
Bian menghela nafas lalu menutup layar ponselnya, saat layar kotak tersebut menampilkan Una yang masuk ke kamar mandi.
'Astaga... apa yang ku lakukan?' Meruntuki dirinya sendiri, yang akhir-akhir ini pikirannya selalu bercabang.
'Dosa nggak ya?' Bian memutar-mutar hpnya. Bergelut dengan pikirannya sendiri.
Ting
Satu pesan mengagetkannya. Ia pun membaca pesan tersebut.
'Astaga... belum apa-apa sudah ketahuan.' Bian tersenyum sambil mengusap wajahnya. Malunya.
Tak lama di sebuah mini market, Una sedang berbelanja. Mendorong trolinya menyusuri area mini market.
'Awas saja, aku akan membuat perhitungan denganmu.' Batin Una kesal sambil memasukkan barang kebutuhan ke troli.
"Kak Una..." Panggil seseorang membuat Una pun menoleh.
"Hah... benar, ternyata kak Una." Ucapnya lagi dengan riang.
Una menatap remaja pria yang tersenyum sumringah. "Siapa ya?"
Senyum bak sedang iklan pasta gigi itu mendadak kecut. Kakak cantik itu tidak mengenalnya. Dia dilupakan.
"Adit kk. Yang beberapa hari lalu kak traktir." Adit berusaha mengingatkan wanita cantik itu.
Una masih diam dan berpikir sejenak. Dan mengangguk saat mengingatnya. "Oh kamu."
"Hari ini, Adit akan traktit kak Una. Sebagai bentuk terima kasih."
"Nggak apa kok Dit. Jangan sungkan.."
"Benar, kak Una nggak boleh sungkan." Potong Adit cepat sebelum Una menolak niat baiknya. Ia tak boleh melewatkan kesempatan ini. Sudah beberapa hari ia menunggu di tempat ini berharap bertemu dengan Una.
Tak lama, Adit membawa Una ke sebuah kafe tak jauh dari mini market. Ia memesan banyak makanan.
"Kenapa kamu pesan sebanyak ini?"
"Nggak apa. Kak Una makan saja."
"Mana mungkin sebanyak ini bisa habis."
"Kalau nggak habis kita bungkus saja."
Karena sudah dipesan, mau tak mau Una pun melahap makanan itu.
"Kamu masih sekolah?" Tanya Una melihat Adit masih berseragam SMA.
"I-iya kak."
"Kelas berapa?"
"Kelas 3 kak."
__ADS_1
"Oh.." Una pun mengangguk.
"Tapi sebentar lagi aku akan tamat SMA kok kak."
Mereka pun saling mengobrol ringan. Mata Adit melihat jari manis Una yang terpasang sebuah cincin.
"Kak Una, sudah menikah ya?" Tanyanya serius. Dari pada penasaran, mending tanyakan langsung pada orangnya.
Una tersenyum. " Iya." Ia sebenarnya juga bingung, apa pernikahannya bisa dikatakan menikah pada umumnya.
"Kak Una sudah menikah?" Tanya Adit tak yakin menatap wajah Una serius.
Una mengangguk, membuat dunia Adit mendadak serasa gelap gulita. Hujan turun dengan derasnya disertai badai dan petir yang saling bersahutan.
'Patah hatiku.' Batin Adit meronta.
"Kak Una, masih mau berteman dengan Adit, kan?" Tanyanya dengan wajah serius. Ia belum yakin dan masih berharap.
"Berteman?"
"Iya berteman. Kak Una sangat baik hati, jadi aku mau berteman dengan kakak. Boleh, kan?" Ucao Adit dejgan wakah berharap.
Una mengangguk pelan. Ia tersenyum melihat remaja pria itu yang sangat lucu.
Hp Una bergetar, wanita itu pun melihat siapa yang menelponnya. Ia pun langsung menolaknya.
Tak lama nomor itu tetap menelponnya.
"Kenapa dinonaktifkan kak?"
"Nggak apa." Jawab Una cepat.
Sementara di Apartemen, bian mendengus kesal. Una menolak panggilannya bahkan menonaktifkan hpnya.
"Wan... dimana Una?" Ucapnya menghubungi Wan. Pria itu memegang CCTV kecil yang ada di meja sofa.
"Tuan, Nona Una sedang bersama remaja pria berseragam SMA di sebuah kafe." Ucap Wan memberitahu.
Bian memutuskan panggilannya. Dan berpikir sejenak siapa remaja pria berseragam SMA yang ditemui Una.
'Apa ia berselingkuh? apa dia mau menjadi sugar mommy?'
Cekrek
Tak lama mata Bian menoleh ke asal suara, terlihat Una baru masuk dengan membawa beberapa bungkusan.
"Dari mana?" Tanya Bian dengan wajah datar.
Una menunjukkan bungkusan yang dibawanya. Wanita itu cemberut sambil memasukkan isi belanjaannya ke lemari es.
"Tuan..." Ucap Una melangkah menuju Bian yang duduk di sofa.
"Berapa banyak yang sudah anda lihat?" Tanya Una dengan nada sedikit tinggi, wajahnya bahkan sudah memerah.
__ADS_1
"Li-lihat apa?" Tanya Bian seolah tak mengerti.
"Kenapa anda meletakkan kamera di kamar mandi?" Tanya Una dengan tatapan bak laser.
"I-itu..." Bian tampak kikuk. "Itu, aku hanya berjaga-jaga. Setiap sudut ruangan ini memang terpasang CCTV." Bian memberi tahu.
Una melihat sekeliling. Benar, CCTV berada di setiap sudut ruangan.
"Tapi walaupun begitu, anda tidak boleh meletakkan di kamar mandi? apa anda juga meletakkan di kamar tidur?"
Una langsung bergegas menuju kamar tidur. Melihat sekitar tapi tak menemukan CCTV itu. Wanita itu pun melihat setiap selipan di dinding. Ia ingat CCTV yang ditemukannya di kamar mandi berbeda dengan CCTV di ruang tamu. CCTV di kamar mandi seperti CCTV tersembunyi
"Tuan, dimana anda meletakkannya?"
"Nggak ada."
"Tuan..." Una menunjukkan wajah seramnya.
"Astaga Tuan, apa saja yang sudah anda lihat? anda benar-benar pria kurang ajar." Una memukuli tubuh Bian, saat pria itu menunjukkan CCTV kecil terpasang di samping foto.
"Aku belum lihat apa-apa.." Jujur Bian, kalau ia baru meletakkan CCTV di kamar mandi.
"Belum?" Una yang kesal mendengar ucapan Bian, kembali memukuli pria itu.
"Tuan, ayo kita bercerai." Ucap Una, ia tak mau berhubungan dengan pria penguntit ini.
"Apa?" Bian menatap Una serius. "Aku bisa mengembalikanmu ke Club malam itu lho."
"Silahkan kembalikan saja aku kesana." Ucap Una yakin. Ia sudah mentransfer uang yang Bian berikan ke rekeningnya. Nanti Uang tersebut yang akan dipakainya untuk membayar hutang pada Mami Lisa. Dengan begitu ia akan bebas.
Bian menatap curiga wanita itu. Biasanya Una akan menurut jika diancam seperti itu. Ada yang aneh?
"Apa kamu punya pria lain?" Tanya Bian mengigat tadi Una bertemu pria berseragam SMA.
"Mau punya atau tidak punya itu urusan saya Tuan." Jawab Una tak peduli.
"Istirahatlah, besok kita mau ke rumahku." Bian mengalihkan topik. Ia tak mau berdebat lagi.
"Tuan, aku nggak mau melanjutkan perjanjian ini lagi."
"Tidurlah, besok akan ku perintahkan Wan melepaskan semua CCtV di apartemen ini." Ucap Bian.
"Aku sudah bilang, aku tidak mau melanjutkan perjanjian ini Tuan." Ulang Una lagi.
"Aku bisa memblokir kartu ATM mu yang nggak seberapa itu. Jika kamu mau memakai itu untuk lepas dariku." Ancam Bian kemudian.
Una terdiam dan langsung beranjak ke kamarnya. Ia melupakan satu hal, Bian bisa melakukan semuanya. Bahkan Bian seperti tahu apa yang akan direncanakannya.
Ting
Una membuka pesan yang masuk ke hpnya. Ia pun menjedutkan pelan kepalanya ke dinding setelah membaca pesan tersebut. Bian mengirimkan bukti transaksi transfer sejumlah uang dari ATM yang diberikannya, ke ATM atas nama Ziva. ATM yang diberikan Ziva saat itu pada Una.
'Kenapa ia bisa tahu???'
__ADS_1