TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 8


__ADS_3

"Jadi begitu Va..." Ucap Una menceritakan apa yang telah dilaluinya pada Ziva.


Mereka sekarang berada di sebuah rumah kos-an kecil, dengan fasilitas yang cukup.


"Una Una..." Ucap Ziva lirih mengelus pundaknya. Mungkin kalau ia diposisi Una, mungkin bunuh diri jalan yang terbaik.


"Sudah kamu jangan sedih lagi. Kita harus buka lembaran baru. Oh iya, ini.." Ziva menyerahkan pada Una sebuah kartu ATM.


"Apa ini Va?" Una tampak bingung.


"Selama ini uang yang kau simpan padaku, aku simpan disitu. Pinnya tanggal lahirku."


Una menyerahkan kartu ATMnya kembali. "Kau saja yang pegang. Kita pakai untuk bayar sewa kos."


"Sewa kos sudah aku bayar sampai 3 bulan mendatang. Sudah, kau tenang saja Na. Itukan tabunganmu selama ini, kau bisa membeli pakaian atau hp. Jadi kita bisa berkomunikasi." Saran Ziva.


"Baiklah." Una tampak senang. Dengan uang dalam kartu itu ia akan membeli makanan yang enak, yang akan mereka makan bersama.


"Aku pergi sebentar Na, ada janji. Besok aku baru menemanimu shoping. Selama aku pergi kau jangan kemana-mana. Kalau beli makanan yang sekitar sini saja. Aku takut kau nyasar."


"Iya." Una mengangguk nurut. "Kau mau kemana?"


"Ada yang nawari kerja. Ntar kalau aku sudah kerja, aku akan mencarikanmu pekerjaan juga."


"Ziva..." Una memeluk teman satu-satunya itu. Teman yang selalu ada untuknya.


Siang itu Una lapar, ia pun keluar kos menuju rumah makan yang tak jauh dari kos-annya. Ia membeli nasi bungkus dan membayar dengan uang yang diambilnya dari Bian.


Saat berjalan pulang, ia melihat sekumpulan orang ia langsung berlari. Dan dengan mudah Una tertangkap.


"Beraninya kau kabur..."


###


"Untuk pernikahan kita nanti, kamu mau pakai konsep yang mana?" Tanya seorang wanita berambut panjang sebahu, menunjukkan beberapa foto konsep pernikahan.


Bian membuang nafas, ia sekilas melirik sang Mama yang duduk memantaunya. Wanita paruh baya itu mengisyaratkan sang anak untuk merespon.


"Yang mau menikah siapa?" Tanya Bian sinis.


"Bian..." Mama membulatkan matanya.


"Kita." Jawab Luna bahagia.


"Kita? dengar ya pernikahan itu atas dasar saling mencintai.."


"Tapi aku mencintaimu." Jawab Luna cepat.


"Aku yang tak mencintaimu."

__ADS_1


"Akan ku buat kamu mencintaiku."


"Hello... sadar. Seleraku bukan kamu." Cibir Bian.


"Bian..." Kompak Mama dan Luna berucap.


Pria tampan itu meletakkan telunjuk di bibirnya. Seolah mengatakan jangan berisik, ia akan mengangkat panggilan telepon.


"Halo Wan."


...


"Hmm." Wajahnya tersenyum sedikit. "Baiklah, aku akan kesana." Menutup panggilan teleponnya.


"Siapa?"


"Simpananku." Ucap Bian seraya melangkah pergi.


"Tante..." Luna menatap wajah Mama dengan mimik sedih.


Sementara Mama memijat pelipisnya. Sulit sekali buat Bian menurut.


Beberapa saat kemudian, Bian turun dengan pakaian santai. Memakai celana jeans panjang berwarna biru dengan kaos hitam berlengan panjang.


"Kamu mau kemana?" Tanya Luna melihat pria tampan yang begitu sangat wangi. Mungkin sebotol parfum yang disemprotnya.


"Kencan." Jawabnya santai.


"Tante... aku harus pergi." Luna berpamitan, ia harus segera mengikuti Bian. Tak memperbolehkan Bian dekat dengan wanita lain.


Mobil melaju sedang membelah jalanan. Dari spion Bian tersenyum. Ada mobil yang mengikutinya dari belakang, siapa lagi kalau bukan Luna.


Bian masuk ke lobi apartementnya. Ekor matanya bisa melihat Luna yang mengendap-endap mengikutinya. Ia langsung menuju lift dimana apartemennya berada.


Saat akan masuk..


"Bian..."


"Apa lagi sih?" Tanya Bian tak senang. Luna menghalanginya untuk masuk ke apartementnya.


"Kamu pasti berbohongkan?"


Bian mengkerutkan keningnya. "Untuk?"


Luna mendengus. Bian sudah tahu jawabannya, tapi pria itu masih saja bertanya.


"Bian... kenapa begini? apa sulitnya kamu nerima aku. Dari pada mencari wanita-wanita tak jelas."


Bian melipat tangannya. "Pergilah segera. Wanitaku akan segera datang. Tolong jangan mengganggu malam indahku." Bian langsung masuk dan menutup pintu tak peduli Luna yang menggedor-gedor pintu.

__ADS_1


'Bian... aku tak akan melepaskanmu.' Luna meremas tangannya geram.


Saat ia akan berjalan pulang, di lorong hotel ia melihat Wan datang dengan beberapa pria bertubuh kekar, seorang wanita berambut pirang. Dan satu lagi wanita cantik dengan pakaian yang begitu terbuka.


Luna tetap berdiri melihat. Ia ingin tahu apa Bian benar-benar memboking seorang wanita.


"Jangan berani kabur lagi. Atau aku akan membuatmu menjadi wanita malam selamanya." Bisik Mami Lisa.


Una hanya bisa diam dan pasrah. Untuk bebas ia harus melayani 10 pelanggan. Baru kabur dari pelanggan pertama, Mami Lisa begitu mudah menemukannya. Mau lari kemanapun, ia pasti akan tertangkap juga.


"Kami akan memantau sekitar apartement, untuk memastikan wanita itu tidak kabur lagi. Sekali lagi tolong maafkan kejadian semalam."


Wan mengangguk dan menyuruh Una segera masuk kedalam.


Una duduk di sofa dan pria itu menatapnya. Una hanya menundukkan kepala.


"Kemana kamu semalam? kabur?"


Una tetap diam tak merespon. Menggenggam kedua tangannya yang tampak gemetaran.


"Kamu mencuri uangku dan juga jasku. Aku bisa melaporkanmu pada polisi." Bian sengaja menekan Una yang wajahnya tampak pucat.


"Apa salahku? kenapa kalian semua jahat. Orang itu yang berhutang dan aku yang harus membayar dengan tubuhku. Bahkan ia begitu melindungi putrinya, hingga menggantinya dengan aku."


Air mata Una sudah menetes, rasanya dadanya begitu sesak. Ia ingin berteriak dan memaki orang.


"Tuan, bisakah anda membunuhku?"


Mata Bian membelalak mendengar ucapan wanita yang begitu frustasi. Pria itu segera mengejar Una yang berjalan menuju dapur.


"Apa yang kamu lakukan?" Bian menepis saat tangan Una akan mengambil pisau.


"Biarkan aku mati sekarang. Aku nggak mau jadi wanita malam. Aku nggak mau melayani 10 pelanggan." Una terisak-isak tubuhnya terhuyung. Bahkan kakinya gemetaran tak sanggup berdiri.


"Sudahlah, kamu istirahat." Bian menggendong Una, membawanya ke kamarnya. Ia sedikit merasa kasihan. Baru kali ini melihat ada wanita sefrustasi ini.


Setelah menyelimuti wanita yang tampak diam saja, Bian pun keluar kamar. Ia menelpon Wan.


"Wan... cari tahu tentang wanita itu segera." Pintanya.


Tak lama Wan menelponnya.


"Nona itu bernama Una. Tidak diketahui asal usulnya. Keluarga yang tinggal dengan Nona Una menemukannya terdampar di pinggir pantai dan mereka menyelamatkannya. Selama tinggal Nona Una dipaksa melakukan pekerjaan rumah. Saat sudah bekerja, mereka mengambil semua gajinya. Keluarga itu terlibat hutang dengan rentenir dan menjadikan Nona Una sebagai penebus hutang. Nona Una harus melayani 10 pelanggan untuk dapat melunasi hutang dan bisa hidup bebas." Wan menjelaskan panjang lebar semua info yang didapatnya. Bian mendengarkan dengan serius.


"... Dan anda adalah pelanggan pertamanya." Timpal Wan kemudian.


Bian mengangguk, "Terima kasih." Menutup panggilan.


Pria itu kembali lagi ke kamar, ia ingin melihat wanita malam itu. Dan alangkah terkejutnya ia sangat melihat Una.

__ADS_1


"Hei... kamu!!"


__ADS_2