
"Mama pasti akan merindukanmu, sayang." Mely memeluk menantunya erat. Ia tek rela Una pergi. Wajahnya sampai basah oleh air mata.
"Sudahlah Ma, nanti sore mereka juga sudah kembali." Ucap Papa melihat drama Mama yang begitu berlebihan melepas kepergian sang menantu.
Bian cuma bisa menggeleng, Mamanya memang berlebihan. Ia dan Una hanya akan pergi ke pantai, mereka akan kembali pulang nanti sore. Tapi Mama mendramatisir seolah mereka akan pergi dalam waktu yang cukup lama.
Tadi malam Una menolak ajakan Bian untuk berlibur ke suatu tempat selama seminggu. Tapi karena Pria itu tetap memaksa akhirnya mereka akan tetap berlibur dan akan langsung kembali pulang di hari itu juga.
"Una pergi dulu ya Ma." Wanita itu menyalami Mama. Perasaannya terasa nyaman setelah dipeluk sang Mama.
"Mama ikut ya.." Pinta Mama dengan wajah berharap.
Bian menatap Mama dengan tatapan menolak, tapi Mama seolah tak peduli.
Wanita paruh baya itu akan memelas pada Una. Jika Una setuju dia ikut mereka, maka Bian tak akan bisa menolak.
"Kalian pergilah, hati-hati di jalan. Biar Mama, Papa yang urus."
"Kami pergi ya. Ayo, sayang..." Mendengar itu Bian langsung pamit dan menyeret Una.
"Papa..." Mama cuma bisa merengek melihat Una yang sudah dibawa Bian pergi.
Di perjalanan, Bian melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Matanya fokus ke jalan dan juga sering melirik-lirik Una. Wajah istrinya itu penuh senyuman saat ini. Ia cukup bahagia melihatnya, tidak seperti tadi malam yang membuatnya khawatir.
__ADS_1
"Halo..." Bian mengangkat panggilan dari Wan.
"Maaf Tuan, rapat akan dimulai pukul 9 pagi." Wan memberitahu jadwal Bian.
"Hari ini aku cuti. Kamu atur saja semuanya." Bian pun memutuskan panggilan tersebut.
'Cuti?' Wan merasa aneh. Semenjak ia bekerja, Bian tak pernah mengambil cuti.
"Siapa Mas?" Tanya Una penasaran.
"Tak ada." Jawab Bian mengelus kepala Una sambil memberikan senyuman manis.
Una pun membuang wajahnya ke samping kiri. Perlakuan Bian tak baik buat kesehatan jantungnya. Ia pun menkibas-kibaskan tangannya. Suasana di dalam mobil ini tiba-tiba terasa panas.
"Apa kamu kepanasan?" Tanya Bian sambil menyetel AC mobil.
'Dasar pemalu.' Bian senyum melihat wajah merona Una. Wanita itu pasti sekarang hatinya sedang berdebar-debar.
###
"Tapi Ma, aku yakin itu anakku." Terjadi perdebatan di ruang tamu rumah Rosa.
"Itu hanya perasaan kamu saja, Ros. Jelas-jelas anak kalian tewas dalam kebakaran itu." Nenek berusaha menyadarkan sang menantu. Yang terus mengira anaknya masih hidup.
__ADS_1
"Aku yakin Una anakku itu selamat dari kebakaran. Aku yakin Una masih hidup, Ma." Rosa masih meyakini hatinya, meski semua orang berkata itu hanya perasaannya saja yang belum mampu mengikhlaskan sang anak. Hingga membuat perasaannya tak menentu karena alasan nama mereka yang sama.
"Mas percaya anak kita masih hidup, kan?" Tanya Rosa dengan air mata bercucuran.
"Kamu tenang dulu." Reno mengelus menenangkan emosi Rosa.
"Rosa, kamu harus menerima kenyataan-"
"Nggak Ma, aku yakin dia itu anakku." Potong Rosa dengan ucapan yang bergetar menahan kejolak kesedihan hatinya.
"Sudah, kalau kamu memang yakin. Kita akan lakukan tes DNA saja." Kakek menengahi perdebatan yang tiada akhir itu. Jalan satu-satunya adalah pembuktian.
"Untuk apa tes DNA? jika ternyata bukan anaknya Rosa, itu hanya akan menambah kesedihan saja." Nenek menyadarkan pada kenyataan.
"Kita akan lakukan tes DNa, Ma. Bisa saja anak kami selamat saat itu." Reno akan mempercayai filing Rosa.
Rosa tersenyum dengan wajah sendunya. Ia menggangguk pelan. Ia sangat yakin jika Una memang anaknya. Hatinya tak mungkin salah.
"Kita akan lakukan tes DNA, sekarang." Putus kakek, ia juga merasakan perasaan aneh saat melihat Una.
"Tes DNA?"
.
__ADS_1
.
.