TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 48


__ADS_3

Bian menghela nafas setelah mengungkapkan isi hatinya dari hp. Sebenarnya ia ingin mengatakannya secara langsung saat Una di sisinya, tapi tadi hatinya begitu menggelitik untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya.


"Halo..." Sambungnya lagi setelah menetralkan debaran hatinya.


"Kenapa dia memutuskan panggilan teleponku? apa dia mendengarkan ucapanku?" Bian tampak bingung memegang hp setelah panggilan dengan Una berakhir.


Pria itu membenarkan posisinya dari yang semula berbaring jadi menyender di bahu ranjang.


'Aku kirim pesan saja.' Batin Bian mengetik layar hp tersebut.


"Aku mencintaimu, Una." Ucap Bian sambil menggoyangkan jempolnya di layar.


"Tunggu..." Bian menahan saat akan menekan kirim.


"Mungkin ia malu. Iya, Una pasti malu makanya memutuskan teleponku." Bian bermonolog sendiri sambil tersenyum mengingat istrinya yang pemalu.


'Aku rindu kamu.' Bian melempar hpnya lalu ia kembali berbaring memeluk bantal Una. Menghirup dalam-dalam aroma sang istri.


Bian sekarang sedang urung-uringan. Beberapa kali menutup matanya lalu begitu membuka mata, ia selalu melihat jam dinding. Waktu terasa berputar begitu sangat lambat.


Pria itu menghela nafas panjang, ia bangkit dan menuju kamar mandi. Ia akan menunggu waktu sambil berendam saja.


###

__ADS_1


"Kamu sudah janji pada Luna. Jika tidak dituruti anakmu itu bakal bunuh diri, Rosa." Nenek kembali mengingatkan menantunya.


Rosa memegangi kepala yang terasa pusing. Ia tak bisa memisahkan Bian dengan istrinya. Tapi jika tidak Luna akan mencoba bunuh diri.


"Kita beri saja wanita itu berapapun yang dia mau. Mama yakin ia mau menikah dengan Bian hanya karena uang." Ucap Nenek memberikan saran.


Rosa menatap mertuanya dengan wajah berlinang air mata. Ia ingat dulu mertuanya ini juga pernah melakukan hal yang sama agar ia dan Reno berpisah.


"Nggak bisa begitu, Ma." Rosa mengalihkan pandangan matanya, ia tahu bagaimana sakitnya saat mertuanya melakukan hal itu. Dan ia tak mau membalaskan pada orang lain hanya untuk memenuhi keegoisannya.


"Mama yakin Luna akan mengulangi niatnya untuk bunuh diri. Apa kamu mau kehilangan anakmu, Ros?"


"Tapi kita nggak boleh seperti ini juga, Ma." Sanggah Rosa yang merasa ide mertuanya sangat kelewatan.


"Ma..." Air mata Rosa kembali berjatuhan. Ia sedih mertuanya begitu sangat kejam kepada wanita malang itu. Ia kembali mengingat saat Una, ia tinggalkan dulu. Anaknya itu juga hidup sebatang kara. Bahkan Una selalu disiksa oleh pemilik kontrakan.


"Kamu kenapa dukung wanita itu terus? ingat dia bukan anakmu. Anakmu sudah lama meninggal. Hanya nama mereka saja yang sama, kenapa kamu jadi berpikir itu anakmu, sih?" Omel Nenek lalu meninggalkan Rosa sendirian di ruang tv itu.


###


Una dan Ziva berkeliling-keliling Mall. Una membelikan pakaian, tas dan beberapa barang lainnya untuk Ziva.


"Una... Aku sudah ada ini lho." Ziva sudah menolak, tapi Una hanya tersenyum dan beranjak membayarnya ke kasir.

__ADS_1


"Nanti suamimu marah kau menghabiskan uangnya.."


"Memang dia menyuruhku menghabiskan uangnya." Jawab Una dengan senyum sumringah. "Sudahlah tenang saja. Setelah ini kita cari sepatu, ya."


"Aku nggak mau pergi denganmu lagi." Ziva menunjukkan wajah mengambek. Ia merasa tak nyaman Una membelikannya banyak barang. Ini saja sudah 4 tas belanja yang di pegangnya. Apa Una mau memborong semua isi Mall ini?


Una menggandeng Ziva yang masih ngambek padanya.


"Ziva..." Rengek Una melihat wajah sang teman yang kecut padanya.


"Kita makan yuk." Ajak Ziva akhirnya yang langsung di angguki Una.


"Una..." Panggil seseorang.


Una menoleh ke arah suara. Wajahnya langsung tersenyum lebar melihat orang yang memanggilnya.


"Mas Dino..."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2