TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 56


__ADS_3

"Ma, kenapa tubuh Una masih panas?" Bian menempelkan tangan dikening Una.


"Tadi dokter sudah memeriksa dan memberikan obat pereda demam." Ucap Mama. Tadi wanita paruh baya itu akan membawakan Una kue buatannya. Tapi saat sampai kamar ia mendapati Una terbaring di ranjang. Badannya sangat panas hingga ia pun segera memanggil dokter.


Mata sendu Bian menatap keadaan sang istri. Air mata Una terus mengalir meski mata itu tertutup. Apa karena suhu tubuhnya, atau karena ada hal lain yang begitu menyedihkan.


"Nanti kalau dia sudah bangun, suruh makan. Una belum makan siang." Mama memberitahu.


"Sayang bangun..." Bian akan menepuk pipi Una pelan. Menyuruh wanita itu untuk makan siang, karena ini sudah terlalu sore untuk makan siang.


"Biarkan dia istirahat dulu." Mama menahan tangan Bian.


"Tapi Ma, Una belum makan."


"Tunggu sampai Una bangun.


###


Bian berbaring di samping Una, matanya terus menatap wajah pucat tersebut.


'Kenapa sekarang ia sering sakit?'


Bian menempelkan tangan di kening Una. Demamnya sudah agak menurun.


Cup


Satu kecupan Bian daratkan di kening Una. Hatinya sedih melihat Una sakit.


"Mas..." Una tersentak dan terbangun. Ia melihat Bian berada di sampingnya.


"Aku ada di sini." Bian membawa tubuh yang masih hangat itu dalam pelukannya.


"Mas.."


"Iya sayang..." Bian menyeka air mata di pipi pucat istrinya.

__ADS_1


"Mas, jangan tinggalkan aku."


"Ada syaratnya." Ucap Bian menatap mata berair itu.


"Syarat? aku sedang sakit Mas." Pria itu kelewatan, meminta persyaratan pada orang yang sedang sakit.


"Syaratnya itu kamu harus makan, sayang." Bian mengelus pipi Una.


Una menggeleng. " Aku nggak mau makan."


"Kamu harus makan. Aku nggak mau kamu sakit."


"Pokoknya aku nggak mau makan."


"Una..." Panggil Bian dengan begitu lembut.


"Aku nggak mau makan kalau nggak di suapi."


Tak lama Bian menyuapi Una. Hati wanita itu menghangat menerima setiap perhatian pria itu.


"Mulutku masih penuh, Mas."


"Ayo cepat di kunyah. Setelah habis makanan ini, minum obat. Lalu istirahat lagi." Pinta Bian.


"Kenapa Mas terburu-buru sih?" Una mengunyah dengan malas. Makanan yang masuk ke mulutnya tak ada rasa.


"Aku mau peluk kamu."


Mulut Una yang sedang mengunyah terhenti, ia menatap mata yang selalu membuatnya berdebar.


"Kamu pasti sakit karena merindukan diriku."


Ekspresi wajah Una langsung berubah datar. Pria itu terlalu kepedean. Tingkat kepercayaan dirinya di atas rata-rata orang pada umumnya.


Bian menggenggam tangan yang lebih kecil darinya itu.

__ADS_1


"Mas..."


"Hmm..."


"Aku sudah kenyang."


"Lagi." Bian kembali akan menyuapi Una.


Una menggeleng menutup mulutnya. Ia tak berselera makan.


"Mas Bianku, mana peluknya!"


Bian tersenyum melihat wajah imut itu berkata manja padanya.


"Sebentar." Ucapnya bangkit meletakkan piring di atas nakas.


Wajah Una cemberut lalu tak lama mengulum senyum melihat Bian membawa seikat bunga.


"Untuk kamu."


"Terima kasih." Wajah Una merona, ia pun menghirup aroma mawar. Hatinya berbunga menerima bunga untuk pertama kali dari seorang pria.


"Sekarang minum obat dan istirahat." Bian mengambil minum dan obat yang diberikan dokter. Una langsung menenggaknya.


Tak lama Una berbaring dengan sang suami di sampingnya, yang memeluk seraya menepuk-nepuk pundaknya pelan.


Una mendekatkan kepala Bian dan menghujani pria itu dengan kecupan-kecupan singkat. Menkecup seluruh wajah tampan ciptaan Tuhan tersebut.


"Sayang, tidurlah." Bian kembali memeluk tubuh mungil itu. Apa yang dilakukan Una tadi, sedikit membuat jiwa liar pria itu bangun, Bian berusaha untuk menahan diri. Jika istrinya ini tidak sakit saja, Una pasti akan habis malam ini.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2