
"Papa, Mama... Dinda nggak mau." Teriak anak Bu Ita saat beberapa pria tegap memeganginya.
"Tolong lepaskan putriku." Isak Bu Ita akan menolong anaknya dari pria-pria sangat itu.
"Tolong lepaskan dia. Aku akan membayar hutangku besok." Ucap Pak Izal, suami Bu Ita.
Pak Izal memegangi kaki seorang wanita berambut pirang. Yang melihatnya jijik.
"Jauhkan tanganmu dari kakiku." Ia menghardik sambil menghempas kakinya.
"Hei... besok, besok, besok. Hutangmu sudah menumpuk. Kau hanya bisa bilang besok besok besok." Wanita yang terkenal dengan panggilan Mami Lisa tersebut mentoyor kepala Pak Izal.
"Jadi biarkan putrimu yang membayarnya." Tawa Mami Lisa.
"Tidak... aku tidak mau." Histeris Dinda tak mau jadi pembayar hutang Papanya yang seorang tukang judi.
"Tolong jangan bawa putriku. Bawa aku saja, aku bisa melakukan apapun." Bu Ita mengiba. Sebagai ibu ia tak mau putri kandungnya menjadi wanita malam, hanya untuk melunasi hutang suaminya yang tidak berguna.
"Jangan, bawa aku saja. Aku yang berhutang bukan mereka. Aku yang akan menanggungnya." Pak Izal juga nggak mau istri dan putrinya yang menanggung semua.
Mata mereka tertuju pada seseorang yang baru masuk rumah. Wajahnya tampak bingung melihat keramaian di rumah itu.
"Dia... bawa dia saja." Tunjuk Bu Ita cepat.
Wajah Una tampak bingung kenapa ia ditunjuk begitu. Sementara Mami Lisa melihat Una dari atas hingga atas lagi.
'Harganya pasti tinggi. Boleh juga..'
Mami Lisa mengisyaratkan pada anak buahnya.
"Lepaskan aku. Pak, Buk, apa yang terjadi? kenapa mereka memegangiku?" Tanya Una tak mengerti.
"Kami sudah menyelamatkanmu dan kau harus membalas budi. Jadi pergilah dengannya. Menurutlah apapun yang dikatakannya." Ucap Bu Ita. Ia akan mengorbankan Una saja, wanita yang hidup sebatang kara. Jika ia menghilang, tak ada yang mencarinya juga.
"Aku sudah bekerja untuk kalian bahkan gajiku juga kalian ambil. Aku nggak mau ikut dia." Una mencoba melepaskan diri, tapi pegangan pria-pria itu lebih kuat.
"Lepaskan aku.." Teriak Una.
"Jika kau mau aku melepaskanmu, bayar sekarang hutangnya." Bentak Mama Lisa menunjuk Pak Izal.
"Kenapa kalian membawaku? yang berhutang pak Izal bukan aku." Air mata Una sudah jatuh membasahi pipinya.
"Bawa dia." Pinta Mami Lisa.
"Pak, Buk... tolong lepaskan aku." Una mengiba minta dikasihani, tapi Bu Ita tak menghiraukan. Ia memeluki putrinya yang begitu ketakutan.
Pak Izal dan Bu Ita tak memperdulikan Una yang menangis minta di selamatkan. Sekarang yang penting putrinya selamat.
__ADS_1
Mami Lisa membawa Una ke Club malam miliknya. Una bergidik ngeri berada disana. Wanita-wanita di tempat itu memakai pakaian kurang bahan dan bermanja pada pria-pria hidung belang berwajah mesum.
"Kau istirahat malam ini. Besok malam aku akan menawarkanmu. Dan kau harus melayani mereka sampai puas."
"Buk... a-aku bisa bekerja tapi jangan suruh aku melayani mereka."
"Kerja apa?" Cibir wanita berlipstik merah cerah itu.
"A-aku bisa menyapu dan membersihkan seluruh club malam ini. Anda tak perlu membayar gajiku."
"Cih, mau sampai kapan uangku kembali."
"Bukan aku yang berhutang pada Ibu, kenapa harus aku yang membayarnya?"
"Jaga dia. Jangan sampai ia kabur." Mami Lisa tak mau lagi berdebat. Banyak urusannya lagi.
Ajudan mengangguk dan memasukkan Una ke dalam kamar lalu ngunci pintu kamar. Ia akan berjaga di depan pintu kamar untuk menjaga agar wanita itu tidak bisa kabur.
"Hei... buka pintunya." Una menggedor-gedor pintu kamar. Ajudan itu tak bergeming, duduk santai didepan kamarnya.
Lelah setelah berteriak. Una memilih membaringkan tubuhnya di atas kasur. Air mata membasahi wajah cantik itu.
'Ayah, Bunda... kenapa hidupku seperti ini? bisakah kalian menolongku? aku sangat takut.' Una menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dadanya terasa begitu sesak sekarang.
\=\=\=
Panggilan itu terus berdering dengan terpaksa ia bangun dan melihat siapa penelepon yang sudah mengganggunya sepagi ini.
"Dia lagi." Pria itu melemparkan kembali hp ke bantal melihat nama penelepon JANGAN DIANGKAT.
Ia memilih berbaring kembali menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Tak lama hpnya hening. Tak ada panggilan masuk. Pria itu bernafas lega. Wajahnya seketika berubah saat hpnya berdering lagi.
Dengan malas melihat penelepon. Ternyata IBU SURI yang menelpon. Harus segera di angkat, ia bisa dikutuk jadi batu.
"Bi-an...." Suara menggelegar dari sebrang sana. Pria itu sampai menjauhkan hp dari telinganya.
"Ya Ma."
"Kenapa kamu nggak angkat telepon Luna?"
"Malas Ma."
"Kamu, cepat kamu angkat telpon dia. Kasihan dia kecarian kamu."
"Tapi Ma..."
__ADS_1
"Nggak ada tapi-tapi. Ingat kita berhutang budi pada keluarga mereka.."
"Baik yang mulia." Bian dengan cepat memutuskan sambungan telpon. Ia pusing dengan wanita yang bernama Luna.
Bian Arkana, pria tampan dengan tubuh proporsional adalah CEO perusahaan ARKANA GROUP. Perusahaan warisan keluarganya. Di usianya yang sudah menginjak 30 tahun, pria tampan itu belum menikah. Bukan karena tak laku, melainkan karena diganggu.
Setiap ia mencoba dekat dengan wanita, Luna anak teman Papanya dan juga tetangga sebelah rumah selalu menghancurkan PDKTnya. Wanita bernama Luna itu dari zaman ingusan begitu sangat tergila-gila padanya.
Keluarga mereka berniat menjodohkan, tapi Bian selalu menolak. Papa dan Mama selalu memaksanya karena mereka terhutang budi pada keluarga Luna. Dulu Ayahnya Luna yang membantu Papanya saat terpuruk.
Untung saja ia adalah seorang pria yang harus mengucapkan kata saya terima nikahnya terlebih dahulu. Jika ia wanita mungkin ia sudah menikah dengan sangat terpaksa.
"Hmm..." Bian terpaksa mengangkat telpon Luna.
"Bian... kenapa kamu nggak angkat telponku?" Tanya wanita dari seberang sana.
"Ada apa?" Tanya Bian dengan suara datar.
"Kamu dimana?"
"Di hotel. Kau menganggu kesenanganku dengan wanitaku."
Luna malah tertawa mendengar ucapan Bian. "Bian Bian, aku paham kamu. Kamu tak akan berani berbuat seperti itu."
Benar yang dikatakan Luna, ia tak berani seperti itu. Di hotel ini ia sendirian dan tak ada wanita.
"Aku sedang bersama wanita simpananku." Bian berbohong meyakinkan Luna lagi.
"Sudahlah. Kapan kamu pulang? kamu harus datang saat aku wisuda nanti."
"Baiklah, aku akan membawa wanita simpananku." Ucap Bian kesal seraya memutus panggilan teleponnya.
Setiap Luna menelepon, Bian selalu beralasan sedang bersama wanita simpanannya. Sengaja seperti itu agar Luna menjauhinya dan menganggap ia adalah pria cassanova. Tapi sayangnya wanita keras kepala itu tak pernah percaya. Luna sangat tahu bagaimana didikan keluarga Arkana, yang tak memperbolehkan hamil diluar nikah.
Bian menghela nafas sambil berpikir. Ia pun mengambil hpnya.
"Wan... carikan saya seorang wanita..." Pria itu menelan salivanya susah. Selama ini ia tak pernah berhubungan dengan wanita malam.
Tapi Bian sudah merencanakan sesuatu agar Luna segera menjauh darinya.
"Carikan yang muda dan cantik. Bawa ia ke kamar jam 10 malam."
.
.
.
__ADS_1