TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 90


__ADS_3

"Makasih Mas Bianku sayang." Ucap Una pada layar ponselnya.


"Sebelum aku pulang kerja, kamu sudah harus di rumah." Dari seberang sana Bian kembali mengingatkan.


"Siap Bos."


"Jangan telat."


"Iya lho."


"Nanti malam aku menginginkanmu."


"Hmm." Wajah Una langsung merah.


"Aku nggak mau kamu capek, sayang."


"Iya Mas Bianku. Aku berangkat ya. Dah.." Una segera memutuskan panggilan telepon. Bicara dengan Bian membuat pikirannya bercabang.


Una pergi ke Mall dengan Luna dan Ziva. Ia tadi meminta Bian mengizinkan Ziva pergi dengannya.


Ziva agak menatap sinis Luna, wanita itu saat bekerja di kantor Bian pernah memarahinya habis-habisan. Padahal cuma satu hari bekerja.


"Ayo kita pergi." Una menyadari kecanggungan keduanya. Ia pun berada di tengah menggandeng keduanya.


"Va, Luna akan bekerja di kantor Ayah. Kita bantu ia carikan pakaian ya." Ucap Una yang di angguki Ziva.


"Pakaianku banyak kak." Sanggah Luna tapi seperti tak berpengaruh apapun.


Una tak mengerti soal fashion wanita pekerja kantoran, ia jadi sengaja membawa Ziva untuk membantu memilihkannya. Bukannya Luna juga tidak mengerti, tapi pasti adiknya itu akan selalu menolaknya.

__ADS_1


Luna memijat pelipisnya melihat banyak paper bag berisi segala keperluannya bekerja. Menolak pun percuma, Una tetap memaksa.


Setelah berkeliling, mereka menuju kafe. Untuk mengisi perut yang mulai keroncongan.


"Bagaimana hubunganmu dengan mas Dino?" Tanya Una yang tampak penasaran.


"Mas Dino? kak menjodohkan dengannya?" Tanya Luna yang ikut nimbrung obrolan mereka.


"Nggak ada apapun. Hanya sekedar kenal."


"Masih dalam tahap kenalan? kapan jadiannya?" Tanya Una yang tampak kesal. PDKT mereka begitu lambat.


"Una, kami nggak ada apa-apa lho. Kami nggak cocok. Aku nggak menyukainya, dia tak menyukaiku." Jelas Ziva.


"Tapikan perasaan itu bisa tumbuh karena terbiasa." Ucap Una yang meyakini. Karena itulah yang dirasakannya dengan Bian.


"Sudahlah Una, jangan menjodohkanku lagi. Aku sedang fokus bekerja agar segera naik jabatan."


###


"Apa ini?" Tanya Bian melihat Wan menyodorkan sebuah amplop.


Dengan tatapan tajam menatap pria yang menunduk di depannya. Ia perlahan membuka amplop tersebut.


"Apa ini Wan?" Tanya Bian dengan nada sedikit meninggi.


"Maaf Tuan, saya akan mengundurkan diri terhitung awal bulan ini." Ucapnya takut-takut. Tatapan mata Bian terlalu mengintimidasi.


"Apa kamu sudah mendapatkan pekerjaan baru?"

__ADS_1


"Sudah Tuan." Jawab Wan cepat.


"Dimana?" Tanya Bian ingin tahu.


"Saya mendapat penawaran bekerja diluar negeri Tuan." Ucap Wan menatap sekilas lalu kembali menundukkan kepala.


Mendengar alasan Wan, Bian malah tersenyum. Ia mengerti pria ini mengundurkan diri hanya karena ingin mengikuti Luna.


"Apa kamu tahu istriku pergi kemana hari ini?"


Wan menggeleng tak tahu. Bian tak pernah menyuruhnya untuk mengawal Una lagi.


"Istriku pergi ke Mall. Katanya menemani adiknya membeli pakaian kerja. Adiknya akan mulai bekerja diperusahaan Ayahnya." Ucap Bian dengan pandangan yang masih menatap wajah setengah kaget itu.


Wan berpikir. Adik mana yang Bian maksud. Luna atau Adit. Adit masih sekolah dan masih menjelang Ujian Nasional. Apa Luna?


"Tuan..." Ucap Wan saat Bian merobek surat pengunduran dirinya.


"Untuk apa kamu pergi sampai keluar negeri, Luna akan tetap berada disini. Mulai besok ia akan mulai bekerja di perusahaan Ayahnya." Jelas Bian, ia bangkit dan menghampiri Wan.


"Jika kamu begitu sangat menyukainya, kejarlah dia. Aku akan mendukungmu, calon adik ipar." Bian tersenyum sambil menepuk pundak Wan. Lalu pria itu segera berlalu keluar kantor.


Wan diam, bergelut dengan pikirannya sendiri. Ia sangat malu. Bian pikir ia mengejar Luna. Padahal karena Luna mengatakan akan bekerja diluar negeri, ia jadi kepikiran ingin keluar negeri juga.


'Gara-gara mak lampir itu!'


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2