TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 14


__ADS_3

"Una sayang... Bunda sangat merindukan kamu. Maafkan Bunda ya nak." Ucap Bunda menatap foto Una saat memakai seragam SD. Wanita itu memeluk erat foto dalam bingkai itu. Air matanya mengalir deras.


Ayah masuk ke dalam kamar, mendapati sang istri yang memeluk bingkai tersebut. Seperti itulah jika istrinya sedang merindukan sang anak.


"Kenapa?" Tanya Ayah duduk di samping Bunda.


"Aku rindu Una Mas. Ini salahku saat itu pergi meninggalkannya. Jika aku tidak pergi, kita nggak akan pernah kehilangan Una selamanya." Bunda mengusap air matanya, dadanya begitu sesak karena penyesalannya.


"Bukan salah kamu. Aku yang salah. Aku yang meninggalkan kalian." Ucap Ayah bergetar.


"Jika Una masih hidup, ia pasti akan tumbuh jadi wanita yang sangat cantik, kan Mas." Bunda mengusap air mata, merindukan anak yang tak akan pernah bisa dipeluknya lagi.


Ayah hanya menepuk punggung sang istri pelan Sejujurnya ia juga sama, begitu sangat menyesal saat itu.


Tok


Tok


Tok


Bunda mengusap air matanya, ia langsung menyimpan foto itu dalam lemarinya.


"Bunda, Ayah... orang tuanya bang Bian datang." Ucap Adit memberitahu.


Mereka pun mengangguk.


"Kami akan kesana." Ucap Ayah.


Tak lama di ruang Tamu...


"Kedatangan kami kemari mau secepatnya menikahkan Bian dengan Luna." Ucap papanya Bian.


Wajah Luna tersenyum bahagia mendengar itu.


"Kami senang jika niatnya seperti itu. Tapi pernikahan melibatkan 2 orang." Ucap Reno yang tak melihat ada Bian diantara mereka.


"Ayah..." Luna merasa tak terima dengan perkataan Ayahnya.


"Kita tak bisa memaksakan pernikahan. Jika Bian memang bersedia kami pasti akan sangat merestui. Tapi jika ia tak ada disini, kita tak bisa melanjutkan pembahasan ini." Tambah Reno lagi.


"Ayah, Bunda... Luna maunya sama Bian." Rengek Luna.


"Nak, jangan memaksakan keinginan kamu. Kamu harus memikirkan perasaan Bian juga." Ucap Bunda menasehati.


"Aku benci Ayah dan Bunda." Ucap Luna lalu pergi masuk ke kamarnya. Sengaja menutup pintu dengan kuat, hingga menggema di ruang tamu.


"Maafkan sikap Luna ya." Bunda memohon maaf untuk anaknya. Orang tua Bian hanya mengangguk pelan, seolah sudah sangat paham sifat Luna.


~


Pagi itu Una sedang membuat sarapan, ia melirik Bian yang duduk di kursi makan. Sudah berpakaian rapi, sepertinya akan bekerja.


"Apa Tuan akan bekerja?" Tanya Una.


"Apa aku berpakaian seperti ini untuk berenang?" Malah kembali bertanya. Sudahlah, sepertinya tidak perlu dijawab.

__ADS_1


"Silahkan sarapan anda Tuan." Una menghidangkan nasi goreng dengan segelas teh manis hangat.


Bian melirik ke sarapan, beberapa hari ini Una selalu memasak nasi goreng untuk sarapan.


"Apa kamu hanya bisa memasak nasi goreng?" Tanya Bian serius.


Una mengangguk. "Hanya itu yang aku tahu Tuan."


"Gunakan hpmu. Banyak tutorial memasak yang bisa kamu pelajari."


"Benarkah?" Una lalu berlalu kembali ke kamar untuk mengambil hp.


"Bagaimana caranya?" Ucap Una menyerahkan hp pada Bian.


Pria itu pun mengajari Una cara untuk menonton video tutorial. Una sampai takjub. Ternyata masih banyak fungsi hp selain menelpon, berkirim pesan dan belanja online. Kalau begini pantaslah banyak orang yang tak bisa lepas dari hpnya.


"Cepat bersiap. Ikut denganku." Pinta Bian.


"Ikut kemana?"


"Apa kamu nggak mau bertemu temanmu?"


"Mau... aku mau." Una mengangguk cepat. Ia pun dengan langkah seribu masuk ke kamar untuk bersiap.


Tak lama di perjalanan, Bian duduk di bangku belakang dengan Una. Sementara di depan Wan mengemudikan mobil dengan laju sedang.


"Ingat, pesanku." Bian sudah mewanti Una untuk menjaga rahasia mereka.


"Baik Tuan." Yang terpenting bagi Una sekarang adalah bertemu Ziva.


Una mengangguk. Tak apalah hanya 2 jam bertemu. Setidaknya ia bisa tahu kabar temannya itu.


Tak lama Una duduk di sebuah kafe. Ia melihat sekeliling. Bian benar-benar mengawasinya. Di setiap sudut kafe ada pria berpakaian hitam. Tubuh mereka besar dan wajah sangat menyeramkan.


"Una..."


"Ziva..." Una menoleh ke arah suara. Ia dengan cepat bangkit dan berlari menghampiri Ziva. Mereka berpelukan sambil menangis.


"Na... kau kemana? aku sangat khawatir padamu. Kau menghilang begitu saja."


"Aku baik-baik saja."


"Kau tinggal dimana?"


"A-aku..." Una bingung mau menjawab apa. "Bagaimana keadaanmu?" Una mengalihkan topik.


"Una... apa yang terjadi?" Ziva menatap Una.


"Aku nggak bisa cerita sekarang. Intinya aku baik-baik saja, kau tak perlu mencemaskanku." Una meminta nomor Ziva. Agar mereka bisa berkomunikasi.


Ziva melihat hp yang dipegang Una, hp terbaru dengan harga yang sangat mahal bagi orang sepertinya. Ia menatap Una, ingin bertanya. Apa yang Una kerjakan sekarang.


"Na... aku diterima di perusahaan besar."


"Wah... selamat Va." Una kembali memeluk Ziva. Rasanya ia sangat senang mendengarnya.

__ADS_1


"Aku diterima sebagai staff di ARKANA GROUP. Tapi aku bingung." Ziva merasa ada keganjalan.


"Lho bingung kenapa?"


"Aku cuma lulusan SMA bisa menjadi staff disana. Kenapa aku bisa diterima ya? sementara masih banyak pelamar yang lebih tinggi pendidikannya dariku."


"Berarti kau lagi beruntung. Sudah nggak usah dipikirkan kenapa-kenapa. Bukankah sekarang kau harus manfaatkan kesempatan itu bekerja dengan giat dan baik. Tunjukkan kalau kau juga mampu. Aku tahu Zivaku yang terbaik." Puji Una sambil tersenyum lebar.


"Ih Una... apaan sih, aku kan jadi malu."


Kedua wanita itu pun mengobrol panjang. Sambil berhaha hihi. Ziva tersenyum melihat Una yang sekarang lebih santai, seperti terbebas dari beban. Una juga sering tersenyum, tidak seperti dulu yang selalu sedih dan ujung-ujungnya menangis.


Waktu 2 jam terasa begitu cepat untuk mengobrol. Bian hanya memberinya waktu 2 jam dan ia harus menurutinya. Ia juga melihat para pria berpakaian hitam itu melihat dirinya, seolah mengingatkan untuk segera pulang.


"Kau naik apa Na?" Tanya Ziva saat menunggu ojek online.


"Ojek Va." Ucap Una.


"Jaga dirimu." Ziva kembali memeluk teman baiknya itu.


"Va, maaf aku belum bisa cerita samamu. Kau jaga dirimu juga ya."


"Iya, aku tahu. Kalau ada apa-apa, hubungi aku Na."


Una mengangguk. Ziva pun naik ojek yang kebetulan sudah tiba. Mereka pun saling melambaikan tangan.


Una tersenyum melihat Ziva sudah pergi. Ia sangat senang bisa melihat temannya itu. Ditambah lagi Ziva juga baik-baik saja.


'Aku harus berterima kasih padanya.' Batin Una sambil mengambil hp.


"Ha-halo Tu-Tuan.." Gugup Una setelah panggilan tersambung.


"Ada apa? aku sedang rapat." Jawab pria itu diseberang.


"I-itu, Tuan mau makan apa? aku akan memasakkanmu."


"Apa kamu mau menyuapku?"


"Bu-bukan, aku-aku hanya mau... berterima kasih."


"Hmm... kalau begitu berterima kasihlah dengan cara lain."


"A-apa itu?"


"Aku ingin lihat kamu pakai baju di lemari itu." Goda Bian menahan senyumnya.


"Tu-Tuan, tolong jaga perkataan anda."


"Kamu membeli pakaian seperti itu, akan sangat mubajir jika tak dipakai. Atau kamu sengaja menghambur-hamburkan uangku?"


"Tu-Tuan, apa anda sudah bangkrut?"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2