TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 50


__ADS_3

"Mas Dino kerja dimana?" Una sangat kepo ingin tahu tentang Dino.


"Aku meneruskan perusahaan keluarga, Na." Jawab Dino sambil melajukan mobilnya membelah jalanan.


"Wuih, mas Dino pria sukses. Ya kan, Va." Ucap Una menoleh ke belakang. Tadi Una menyuruh Ziva duduk di samping Dino, tapi wanita itu menolak. Hingga akhirnya ia yang duduk disitu. Jika mereka berdua di belakang, Dino akan seperti supir pribadi.


"Apa?" Ziva sepertinya melamun.


"Mas Dino pria sukses. Sudah tampan, pekerja keras lagi." Puji Una melihat Ziva, seolah menyuruhnya mengiyakan ucapan tersebut.


Ziva hanya senyum terpaksa melihat Una. Ia tahu Una sedang mencoba untuk mencomblangi dirinya dengan Dino.


"Kamu bisa saja, Na." Tawa Dino. "Aku ini nggak sebanding sama suami kamu, Bian."


"Hmm?" Tanya Una.


"Bian itu nggak diragukan lagi, dia itu sangat sukses. Jika ia tahu kamu memujiku, tanduknya pasti akan keluar." Ucap Dino meletakkan telunjuk di kepala, seolah itu adalah tanduk.


"Haha... tapi kan mas Bian nggak tahu Mas." Tawa Una membayangkan tanduk di kepala Bian. Pasti akan sangat menyeramkan.


Dino menepikan mobil di depan kos-an. Ziva turun. Una pun ikut turun.


"Kalau ada apa-apa kabari aku." Una memeluk Ziva.


"Iya."


Una pun melambaikan tangan pada Ziva, saat mobil yang ditumpanginya melaju meninggalkan kos-an Ziva.


'Kalau Ziva sama mas Dino, Ziva tak perlu sendirian lagi.' Una tersenyum melihat Dino yang fokus menyetir.


###

__ADS_1


Bian mengetik pesan, hapus, ketik lagi, hapus lagi. Ia ingin mengirim pesan pada Una. Tapi bingung mau mengatakan apa.


Apa memarahi istrinya karena ternyata jalan dengan Dino?


Atau langsung menuduh Una berselingkuh di belakangnya?


Atau menanyakan apa maksud foto itu?


Bian menghela nafas, berusaha untuk tenang. Meski kini rasanya emosi itu masih memuncak.


'Bicarakan baik-baik. Apa Una akan jujur padaku?' Bian mencoba berdamai dengan emosinya. Ia tahu Una dulu menyukai Dino, jadi ia akan bertanya baik-baik apa hubungan kedua orang itu.


Bian bangkit dan menuju balkon saat mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya. Ia tersenyum kesal saat melihat Una turun dari mobil itu. Ia sangat kenal dengan mobil itu . Siapa lagi kalau bukan milik Dino.


Mata Bian menatap tajam pemandangan yang makin membuat nafasnya bergemuruh. Una melambaikan tangan pada pria lain.


'Nggak bisa dibiarkan!"


'Baiklah, aku akan dengarkan apa yang akan dikatakannya.'


Cekrek


Tak lama pintu kamar terbuka, Una pun masuk dan melihat Bian berbaring di ranjang. Ia meletakkan tas belanjaan di Nakas. Dan berjalan ke samping ranjang.


'Ada urusan katanya? apa ini urusannya?' Una mendengus sambil menyelimuti tubuh Bian.


Cup


Una menkecup kening Bian, lalu ia akan melangkahkan kaki.


Langkahnya terhenti saat Bian memegang tangannya dan menarik Una padanya.

__ADS_1


"Ma-Mas.." Ucap Una gugup saat tubuhnya terjatuh di atas tubuh pria itu. Una merasakan degupan jantung yang saling bersahut.


"Kenapa kamu begitu lama?" Bian mengeratkan tangannya di tubuh Una.


"Aku sudah cepat Mas, ini saja masih jam 4." Jawab Una menatap mata Bian.


"Apa kamu merindukanku?" Tanya Bian dengan tatapan lembut yang berharap.


Dag


Dig


Dug


Lagi-lagi hatinya baper pada tatapan mata itu.


"A-apa aku harus menjawabnya?" Tanya Una pelan.


Bian mengangguk. "Aku ingin mendengarnya, sayang."


Una pun tersenyum. "Jika aku bilang iya, apa Mas akan memberiku 100 Mall beserta isinya?"


Bian yang geram pun menggigit hidung Una.


"Aduh Mas..."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2