TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 34


__ADS_3

Bian naik ke ranjang, ia menatap Una yang sedang tertidur pulas. Dengkuran halus berhembus dari wanita itu.


Mata Bian tak lepas memandangi Una. Wanita disampingnya itu sangat cantik, bahkan saat tidur tak dapat menyembunyikan kecantikannya.


Pria itu berbaring di samping Una. Mengelus kepala wanita cantik itu dengan sayang. Memberi kecupan di pucuk kepala Una sampai beberapa kali. Bian tak tahu apa yang dirasakannya pada Una sekarang, tapi saat ini ia hanya ingin melindungi sang istri dan membuat wanita itu bahagia.


"Bunda..." Una tersentak kaget dan terbangun dari tidurnya. Ia pun melihat seseorang di sampingnya.


"Bunda... Bunda jangan tinggalin Una lagi, ya." Dalam penglihatan Una yang antara sadar dan tidak, saat ini yang berada di sampingnya adalah sang Bunda.


Wanita yang begitu dirindukannya selama ini...


Wanita yang ingin ia peluk erat...


"Bunda... tolong jangan tinggalkan Una." Una memeluk tubuh Bian yang dia sangka adalah Bundanya.


'Apa dia begitu merindukan orang tuanya?' Bian mengelus-elus punggung Una. Menenangkan wanita itu.


Una mempererat pelukannya, ia merasa begitu nyaman dipelukan itu. Hingga tak butuh waktu lama ia sudah kembali tertidur.


"Wan... kamu cari kembali info tentang istriku Una. Berapapun bayarannya aku tak peduli." Ucap Bian menelepon Wan.

__ADS_1


'Aku akan mencari orang tuamu.' Bian sudah bertekad akan mencari orang tua Una sampai kepelosok manapun. Ia ingin Una tersenyum bahagia.


'Bunda... kok rata. Tonjolannya mana?'


Dengan mata masih terpejam, tangan Una meraba-raba bagian tubuh depan Bian yang ia kira adalah Bundanya. Ia mencari bagian identik dari seorang wanita. Tapi kenapa tubuh ini begitu rata. Kemanakah tonjolan itu?


'Astaga...' Bian memegang tangan Una yang meraba-raba tubuhnya. Akan berbahaya jika Una sampai meraba tonjolan yang lain.


'Lho... mana Bunda?' Una membuka matanya dan melihat Bian yang ada di sampingnya. Merasa tak benar dengan penglihatannya Una kembali menutup mata, lalu membukanya kembali. Dan masih ada pria itu yang menatapnya tajam.


"Akh..." Teriak Una yang langsung sadar. "Tu-tuan apa yang sudah anda lakukan?" Tunjuk Una pada Bian.


Una bernafas lega melihat dirinya masih berpakaian lengkap, berarti pria ini tidak memperkosa dirinya.


Bugh


Bian tak jadi melanjutkan perkataannya karena Una sudah melempar wajah tampannya dengan bandal.


Aura mencekam terasa di kamar itu, karena sorot mata tajam yang begitu mengintimidasi. Dengan cepat Una segera turun dari ranjang dan masuk kamar mandi.


"Una..." Panggil Bian dengan perasaan kesal.

__ADS_1


###


Bian menonton tv di ruang nonton. Ia melirik Mama dan Una yang sedang mengobrol. Pria itu menkecilkan suara tv, ia akan menguping pembicaraan mereka.


"Kamu jangan sedih lagi ya. Anggap Mama dan Papa sebagai orang tua kamu juga. Mama pasti akan selalu menyayangimu." Mama memeluk Una. Ia sudah menganggap Una sebagai anaknya. Ia cuma punya satu putra, yang sangat bandal dan selalu menjawab saja tahunya.


Bian tadi sudah mengatakan pada Mama jika Una sakit karena merindukan orang tuanya, bukan karena stres dituntut hamil olehnya.


Bian tersenyum kecil melihat interaksi keduanya yang membuat terharu. Ia melihat mata Una sampai berkaca-kaca menahan agar ia tidak menangis.


"Mama juga sudah tahu kalau kamu belum hamil."


Una mengalihkan pandangan ke arah Bian. Ia bingung mau menjawab apa.


"Kamu nggak usah dengerin Bian kalau ia menuntut kamu untuk segera punya anak. Kehadiran anak itu hanya masalah waktu. Jika belum diberi sekarang kita harus bersabar dan tetap berusaha. Jangan itu jadi pikiran kamu..." Mama mengoceh panjang menasehati Una. Bagaimana pun kehadiran anak dalam rahim bukan kapasitasnya manusia. Manusia hanya menjalankan prosesnya saja.


Una mengangguk mendengar nasehat Mama, ia senang Mama menasehatinya sambil mengelus kepalanya. Rasanya ia ingin menangis karena begitu bahagia.


'Apa begini rasanya punya orang tua?'


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2