TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 41


__ADS_3

"Pak Bian membawa istrinya ke kantor."


"Dari mana kau tahu?"


" Menurut gosip yang beredar, dari sekretarisnya. Ia mengatakan istrinya pak Bian datang."


"Wah... ternyata pria itu benar-benar sudah menikah."


"Mereka bilang, istrinya sangat cantik."


Desas desus kedatangan istri Bian menyebar cepat di seluruh departemen perusahaan itu. Tidak terkecuali kabar itu juga terdengar sampai departemen keuangan.


Luna meremas tangannya kesal mendengar kabar berita yang membuat emosinya seakan meledak. Ia pun bergegas menuju ke ruangan Bian untuk memberikan pelajaran pada Una.


'Dasar wanita ******, aku akan membuat perhitungan denganmu.'


Sementara di sebuah ruangan, Una masih diam berdiri menatap Bian yang masih berkutat dengan pekerjaannya.


"Mas..." Panggil Una memberanikan diri.


"Hmmm."


"Mas..."

__ADS_1


"Hmmm."


"Mas..."


"Hmmm."


'Dari tadi hmm hmm mulu, memang mau nyanyi apa?' Una kesal Bian menjawab seperti itu.


"Mas Bian tampan.." Bujuk Una memanggil pria itu.


Mendengar itu Bian melihat ke arah Una, tah kenapa ia sangat senang istrinya memanggilnya begitu.


"Mas Bianku yang paling tampan." Una sengaja menggunakan kata Ku, padahal ia hanya terpaksa.


'Bianku.' Pria itu pun jadi tersenyum karena tak dapat menahan rasa senangnya. Bianku, berarti Una menganggap ia adalah miliknya.


"A-apa?" Una membelalakkan matanya mendengar pinta pria itu.


"Kemarilah." Ucapan lembut Bian membuat Una mengangguk.


Dengan perasaan canggung, Una mendekat pada Bian. Pria itu segera menariknya hingga ia terduduk di pangkuannya. Hal tersebut sontak membuat jantung Una berdetak kencang.


"Terima kasih sayang." Bian pun tersenyum manis, karena Una sudah mau memuji dirinya. Rasa cemburunya pada Dino seolah sirna sudah.

__ADS_1


Sementara Wanita itu menatap Bian lekat. Ia jadi merasa bersalah, padahal itu hanya ucapan yang terpaksa, tapi bisa membuat raut wajah datar jadi bahagia. Bahkan Bian mengucapkan terima kasih, seolah pujian Una begitu berharga baginya.


"Kamu cantik, Na. Salah... kamu sangat cantik." Puji Bian menatap dalam sambil menepikan rambut Una. Di matanya Una adalah wanita yang paling cantik.


Apa yang dilakukan Bian makin membuat Una jadi kikuk. Bahkan wajah Una juga sudah memerah. Ia benar-benar gugup sekarang. Apa lagi posisinya sekarang sangat tidak nyaman.


Bian mendaratkan bibirnya. Mencium bibir Una, kembali menyesap rasa manis. Rasa yang membuatnya candu. Rasa yang selalu ingin terulang lagi dan lagi.


Una memejamkan matanya merasakan setiap ******* dari bibir Bian. Pria itu begitu lembut hingga membuatnya tak dapat menolak menikmati setiap rasa yang mengalir. Hatinya bahkan terus berdesir.


"Mas..." Una kaget saat Bian bangkit dan mendudukkannya di meja kerja. Pria itu masih menatapnya dengan kedua tangannya menghimpit tubuhnya.


Nafas keduanya saling berhembus cepat menerpa wajah masing-masing.


"Ini... ini-"


Bian memotong ucapan Una dengan ciuman yang masih berlanjut. Wanita itu ingin mendorong tubuh Bian pelan, tapi karena Bian makin memperdalam ciuman mereka, membuat tangan Una perlahan jadi melingkar di leher pria itu. Perlakuan Bian membuat Una melayang terbang.


Tubuh Una terasa meremang saat tangan itu menyentuh kulit tubuhnya. Entah sejak kapan tangan itu sudah masuk ke dalam bajunya. Mengelus tubuhnya dengan lembut. Una ingin menolak tapi hasratnya seolah enggan.


Una makin mengeratkan lingkaran tangannya, menahan gejolak perasaannya yang makin menggebu. Perasaan ingin memiliki pria itu seutuhnya.


Keduanya saling menikmati setiap rasa yang mengalir. Hingga...

__ADS_1


Gubrak


"Bi-Bian. Apa yang kalian lakukan???"


__ADS_2