TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 66


__ADS_3

"Mas, dimana Una sekarang? dimana anak kita?" Rosa menutup wajahnya yang sudah berlinang air mata.


Selama ini mereka mengira, Una bersama salah satu dari mereka. Tapi kenyataannya berbeda.


"Papa." Reno mengambil hpnya, selama ini orang tuanya selalu menjadikan Una sebagai alasan untuk mengancamnya. Mungkin saja selama ini Una dirawat mereka.


"Dimana kau?" Bentak Papa dari seberang sana. Asisten itu pasti sudah memberitahunya.


"Pa, dimana Una?" Tanya Reno datar.


"Jika kau tak kembali. Jangan harap bisa bertemu istri dan anakmu." Ancam Papa tegas.


"Pa, dimana putriku?" Reno berkata lirih menahan gejolak hatinya.


"Putrimu dan Rosa aman di suatu tempat."


"Papa, Rosa sedang bersamaku sekarang. Selama ini Rosa mengira Una bersamaku." Ungkap Reno.


Tak ada jawaban dari pria di sebrang sana.


"Tolong katakan Pa, dimana putriku?" Ucap Reno memohon. Pikirannya mulai memikirkan hal buruk.


"Se-selama ini, Papa tidak pernah bertemu dengan istri atau anakmu. Papa hanya mengatas namakan mereka saja." Aku Papa jujur. Selama ini ia hanya mengancam Reno dengan nama istri dan anaknya. Tapi ia tak pernah bertemu atau mencari mereka berdua.


"Katakan yang jelas, Una ada bersama Papa atau tidak?" Reno mengeraskan suaranya.


"Tidak. Kami tidak pernah bertemu dengannya. Kami-"


Tut..


Reno memutuskan sambungan itu, ia berkali-kali menarik nafas.


"Mas, dimana Una?" Wajah Rosa penuh dengan air mata.


Reno melajukan mobilnya dengan cukup kencang. Sekarang tujuan utamanya kembali ke kontrakan yang pernah mereka tinggali.


Setelah menempuh 2 jam perjalanan, mereka sampai di kontrakan lamanya.

__ADS_1


"Akhirnya kalian datang juga. Bayar hutangmu." Bu Siska langsung menangih hutang saat Rosa dan Reno mendatangi rumahnya.


"Dimana putriku?" Tanya Reno.


"Anak tak tahu terima kasih itu sudah kabur. Tak tahulah mungkin ia sudah jadi gelandangan. Kenapa kalian mencarinya? bukannya kalian sudah meninggalkannya?" Cibir Bu Siska.


"Kita ke kantor polisi Mas." Ajak Rosa untuk membuat laporan kehilangan anak.


"Hei mau kemana? bayar hutang kalian!" Bu Siska menahan, Reno pun mengeluarkan dompet dan membayar hutang mereka dulu.


"Kurang!" Bu Siska meminta lagi. "Selama setahun aku memberikannya tumpangan. Bayar ganti rugi."


Reno pun memberikan seluruh uang yang ada di dompet pada Bu Siska. Wanita bertubuh besar itu tersenyum bahagia.


Rosa dan Reno mendatangi kontrakan yang pernah mereka tempati. Kenangan bersama sang putri seolah memenuhi pikiran.


"Benar, Bu Siska sempat merawat anak perempuan. Tapi anak itu di jadikan budaknya. Anak itu juga hampir di perkosa suami Bu Siska. Mungkin itu sebabnya ia kabur."


Hati Reno dan Rosa seperti tercabik mendengar cerita tetangga. Pasti putri kecil mereka selalu menangis dan menangis.


Setelah dari kontrakan itu, mereka pergi ke kantor polisi.


Pak polisi menujukkan foto anak jalanan yang pernah mereka angkut saat melakukan razia.


Reno dan Rosa mengerutkan dahi melihat foto anak yang begitu kotor dan dekil. Seperti baru terjatuh dalam kubangan.


"Kami membawanya ke Panti. Tapi-"


"Terima kasih Pak, atas informasinya." Reno memotong ucapan pak polisi. Ia menggandeng Rosa berlalu pergi dari tempat itu. Ia ingin segera sampai ke panti dan memeluk putri yang begitu sangat dirindukannya. Tapi..


Sampai ke tempat lokasi, mereka melihat pembangunan panti.


"Maaf pak. Pengurusnya dimana?" Tanya Reno pada salah satu pekerja bangunan.


###


"Pasti ini salah. Nggak mungkin." Rosa membantah ucapan kepala Desa.

__ADS_1


"Saat kebakaran itu seluruh penghuni tak dapat menyelamatkan diri. Kebakaran Panti terjadi pada malam hari." Jelas kepala Desa yang begitu sedih atas musibah tersebut.


"Tidak, tidak mungkin." Rosa masih membantah, ia tak percaya putri kecilnya meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.


Reno merangkul Rosa yang mulai menangis histeris saat kepala desa menunjukkan foto bersama penghuni saat mengunjungi panti tersebut.


Air mata Rosa mengalir melihat salah satu anak. Benar itu adalah anak mereka. Benar bahwasanya Una tinggal di Panti tersebut.


Seorang staff memberikan berkas kepada kepala Desa. Setelah membukanya, ia menyerahkan pada Reno dan Rosa.


"Mas, ini nggak mungkin. Anak kita nggak mungkin meninggal, Mas. Ini pasti salah." Rosa kembali histeris saat kepala Desa menunjukkan foto Una yang berseragam SD. Tubuhnya bergetar melihat senyuman polos anak dalam foto tersebut.


"Una Una... Maafkan Bunda. Kamu jangan tinggalin Bunda. Una..." Rosa memanggil anak dalam foto itu.


"Bunda menyesal nak. Bunda belum sempat membahagiakan kamu, Bunda belum puas memeluk kamu. Bunda sayang sama Una. Beri kesempatan Bunda untuk minta maaf sama kamu, Nak..." Hanya ada rasa menyesal dan penyesalan yang menyelimuti Rosa.


Reno menghapus air mata yang keluar dari sudut matanya. Sebagai seorang Ayah ia juga amat menyesal. Ia gagal menjadi seorang Ayah.


Tak dapat menjaga dan merawat sang anak.


Tak bisa memberikan putrinya kebahagiaan.


Bahkan ia tak dapat memeluk tubuh mungil itu lagi.


Dada Reno begitu sangat sesak menerima kenyataan ini.


"Una sayang Ayah.."


"Una sayang Bunda.."


"Una sangat sayang Ayah sama Bunda.."


Kata-kata imut dan menggemaskan sang putri terngiang-ngiang di telinga mereka.


Kini semua hanya menjadi penyesalan. Una telah meninggalkan mereka untuk selama-lamanya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2