
"Astaga... lihat Bundamu malah meninggalkanmu." Ucap Bu Siska setelah membaca surat yang ditinggalkan Rosa.
'Mana mungkin Bunda meninggalkanku.' Batin Una. Ia belum bisa membaca, Bu Siska pasti berbohong kepadanya.
"Mana Ayahmu?" Bentak Bu Siska. "Berani-beraninya mereka kabur dan menjadikan anak tak berguna sepertimu sebagai jaminan." Wajah Bu Siska sangat emosi.
Una sangat ketakutan melihat ekspresi Bu Siska saat ini. Sangking takutnya air matanya sampai jatuh.
"Ikut aku."
###
Sudah setahun Una tinggal dengan keluarga Bu Siska. Wanita kejam itu menjadikan Una sebagai pembantu. Mencuci puring, menyapu rumah, mencuci baju, menyetrika dan hanya tak memasak saja. Ia takut anak itu akan meracuninya.
"Jangan malas,sudah numpang. Pantaslah orang tuamu membuangmu." Bu Siska melemparkan baju kotor ke wajah Una. Bocah itu hanya bisa diam mengusap air matanya.
Una hanya seorang anak kecil. Yang tak bisa melakukan semua pekerjaan yang diperintahkan. Jika ada kesalahan Bu Siska tak segan memaki dan bahkan sampai menamparnya.
"Ayah, Bunda... Una rindu. Kalian dimana? Una janji nggak mau minum susu lagi." Ia menangis melihat dari jauh tempat tinggalnya dengan kedua orang tuanya dulu yang kini sudah di sewakan Bu Siska.
Una mengusap air matanya, ia harus segera pulang. Ia belum memasak nasi, ia takut dimarahi Bu Siska lagi.
"Aku pulang." Ucap Tasya, anak perempuan Bu Siska.
Begitu sampai rumah, Tasya mengotori rumah yang sudah dibersihkan bocah kecil itu. Sepatu di teras, tas di ruang tamu, seragam di dapur. Berhamburan di semua tempat.
Una mengutipi satu persatu. Tasya itu tak bisa meletakkan barang pada tempatnya. Kalau nggak segera dibereskan, Bu Siska akan memarahinya.
"Aku lapar, ambilkan makananku." Pintanya menghidupkan tv.
"Na-nasinya masih di masak."
"Apa? jam segini kau belum masak nasi. Apa saja yang kau lakukan? dasar nggak berguna, akan ku adukan kau pada Mamaku."
Malam itu Una menangis pelan di ruang tamu, Memegangi pipinya yang merah. Ia pun membaringkan tubuhnya di tikar. Selama ini Una hanya di izinkan tidur di ruang tamu. Tapi tidak boleh di sofa.
"Kamu kenapa?"
Una terbangun mendengar suara itu. Itu suara suaminya Bu Siska. Bocah itu menjauhkan dirinya melihat wajah nafsu pria tua itu.
Dulu Una sangat kurus, tapi semenjak tinggal dengan Bu Siska badannya jadi berisi. Tasya setiap makan tak pernah habis, sisanya itu yang selalu Una makan. Bu Siska hanya memberinya makan nasi dengan kecap.
"Kamu jangan nangis, air matanya sayang. Mending layanin aku." Pria itu itu memegang tangan Una.
Ia ingin memperkosa bocah kecil itu. Nafsunya benar-benar ingin mencicipi mangsa kecilnya.
__ADS_1
Una mencoba memberontak tapi tenanganya hanya seperti elusan saja bagi si tua bangka itu.
Pletak
Sapu terbang mendarat di kepala pria tua itu, sebelum memulai aksinya.
"Siapa yang..." Pria tua itu terdiam melihat istrinya, tak jadi melanjutkan ucapannya.
"Apa yang mau kau lakukan?" Bentaknya pada sang suami.
"I-itu itu... bocah ini yang menggodaku." Menunjuk Una.
Bocah itu gemetar ketakutan. Takut Bu Siska akan menghajarnya malam ini.
"Jangan berani kau menyentuhnya. Atau aku akan mengusirmu dari rumah ini." Bu Siska mengaum seperti singa, suaminya langsung ciut.
Bu Siska menarik Una dan membawa ke dalam kamar Tasya.
"Tasya... Anak ini mulai sekarang tidur di sini."
"Tapi Ma..."
"Ia akan tidur di lantai."
"Kalau malam tidur tutup pintu." Bu Siska tak akan membiarkan siapapun menyentuh Una. Ia sudah merencanakan dalam beberapa tahun lagi akan menjadikan Una sebagai penghasil uang untuknya. Una akan menjadi pekerja malam.
Esok harinya Una sudah selesai mengerjakan semua pekerjaan yang Bu Siska suruh.
"Heh... sini kau." Panggil Bu Siska.
Una langsung menenggak habis minumnya dan menghampiri Bu Siska.
"Ini... beli beras 10 kg, gula 2kg, minyak makan 2kg, mie instans 10 bungkus..."
Pesanan Bu Siska cukup banyak hingga ia sulit mengingatnya.
"Cepat belinya, aku mau masak." Menyerahkan uang dua ratus ribu.
Una pun pergi, jika lupa paling Bu Siska paling akan memarahinya atau tangan wanita itu akan menempel di wajahnya. Bocah itu seperti sudah kebal dan terbiasa.
Saat menuju warung, suami Bu Siska menariknya paksa, membawa ke semak-semak.
"Kau kira kau akan bebas dariku." Pria tua itu akan memegang tubuh Una.
Bocah itu repleks menendang agar pria tua nafsuan itu menjauh darinya.
__ADS_1
"Aww... kurang ajar." Makinya pada tendangan Una yang malah mengenai benda pusakanya.
Una berlari ketakutan, ia tak peduli umpatan pria tua itu. Kakinya gemetaran. Mana pria tua itu mengejarnya lagi.
"Aw..." Karena tak fokus, Una masuk ke dalam kubangan.
Pria tua itu malah tertawa. "Makanya nurut. Melihatmu sekarang aku jadi tak bernafsu. Mandi sana."
Una keluar dari kubangan setelah pria tua itu pergi. Pakaiannya kotor sekarang, bahkan ia juga bau.
Bocah itu takut pulang ke rumah, pria tua itu pasti akan mengusiknya terus. Perlakuan Bu Siska pun sangat kejam padanya. Ia harus kabur agar terbebas dari mereka.
Mata Una melihat mobil pickup yang sedang berhenti. Ia pun pelan-pelan naik dan bersembunyi di balik sayur-sayuran.
Tak lama mobil pickup itu melaju. Ada kelegaan di hatinya. Berharap di tempat yang jauh, akan ada orang yang menyayanginya. Dan ia juga yakin suatu hari nanti akan bertemu dengan kedua orang tuanya itu.
"Hei... apa yang kau lakukan di sini? mau maling?" Supir akan membongkar muatannya.
Una menggeleng. "Nggak pak."
Dengan cepat bergegas turun dan berlari pergi, mengacuhkan supir itu yang memarahinya.
Una melihat sekeliling, ia berada di pinggir jalan. Kenderaan berlalu lalang. Tak tahu berada di mana ia sekarang?
Pejalan kaki yang lewat menutup hidung mereka ketika melewati Una. Sambil saling berbisik mengatakan bocah kecil itu sangat bau dan jorok.
Mobil patroli yang sedang merajia pemulung dan anak jalanan, membawa Una ke kantor polisi.
"Siapa namamu?" Tanya Pak Polisi menutup hidungnya.
"Una."
"Nama orang tua?"
"Reno dan Rosa."
"Nama panjang, tadi kamu bilang kamu terpisah dari orang tuamu. Bagaimana mau mencari orang tua kamu, nama seperti ini sangat banyak diluar sana." Pak Polisi menghela nafas melihat bocah bau itu hanya diam saja.
Una di bawa ke Panti. Bocah itu sangat menyukai tempat itu. Ia di sekolahkan, diberi makan dan pakaian. Dan yang penting ia tak pernah dimarahi ataupun ditampar.
Jika ada yang berdonasi, mereka di bawakan makanan yang enak, pakaian bagus, peralatan sekolah dan juga berbagai mainan yang dapat mereka mainkan bersama-sama.
Una bersyukur berada di tempat ini. Tempatnya cukup nyaman, pengurusnya baik dan yang pasti teman-temannya banyak sekarang. Ia juga berpikir di tempat ini, kedua orang tuanya pasti akan mudah mencarinya.
'Ayah, Bunda... Una menunggu kalian menjemput Una di sini.'
__ADS_1