
"Lepaskan aku, biarkan aku mati saja."
Bian memegangi Una yang berteriak histeris. Tadi begitu akan masuk, ia melihat Una akan naik ke jendela. Sepertinya wanita ini benar-benar ingin mengakhiri hidup.
"Kamu tenanglah." Bian memeganginya tubuh wanita itu, yang berusaha mendorongnya. "Aku bisa membebaskanmu.."
Isak tangis Una terhenti menatap Bian, "Benarkah?" Una mengusap air matanya.
Tak berapa lama, di ruang tamu...
"Jadi aku harus menjadi simpanan Tuan?" Tanya Una tak mengerti.
Bian mengangguk. "Kamu hanya perlu menjadi simpananku sampai wanita bernama Luna itu melepaskanku." Ucap Bian.
Bian sudah merencanakan akan berpura-pura menjadikan wanita malam itu simpanannya. Hal tersebut dilakukan agar Luna tak mengejar dirinya lagi.
Selama ini Luna tak pernah percaya pada perkataannya, karena wanita keras kepala itu tak pernah melihat secara langsung Bian bersama seorang wanita pekerja malam, yang imagenya tidak bagus. Tapi sekarang Bian sangat yakin, rencananya ini akan membuat Luna mundur.
Bian melihat wajah Una yang masih kebingungan, seolah masih ada banyak pertanyaan di kepalanya.
"Tenang saja, aku tak akan melakukan hal yang tidak-tidak padamu. Kamu hanya perlu bersikap mesra padaku saat ada wanita itu. Dan selama itu kamu harus tinggal di sini, untuk lebih meyakinkan."
Benar, dengan Una tinggal di apartementnya. Bian akan seperti sugar daddy bagi Una dan itu pasti akan membuat Luna ilfiil padanya.
Mendengar penjelasan Bian, wajah Una tambah ketakutan. Ia jadi berpikir hal yang tidak-tidak, jika tinggal berdua di apartement ini dengan seorang pria asing.
"Aku tidak akan tinggal di sini. Aku akan pulang ke rumahku." Tambah Bian lagi. "Bagaimana? kalau kamu nggak mau, aku bisa mencari wanita lain."
"Kalau aku setuju, apa aku bisa bebas dari wanita pemilik club itu?" Walaupun nggak yakin jadi simpanan Bian, tapi setidaknya bisa lepas dari jerat Mami Lisa.
Bian mengangguk. "Pasti."
"Apa ucapan Tuan bisa dipercaya?"
Bian menarik nafas panjang, wanita di hadapannya ini mencoba bernegosiasi dengannya.
"Apa kita perlu surat perjanjian?"
Pria itu tersenyum kesal melihat anggukan Una.
Tak lama kemudian...
"Bacalah dan tanda tangan." Bian menyodorkan selembar kertas berisi perjanjian tertulis.
'Surat perjanjian menjadi wanita simpanan.'
Una membaca tiap poin, yang berisi ia harus bersiap seromantis mungkin pada pria di depannya ini saat ada wanita yang bernama Luna. Ia juga harus tinggal di apartement ini. Segala keamanan dan kebutuhannya di tanggung Bian. Pria itu juga tidak akan melakukan perbuatan yang tidak-tidak padanya.
"Satu lagi, kamu harus memanggilku Sayang."
__ADS_1
"Apa?"
"Saat ada dia." Ucap Bian. "Mau atau tidak?" Tanya Bian kesal, terlalu lama Una berpikir.
Una pun menandatangi kertas tersebut. Ia hanya harus bersikap mesra saja, dari pada ia harus menjadi wanita malam.
"Jadi sekarang..."
Kruk
kruk
kruk
Ucapan Bian terhenti mendengar suara nyanyian perut. Una menundukkan kepala, rasanya sangat malu.
'Astaga.'
Bian hanya bisa menggeleng melihat Una yang begitu lahap makan. Una seperti orang yang sudah beberapa hari tidak makan.
"Masih lapar?" Tanyanya melihat 2 kotak ayam penyet bersih dilahap wanita kelaparan itu.
Una pun menggeleng malu. Tapi mau gimana lagi, ia memang sangat kelaparan.
"Besok kita akan membeli kebutuhanmu. Mana hpmu? aku akan menghubungimu agar kamu segera bersiap. Jadi aku tak perlu menunggumu."
Bian menautkan alisnya tak percaya. Zaman sekarang semua orang punya hp. Bahkan anak SD saja sudah punya. Tapi wanita ini tidak punya.
"Besok kita beli. Aku pulang dulu. Jangan berani kabur, jika kamu kabur aku akan menghubungi Club malam itu. Agar mereka segera mencarimu." Bian menakuti Una.
"Baiklah." Jawab Una pasrah.
Bian akan membuka pintu, ia pun berbalik dan menatap Una.
"Kenapa?" Tanya Una bingung.
"Aku akan menginap di sini saja." Bian mengingat Una tadi ingin melompat lewat jendela. Jika itu terjadi akan sangat menyusahkannya.
"Aku tak akan bunuh diri." Ucap Una seakan bisa membaca pikiran Bian.
"Siapa tahu. Kamu tidurlah di kamar, aku akan tidur di ruang tamu."
"Tapi..." Una merasa tak enak hati jika pria itu tidur di sofa, ini kan tempat tinggalnya. Sementara dirinya hanya dapat dikatakan sedang menumpang.
Bian mengisyaratkan agar Una segera masuk ke kamarnya. Una pun langsung masuk kamar dan mengunci pintu itu. Takut saat ia tidur pria asing itu masuk ke dalam kamarnya.
Esok pagi, Bian yang tidur di Sofa bangun. Hari sudah pagi. Ia pun melangkah ke arah kamarnya. Saat membuka pintu, ia tak melihat wanita itu. Ia mencari di seluruh area di apartement itu, tapi tak menemukan Una.
'Dia kabur lagi.' Rasanya Bian benar-benar ingin merantai wanita itu.
__ADS_1
'Apa dia loncat?' Bian pun kembali masuk kamar dan membuka jendela. Dari lantai 30 itu ia tak melihat keramaian di bawah. Jika ada orang yang terjun bebas, pasti sudah ramai dan ada garis polisi.
Bian meremas tangannya. Wanita itu memang tukang kabur. Tak ada yang bisa dipercaya darinya. Bian pun berpikir akan mengembalikan wanita itu ke Club malam saja.
"Halo.." Ucapnya mengangkat teleponnya yang berdering.
...
"Hmm... apa? aku segera turun."
Tak lama, Bian dan Una naik lift. Wanita itu tampak diam menunduk. Sementara Bian menatapnya tajam.
Wanita ini keluar memakai training miliknya yang begitu kebesaran di tubuhnya. Juga menenteng bungkusan, sepertinya berisi bahan makanan.
"Dari mana?" Tanya Bian datar.
"Beli bahan makanan, tadi tak ada apapun di dapurmu. Aku ingin memasak." Ucap Una. Tadi pagi ia ingin memasak, tapi tak menemukan bahan makanan di tempat yang semewah itu.
"Lain kali kalau mau pergi bilang." Ucap Bian. Ia sudah salah sangka mengira Una kabur.
Una tadi pergi ke pasar membeli bahan makanan, tapi saat kembali tepat didepan lift, ia kebingungan. Ia tak tahu apartementnya Bian di lantai berapa dan nomor berapa. Jadi ia bertanya pada security dan security segera menghubungi pemilik apartement tersebut.
"Ingat apartement GRAND PENTHOUSE lantai 30 nomor 30."
Una mengangguk. Sebenarnya ia agak takut dengan pria asing ini.
~
Mata Bian melihat Una yang sedang sibuk di dapur. Wanita itu tampak memasak sesuatu. Dari aromanya sangat menggoda selera.
'Astaga...' Bian mulai membatin saat melihat Una mengikat rambutnya cepol. Menampakkan lehernya yang begitu putih dan mulus.
Belum lagi, dengan training kebesaran itu Una tampak begitu menggemaskan.
"Mau sarapan?"
Bian langsung mengalihkan pandangannya, saat Una bertanya. Ia tak mau ketahuan memandangi wanita cantik itu. Yang pagi-pagi membuat otak sucinya traveling.
"Bo-boleh."
'Enak.' Bian mengunyah pelan, matanya melihat Una yang melihatnya juga.
"Bagaimana rasanya?" Tanya Una pelan. Ia tak tahu apa nasi goreng telur ini seleranya Bian.
"Biasa saja."
Kan, selera orang kaya beda. Pasti biasa saja nasi goreng buatannya ini. Mungkin seleranya Bian itu nasi goreng seafood paket komplit.
"Selesai sarapan bersiaplah. Kita akan membeli kebutuhanmu..."
__ADS_1