
Sinar matahari pagi memasuki celah sebuah kamar.
Bian terbangun dan tersenyum ketika membuka mata. Melihat Una yang masih terlelap dalam pelukannya.
"Sayang, ayo bangun." Bian mentoel-toel pipi Una. Karena tak ada reaksi ia pun menkecup seluruh wajah istrinya.
Pria itu menghentikan aksinya. Una masih saja terlelap.
"Kamu pasti capek ya." Bian pun mencium kening Una cukup lama. Putri tidur ini pasti sangat mengantuk, karena mereka bergadang sampai hampir pagi.
Bian bangkit dan membenarkan selimut Una. Lalu melangkah menuju kamar mandi. Senyum terus merekah mengingat betapa sulitnya ia menerobos pertahanan itu.
Tak lama setelah selesai mandi, Bian mendengus melihat Una masih pada posisinya. Seolah tak ada pergerakan sama sekali.
"Kenapa senyum terus?" Tanya Mama saat melihat Bian yang tersenyum bahagia, duduk di kursi meja makan.
"Ada deh Ma." Bian malah sengaja mengkedipkan matanya.
"Cepat kamu buntingin Una, biar Mama punya cucu."
"Mama... Una bukan kucing." Bian pun menyanggah ucapan Mama.
Wanita paruh baya itu malah tertawa, ia sudah membayangkan menggendong cucu yang imut.
"Pagi Mama Mely." Sapa seseorang datang membawa sebuah mangkuk berisi makanan. "Selamat pagi Bian."
Pria itu melirik malas wanita yang baru datang tersebut. Tah untuk apa pagi-pagi sudah datang ke rumah orang.
"Bian, aku masak nasi goreng." Tanpa segan Luna mengambil piring dan menyalin nasi goreng dari mangkuknya.
"Silahkan dimakan." Dengan penuh senyum menyodorkan sepiring nasi goreng.
Bian menatap aneh nasi goreng buatan Luna. Tak ada yang salah dengan nasi gorengnya, warna dan bentuknya sama seperti nasi goreng pada umumnya. Tapi Bian enggan menyentuhnya.
__ADS_1
"Mana wanita itu? apa masih tidur?" Luna bertanya dengan wajah kesal. "Dasar wanita tak berguna. Sarapan suaminya saja masih Mama yang membuatnya." Luna melirik segelas susu di samping Bian.
"Diamlah." Ucap Bian datar.
"Iya kan Ma. Kenapa Bian masih mempertahankan wanita pemalas seperti dia-"
"Aku bilang diam." Bian menaikkan intonasi suaranya.
Luna mendengus kesal. "Sebagai istri seharusnya melayani semua kebutuhan suami."
"Kamu pulang saja sana." Mama menarik Luna segera melihat wajah Bian mulai memerah. Mama takut Bian akan mengamuk.
"Ma.." Luna seakan tak rela Mama menariknya keluar rumah.
"Aku bukan Mamamu." Mama segera menutup pintu setelah mengatakan itu. Ia merasa geli Luna memanggilnya begitu. Beda jika Una yang memanggilnya. Ia sangat menyukainya.
"Jangan pernah izinkan Luna memasuki rumah ini lagi." Pinta Mama pada para pekerja. Mereka semua mengangguk paham.
"Ma... aku ke kamar." Pamit Bian yang sudah tak selera makan.
"Nggak. Aku capek Ma." Jawab Bian santai dan segera menuju kamarnya.
Sampai kamar, ia masih melihat putri tidur itu tetap terlelap. Dengkuran halus terdengar samar.
"Sayang... ayo bangun. Sarapan dulu." Dengan lembut Bian menepuk-nepuk pipi Una. Ia duduk di pinggiran ranjang, tangannya pun menekan hidung wanita itu.
"Mas Bianku, aku masih ngantuk." Una menepis tangan Bian dari hidungnya. Ia kembali menggumul dirinya dengan selimut.
"Ayo bangun." Bian kembali menekan hidung itu.
"Sakit Mas." Una langsung terduduk di ranjang. Menatap Bian seraya mengumpulkan jiwa raganya.
"Kamu mau menggodaku?" Senyum mesum pun terpampang melihat setengah tubuh tanpa busana dengan banyak jejak sejarah. Bahkan kedua benda kenyal itu tergantung sempurna.
__ADS_1
"Nggak." Una masih tak mengerti. Ia pun melihat arah mata Bian.
"Ah... Mas Bian, mesum. Tutup mata Mas." Dengan cepat Una menaikkan selimutnya yang tanpa sadar melorot, ini yang membuat mata pria itu berbinar.
"Awas Mas, aku mau ke kamar mandi." Una sudah salah tingkah dan kikuk. Ia mendorong Bian.
Saat berdiri matanya membulat sempurna melihat sesuatu di sprei ranjang itu. Ia pun segera melepas sprei. Rasanya sungguh memalukan.
Sprei sudah di bereskannya, tapi selimutnya jatuh memperlihatkan belakang tubuhnya.
Una pun segera berjongkok. Ia pun menangis meratapi tingkahnya yang malu-malui di depan Bian.
Sementara Bian hanya mengulum senyum melihat Una salah tingkah. Ia pun segera berjongkok.
"Kenapa masih malu? aku sudah melihat dan merasakan semuanya." Bisik Bian lalu sengaja menghembus telinga Una.
"Mas Bian." Una makin menutup kepalanya dengan sprei. Wajahnya sudah memerah, jika Bian melihat wajahnya sekarang, pria itu pasti akan terus menggodanya.
"Ayo kita mandi." Bian pun menggendong Una, ia bangkit dan menuju kamar mandi.
"Mas, turunkan aku." Una menongolkan kepalanya.
"Tenanglah, aku akanmemandikanmu."
"Tapi aku bisa mandi sendiri."
"Aku hanya akan memandikamu." Senyum smirk terpampang jelas di wajahnya.
Tak berapa lama dari dalam kamar mandi.
"Mas Bian pembohong.."
.
__ADS_1
.
.