TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 46


__ADS_3

"Ingat, nanti pulang jam berapa?" Tanya Bian saat mengantar Una sampai teras rumah. Istrinya tadi meminta izin untuk pergi ke rumah temannya.


Awalnya pria itu tak mengizinkan, karena hari ini weekend ia ingin menghabiskan waktu bersama sang istri. Tapi wajah sedih yang begitu imut serta rayuan manja Una membuat Bian jadi mengizinkannya pergi.


"Jam 10 kan." Jawab Una dengan senyum mengembang.


Pria itu menyentil dahi Una. "Jam 6 harus sampai rumah."


"Jam 9."


"Jam 6."


"Jam 8."


"Jam 6."


"Jam 7."


"Jam 6."


Saat Una mau tawar menawar Bian menaikkan tangannya. Jiwa bossynya datang, jika sudah begitu ia tak mau dibantah lagi.


"Hmmm, baiklah. Aku akan pulang jam 6." Ucap Una akhirnya dengan mimik wajah kesal.


"Istri baik." Bian mengelus kepala wanita itu.


"Jam 6 pagi maksudnya." Ledek Una kemudian.


Bian yang kesal pun mencubit pipi Una berkali-kali. Wanita ini sudah berani meledeknya sekarang.


"Ciye ciye... pengantin baru." Ledek seorang remaja melihat tetangga sebelah rumah begitu romantis di pagi hari. Membuat para jomblo ingin tidur untuk melanjutkan mimpi.


"Adit..." Tawa Bian melepas tangannya dari wajah Una.


"Adit. Kamu tinggal disini?" Sapa Una yang kaget melihat Adit. Tak disangka ternyata anak remaja yang baik ini adalah adiknya Luna. Sifat mereka sangat berbeda.


"Ka-ka-kak Una." Adit seperti tersambar petir di pagi hari melihat apa yang dilihatnya sekarang. Ia tidak menyangka ternyata selama ini Una adalah istrinya Bian.


"Kalian saling kenal?" Tanya Bian menatap keduanya bergantian.

__ADS_1


"Pernah jumpa di supermarket. Taksiku sudah datang. Aku pergi dulu ya." Una melihat taksi yang berhenti di depan rumah. Tadi Bian mau mengantarnya, tapi Una bersikeras ingin naik taksi saja.


"Kalau sudah sampai kabari. Ingat jam 6 harus sudah pulang."


"Siap bos." Una mencium tangan sang suami. Dan seperti biasa Bian menkecup dahi dan kedua pipi Una. Hal tersebut tak lepas dari pandangan mata Adit.


"Dit... kakak pergi dulu ya."


Adit sadar dari lamunannya. "Hah i-iya kak. Hati-hati di jalan."


Bian membuka pintu taksi dengan tangan masih menggandeng Una.


"Pak, tolong jangan ngebut-ngebut ya. Istri saya sedang hamil. Ia sedang mengidam ingin naik taksi." Ucap Bian memberi tahu supir taksi. Ia sengaja begitu agar supir taksi tak merayu istrinya.


"Baik pak." Jawab supir taksi itu mengulum senyum.


"Mas.. Mas." Una tersenyum mendengar ucapan Bian. Pria itu sekarang cukup protektif padanya.


Cup


Una menkecup pipi Bian, wanita itu pun naik ke taksi lalu melambaikan tangan saat taksi mulai melaju.


Setelah Taksi mulai hilang dari pandangan mata Bian, pria itu melihat sekitar dan tak menemukan Adit.


'Lho... kemana si Adit?' Bian memilih masuk dan ia akan berolah raga saja di dalam rumah sembari menunggu sang istri pulang.


Pria itu menghela nafas, baru juga beberapa menit Una pergi, tapi hatinya begitu merindukan wanita itu.


###


Seorang remaja pria tampak mondar-mandir seperti setrikaan di kamarnya. Remaja itu berkali-kali menghela nafas.


'Kenyataan hidup apa ini?' Batinnya memegang kepalanya.


Keromantisan Bian pagi ini masih terbayang-bayang dalam pikirannya. Begitu romantisnya Bian pada wanita impiannya. Hati dan pikirannya seperti tak menerima kenyataan ini. Kenapa dari sekian banyak wanita di dunia ini, Bian harus memilih kakak cantiknya?


Suara musik menggema sampai kamarnya. Suara musik itu makin memperburuk perasaannya. Ia pun segera keluar kamar untuk mematikan speaker kakaknya.


"Kak Lun..." Adit langsung membuka pintu kamar, dan melihat sang kakak yang menjoget-joget tak jelas, mana suara speaker itu begitu memekakkan telinga.

__ADS_1


"Adit, adikku sayang." Luna dengan wajah sumringah akan memeluk sang adik.


Kelakuan Luna membuat Adit ngeri. Ia pun menolak pelukan sang kakak. Sepertinya kakaknya itu kesambet, wajahnya penuh senyum tidak seperti selama ini memasang wajah masam terus.


"Adit... aku senang." Teriak Luna. Adit tak mendengar, suara Luna tenggelam oleh suara speaker.


"Kak Lun." Adit pun mematikan speaker itu.


"Adit, aku akan menikah dengan Bian."


Adit mengkerutkan keningnya.


"Bunda berjanji akan menikahkan aku dengan Bian." Ucap Luna dengan perasaan yang begitu bahagia.


"Oh ya? bagaimana dengan istrinya? apa bang Bian akan mempunyai dua istri?" Tanya Adit.


Senangnya dalam hati


Bila beristri dua


Seakan dunia


Bian yang punya...


Lirik lagu itu memenuhi pikiran Adit yang sudah membayangkan Bian tersenyum bahagia dengan Una dan Luna disamping kanan dan kirinya.


Luna menggeleng. "Apa kau tahu? Bian akan menceraikan wanita itu dan Bian akan menikah denganku." Bisik Luna pelan.


Adit menghalau pikirannya tentang Bian yang akan berpoligami.


'Jika bang Bian sampai menikah dengan kak Lun, berarti kak Una akan menjadi janda dong.' Adit membatin sambil tersenyum samar.


"Istri Bian hanya aku seorang." Luna sudah berkhayal akan menjadi istri Bian.


'Baiklah, kak Una... aku akan menunggu jandamu.'


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2