
"Pa, kenapa Luna bekerja disini?" Tanya Bian begitu masuk ke ruangan sang Papa tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Pria paruh baya itu memegangi dadanya, memasuki usia yang mulai senja ia sangat mudah terkejut.
"Mau gimana lagi, permintaan kakeknya."Ucap Papa seolah pasrah.
"Tapi Papa kan bisa menolak."
"Sudahlah, kalau pekerjaan dia tak bagus pecat saja dia."
Bian pun diam, Papanya seperti malas membahasnya lagi.
###
Una sampai di sebuah Panti. Ia membawa banyak bungkusan yang akan di berikannya pada anak-anak tersebut. Mengingat dia juga pernah berada di tempat seperti itu.
Rasa terharu dirasakannya saat melihat senyum bahagia anak-anak panti tersebut. Senyum yang begitu polos dan jujur.
"Maaf... selama ini tak ada yang pernah mencari anak bernama Una." Ucap pengurus memberi tahu.
"Kalau nanti ada, tolong kabari saya ya Bu." Una memberikan nomor ponselnya. Ia berharap orang tuanya pernah mencarinya.
Pengurus pun mengangguk. Una pun pamit pergi dari panti itu.
'Seharusnya aku datang ke tempat yang dulu aku tinggali bersama orang tuaku. Tapi itu dimana?' Una duduk di halte menatap jalanan. Ia bingung dulu ia dan orang tuanya tinggal dimana? mungkin orang tuanya pernah mencarinya di sana.
Senyum pun terbit saat Una mendapat ide. Ia mengambil hpnya dan menelpon seseorang.
"Halo, Mas Bian..." Ucap Una lembut selembut-lembutnya.
"Ya..."Jawab Bian yang sedang berkutak dengan bertumpuk berkas. Pria itu tersenyum mendengar suara yang meluluhkan hati.
"Lagi apa?" Tanya Una.
"Memang mau apa ke kantor kalau tidak untuk bekerja." Jawab Bian cepat.
Una mencemberutkan wajahnya, ia yang salah tanya. "Ma-maksudku apa lagi sibuk?"
"Kenapa?"
"Kapan pulang?"
"Apa kamu begitu merindukanku?"
"Bu-bukan begitu." Sanggah Una cepat membuat Bian mengkerutkan dahinya.
"Kami dimana?"
"Masih diluar."
"Kemarilah."
__ADS_1
"A-apa?"
"Aku bilang kemari. Akan kukirim alamatnya."
"Ta-tapi."
"Aku tunggu." Bian memutuskan panggilannya tanpa mendengarkan apa yang mau Una katakan.
'Dia tak mau mendengarkanku.'
Ting
Satu pesan masuk. Bian mengirim alamat kantornya.
"Datanglah, aku menunggumu." Una membaca pesan masuk yang dikirimkan Bian.
Tak lama di ruangannya Bian mondar mandir. Sudah lebih dari setengah jam dan Una belum datang juga. Mau menelepon tapi ia gengsi. Ia memilih akan menunggu saja, jika sampai jam pulang kerja Una juga tidak datang. Berarti istrinya itu tidak mau bertemu dengannya.
Bian membenarkan penampilannya sambil menepuk-nepuk jasnya, seolah tak mau ada debu yang melekat disana.
Tok
Tok
Tok
Bian kembali duduk ke kursi kebesarannya, ia berolah raga muka terlebih dahulu Pria itu sengaja memasang wajah datar.
"Maaf pak. Istri anda sudah datang." Ucap sekretaris wanita setelah membuka pintu. Bian tadi sudah berpesan bahwa istrinya akan datang.
"Biarkan masuk." Ucap Bian masih datar, padahal dalam hati bersorak gembira.
"Silahkan masuk Bu, Pak Bian sudah menunggu di dalam." Sekretaris itu mempersilahkan Una masuk ke ruangan Bian.
"Terima kasih." Una pun melangkah masuk.
Sekretaris tersenyum tapi pandangan matanya menatap lekat.
'Ternyata seleranya seperti ini.' Batin sekretaris itu minder, lalu ia pun menutup pintu.
Una diam berdiri melihat Bian yang sibuk.
"Duduklah."
Una pun mendudukkan diri di sofa. Matanya menyusuri ruangan itu.
Tanpa disadari Bian tersenyum melihat Una, tapi saat wanita itu melihat ke arahnya. Pria itu langsung menatap kembali berkas-berkas itu. Ia mencuri-curi pandang dari Una.
"Apa rindumu sudah terobati melihatku sekarang?" Bian menutup berkas-berkas itu. Besok saja akan dilanjutkannya kembali. Pria itu bangkit dan mendudukkan diri di samping Una.
'Pede amat.' Batin Una.
__ADS_1
"Si-siapa yang merindukanmu." Sanggah Una yang tak terima di anggap begitu.
"Jadi ada apa tadi meneleponku?" Tanya Bian yang menutupi rasa malu karena Una menyanggah ucapannya.
"A-aku mau minta tolong sama Mas.."
'Astaga... kalau ada maunya.' Bian berusaha berwajah datar melihat wajah Una yang begitu imut saat meminta tolong padanya.
"Minta tolong apa?"
"I-itu..."
Tok
Tok
Tok
"Masuk..." Ucap Bian dengan nada sinis, ada saja yang mengganggunya sekarang.
Wajah Una senyum sumringah melihat sosok pria yang masuk. Ekspresi Una mengundang kesal Bian.
"Ah, maaf sepertinya aku mengganggu. Aku akan ke ruangan Om saja. Bye..." Dino pun pergi, tadi ia mengira Bian sedang sendiri.
"Orangnya sudah pergi." Bian berkata sinis melihat Una yang masih senyum saja. Padahal Dino sudah pergi.
"Mas Dino makin tampan ya." Ucap Una malu.
"Aku?"
"Mas kenapa?"
"Aku tampan nggak?" Bian sengaja makin mendekatkan jarak mereka.
"I-itu..." Una pun bangkit, ia merasa gerah karena Bian yang begitu dekat.
"Aku tak mengizinkanmu memuji pria lain." Bian juga bangkit dan menatap Una tajam. Ia sangat kesal Una begitu.
"Tunggulah sebentar lagi. Kita akan pulang." Bian menghela nafas lalu kembali menuju kursi kebesarannya. Kembali mengerjakan pekerjaannya.
Una hanya diam, berdiri melihat Bian yang sibuk bekerja. Bahkan pria itu memasang wajah datar dan tak pernah menoleh ke arahnya.
'Apa dia marah karena aku tak mengatakan dia tampan? Kekanak-kanakkan, seperti itu saja ia ngambek.'
.
.
.
Happy weekend 🤗
__ADS_1