TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 27


__ADS_3

Mata tajam dengan tatapan begitu dingin terfokus pada 2 orang manusia. Bian mencengkam setir mobilnya melihat wanita itu yang masih memasang wajah memuja, padahal pria itu sudah berlalu pergi.


Tin...


Una kaget mendengar suara klakson dan melihat mobil berhenti di depannya. Fokusnya pada pria tampan itu ambyar sudah.


"Cepat naik." Ucap Bian setelah membuka kaca mobilnya.


Una menghela nafas dan masuk kedalam mobil. Wanita itu duduk di kursi penumpang.


"Aku bukan supirmu." Ucap Bian melihat dari kaca spion.


"Aku nggak bisa mengendarai mobil Tuan." Ucap Una jujur.


"Pindah ke depan." Pinta Bian. Pria itu sedang tidak mau berdebat.


Una pun keluar dan pindah ke kursi depan. Ia melirik pria itu yang memasang wajah sangat tak bersahabat.


"Tu-tuan, kita mau kemana?" Tanya Una memberanikan diri. Dari tadi mereka hanya saling berdiam diri.


Tak ada respon, pria itu lebih fokus pada jalanan. Una yang kesal menjulurkan lidahnya dan begitu Bian melihatnya ia langsung menutup mulutnya.


"Kalau kamu mau menciumku bilang saja."


"Si-siapa yang mau mencium anda?" Tanya Una dengan wajah tak rela dituduh seperti itu.


"Kamulah."


"Aku nggak mau mencium anda, Tuan. Aku hanya menjulurkan lidah.." Una meruntuki ucapannya, kenapa ia malah mengatakan yang sejujurnya.


"Maaf, Tuan. Ma-maksudku maksudku..." Wanita itu tak bisa menjelaskan lagi


"Ayo turun." Bian keluar dari mobilnya, Una mengikutinya.


"Tuan, kita mau apa kemari?"


"Mau tidur." Jawab Bian dengan nada sinis.


"Tuan, apa anda ke restauran untuk tidur?" Una malah bertanya dengan tatapan aneh. Pria itu berjalan saja tak menghiraukan pertanyaan Una.


Air liur Una rasanya akan menetes. Begitu banyak makanan yang terhidang. Tampak sangat lezat dan menggiurkan.


"Lap itu air liurmu."


Dengan cepat Una menyentuh mulutnya lalu menatap Bian cemberut. Pria itu malah tersenyum mengejek karena menggerjainya.


"Makanlah." Bian menyodorkan beberapa makanan. Una masih menatap Bian ragu, tapi pria itu mengangguk.


'Astaga... apa ini makanan dari surga?!' Batin Una merasakan nikmat yang tiada tara. Pertama kali makan makanan yang membuat jiwa dan raganya seakan melayang terbang.


Bian menatap Una sambil menyanggahkan dagunya. Wanita itu makan dengan wajah yang sangat begitu bahagia, hingga mungkin Una lupa jika ia ada disini juga.

__ADS_1


Una menenggak air minum hingga habis. Ia sudah kenyang memakan makanan yang begitu lezat.


"Tu-tuan, anda tidak makan?" Tanya Una yang baru sadar piring Bian masih kosong.


Pria itu malah melirik piring-piring saji lalu ia menatap Una.


Una langsung menutup mulutnya melihat piring-piring yang tersaji sudah habis.


"Tu-tuan, maafkan aku..." Ia merasa bersalah sudah melahap habis.


"Sepertinya kamu lapar, mau tambah lagi?"


Una cepat menggeleng, ia sudah sangat kenyang. Jika ditambah lagi, bisa jadi perutnya akan meledak.


"Tuan, kapan kita akan bercerai?"


Pertanyaan Una membuat wajah tampan itu mendadak datar.


"Apa kamu segitu tidak betahnya tinggal bersamaku?"


"Bu-bukan begitu. Aku hanya ingin tahu kapan pastinya kita bercerai, jadi aku bisa merencanakan dari sekarang. Agar saat kita bercerai nanti, aku bisa melanjutkan kehidupanku setelah itu." Jawab jujur Una.


"Kita lihat nanti." Bian menenggak minumannya. Ada rasa tak rela mendengar rencana wanita itu.


"Apa tadi itu pacar kamu?" Bian mengalihkan pembicaraan.


Una bingung, pacar apa yang dimaksud Bian sekarang. "Pa-pacar?"


"Oh... itu. Pria itu tak sengaja menyenggolku."


"Aku kira itu pacar kamu. Makanya kamu selalu bertanya kapan berpisah dariku."


"Bukan Tuan, aku juga berharap bisa jadi pacarnya." Ucap Una dengan wajah berbinar. "Pria itu sangat tampan. Pasti bahagia jika jadi pacarnya. Tiap hari selalu melihat wajahnya."


"Wajah seperti itu di bilang tampan." Cibir Bian. Ia merasa tak senang Una memuji pria lain.


"Memang tampan kok."


"Tampanan mana sama aku?" Bian pun mulai membandingkan dengan dirinya.


"Dia dong."


"Sepertinya selera kamu biasa saja."


"Tuan, selera setiap orang berbeda. Bagiku pria itu sangat tampan dan bagiku anda yang sangat biasa saja."


Bian kesal, bisanya Una mengatakan ia biasa saja dan lebih memuji pria lain. Padahal Bian adalah pria tampan yang banyak digilai kaum hawa.


"Oh ya, memang dia mau sama janda?" Tanya Bian.


"Jan-janda? siapa yang janda?" Tanya Una kembali, siapa yang dimaksud janda oleh Bian.

__ADS_1


Bian menunjuk Una. "Kamu.."


"Aku bukan janda."


"Terus..."


Una diam. Ia melupakan satu hal. Setelah bercerai kata Janda pasti akan mengiringinya.


"Walau aku janda, tapi akukan janda terkaya yang mempunyai 100 mall beserta isinya. Jika ia menolakku, aku akan mencari berondong tampan yang lain." Ucap Una akhirnya.


Bian terbengong atas penuturan Una. "A-apa?"


"Anda sangat kaya raya, itu hanya secuil dari kekayaan anda. Apa karena memberikan secuil itu Tuan langsung bangkrut?"


"Memang kamu kira aku akan memberikanmu secuil itu. Mending secuil itu ku buang saja ke laut."


"Aku akan menuntut harta gono gini Tuan." Ucap Una tak terima.


Bian tertawa lepas, wanita itu sangat lucu.


"Kamu yang bayar." Ucap Bian menyerahkan bill.


"Ta-tapi Tuan..." Una kaget melihat tagihan bill tersebut. "Tuan..."


"Kamu semua lho yang makan." Ucap Bian lalu berlalu pergi.


Dengan perasaan kesal, Una pun berjalan ke kasir. Ia dengan terpaksa meletakkan kartu ATM milik Bian. Jika tahu ia yang akan membayar, mending ia tadi tidak melahap semuanya.


Karyawan restauran mengembalikan kartu itu pada Una. "Maaf Nona, tagihannya sudah dibayar."


"A-apa? Baiklah kalau begitu, terima kasih." Una pun bergegas menghampiri Bian. Pria itu telah mengerjai dirinya.


"Tuan..."


"Apa?" Bian menghidupan mesin mobil. "Pakai sabuk pengamanmu."


Una mengangguk dan memasang sabuk pengamannya.


"Terima kasih untuk makanannya."


"Hanya berterima kasih?"


"Jadi apa aku harus membayar?" Tanya Una dengan wajah polos.


"Kamu tidak perlu membayarnya jika kamu bilang aku tampan, bukan tampan tapi sangat sangat sangat tampan." Bian sengaja menggerakkan alisnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2