ia menatap Bian yang senyum-senyum tak jelas.
"Sayang, aku mau lihat kamu mandi."
"Dasar mesum!!!" Pekik Una memutuskan video call mereka.
Bian menatap layar ponselnya itu, Una sudah mengakhiri video callnya.
'Dia malu apa sih? aku kan suaminya.' Bian mendengus pada ponselnya.
'Una itu pemalu, berarti aku harus bertindak agresif.'
Pikiran Bian mulai menjelajah, membayangkan sedang berciuman mesra dengan sang istri. Menciumi seluruh tubuh Una, tak lupa tangannya ikut mendaki gunung lewati lembah. Dan lalu...
'Astaga... apa yang kupikirkan??' Bian meruntuki pikiran itu. Pikiran yang membuatnya sesak.
'Kenapa aku cuma membayangkannya? aku tak akan berdosa jika melakukannya, bukan?' Bian tersenyum penuh arti.
.
.
__ADS_1
.