TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 12


__ADS_3

Una berada di dalam kamar, tepatnya diatas ranjang yang sangat empuk. Ia berguling-guling diatas ranjang itu. Lalu melihat hpnya. Ia ingin menghubungi Ziva dan bertanya keadaan temannya itu bagaimana, tapi hanya ada satu nama di kontaknya.


Bugh...


Una kaget mendengar suara pintu. Wajahnya ketakutan, mungkinkah itu maling. Bisa jadi imi sudah pukul 12 malam.


Wanita itu pelan-pelan menuruni ranjang. Ia mengambil tali pinggang. Benda ini akan dicambuknya pada maling itu. Ia harus melindungi dirinya.


Dengan pelan Una membuka pintu kamar, kepalanya keluar memantau keadaan. Kanan dan kiri aman terkendali. Ia pun keluar kamar, lalu berjalan mengendap-endap.


"Hei... apa yang kamu lakukan?"


"Ma-maling..." Teriak Una melihat seorang pria di dapur. Una memanjangkan tali pinggang itu. Memukul ke lantai untuk menakuti maling.


"Sudah main maling-malingannya?" Bian menghidupkan lampu dapur yang berada tepat di sampingnya.


"Tu-Tuan, ternyata Tuan malingnya." Una menutup mulutnya, ia ceplos bicara.


"Untuk apa aku maling di tempatku sendiri?" Balik Bian bertanya yang membuat Una terdiam.


"Ta-tadi ku pikir ada maling." Kata Una merasa tak enak.


Bian menenggak air botol dalam lemari pendingin. Ia pun berjalan ke ruang tv.


"Kenapa belum tidur?"


"Be-belum ngantuk." Jawab Una. " Kenapa anda kemari Tuan?"


Bian menatap Una. "Apa aku juga perlu menjelaskan padamu?"


Nada bicara Bian yang dingin membuat Una ciut. Ia akan menutup mulutnya agar tak ada ucapan yang keluar begitu saja.


"Bisakah kamu ambilkan kotak obat."


Una mengangguk dan mengambil kotak obat. Tak lama ia kembali dan memberikan pada Bian.


"A-apa yang anda lakukan Tuan?" Ucap Una dengan suara yang cukup menggema, wanita itu juga menutup matanya dengan kedua tangan saat Bian akan membuka kaosnya.


"Kenapa kamu begitu berisik? ini sudah malam. Tidur sana." Usir Bian.


Una pun melangkah ke kamar. Ia melihat Bian yang kesulitan membuka kaosnya.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Bian saat Una membantunya membuka kaos.


"Aku hanya membantu anda Tuan." Una mengalihkan wajahnya melihat pria itu bertelanjang dada.


"Tu-Tuan apa yang terjadi? kenapa punggungmu ini?" Una kaget melihat begitu banyak bekas pukulan di punggung pria itu.


"Apa anda berkelahi Tuan?" Tanya Una seraya tangannya mengoleskan salep.


Bian meringis. "Pelan sedikit."


"Ma-maaf." Una pun pelan-pelan mengoleskan salep sambil meniupnya juga. "Apa anda kalah berkelahi Tuan?"


Una lalu fokus pada bekas pukulan di punggung Bian. Pria itu menatapnya dengan aura membunuh. Wanita itu lebih memilih diam saja.

__ADS_1


"Tu-Tuan sudah selesai, tunggu sebentar lagi agar salepnya meresap. Aku akan kembali ke kamar." Una membereskan kotak obat.


"Terima kasih."


Pagi yang cerah Una bangun. Ia melihat Bian tidur meringkuk di kamar. Ingin membangunkan tapi ia takut.


'Apa dia tidak bekerja? tapi sepertinya tidak. Dia kan banyak uang.' Una pun pergi ke dapur. Ia akan membuat sarapan saja.


Tak lama Bian pun bangun dan melihat jam dinding sudah pukul 9 pagi.


"Wan... tolong kamu handle pekerjaanku." Pintanya. Ia sangat malas ke kantor hari ini. Ia hanya akan bersemedi. Juga menonaktifkan ponselnya.


'Kemana Una?'


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Bian melihat Una menjemur pakaian dan pakaian lainnya.


"I-itu mencuci baju." Ucap Una gugup seraya menyembunyikan di balik tubuhnya.


"Bawa ke laundry saja."


"Nggak... aku bisa mencucinya sendiri."


Una bernafas lega melihat Bian pergi. Ia pun menyembunyikan kacamata itu dibalik pakaian yang lain.


"Silahkan sarapan Tuan." Una menghidangkan masakannya di meja. Ia juga membuatkan teh manis hangat.


"Kamu nggak sarapan?" Tanya Bian melihat Una akan pergi.


"Tadi aku sudah sarapan. Aku akan bersiap Tuan."


"Semalam anda mengatakan akan datang membawaku ke wisuda Luna." Ungkap Una.


Una sudah berpikir keras semalaman, ia akan berakting lebih meyakinkan. Agar Luna segera melepaskan Bian dan perjanjian mereka otomatis akan berakhir. Lalu ia akan mencari Ziva.


"Kita tak akan pergi kesana." Akibat kejadian tadi malam, Bian benar-benar sangat malas. Ia mau menenangkan diri saja.


"Oh baiklah."


Una duduk di kursi makan. Ia melihat Bian yang malahap masakannya.


"Tuan, apa aku boleh keluar sebentar?"


"Mau kemana?"


"Kebutuhan dapur habis. Aku mau berbelanja."


"Pergilah. Ingat jangan mencoba kabur atau kamu akan kembali ke Club malam itu."


Una menggeleng cepat. Jika ia kabur maka ia sudah dipastikan akan menjadi wanita malam. Sementara Bian mencibir melihat gelengan ketakutan Una. Wajahnya berubah pucat jika mendengar Club malam.


~


"Kak Lun selamat." Ucap Adit memeluk sang kakak yang telah diwisuda.


Bukannya senang telah menyelesaikan pendidikannya, wajah Luna tampak kesal. Ia tak melihat Bian. Mana nomor pria itu sedang tidak aktif.

__ADS_1


"Mana Bian?"


Adit mengangkat bahunya tanda tak tahu. "Bang Bian sepertinya di gondol maling." Tawa Adit yang malah mendapat tatapan tajam dari Luna.


"Ayah dan Bunda baru sampai bandara. Kemungkinan nggak bisa kemari. Jadi mereka menunggu kak Lun di rumah." Adit memberitahu.


Luna diam saja, matanya masih melihat sekitar. Berharap pria pujaannya datang.


"Selamat ya sayang."


Malah kedua orang tua Bian yang datang. Tak ada terlihat batang hidung pria tampan itu bersama mereka.


"Tante, Bian mana?" Tanyanya dengan wajah sedih.


"Dia masih banyak kerjaan." Alasan papanya Bian.


"Sudah kamu tenang saja. Kamu bisa menikah dengan Bian dalam waktu dekat ini. Kami akan berusaha."


"Benarkah yang tante katakan?" Tanya Luna memastikan. Mamanya Bian mengangguk, membuat Luna tersenyum dan memeluknya erat.


"Katakan pada Bian, agar segera kemari." Ucap Papanya menelpon seseorang.


"Apa?? dia tidak masuk kantor?"


Mendengar itu Luna langsung menoleh. Pikirannya bercabang. Jika Bian tak berada di kantor, kemana Bian?


'Apa Bian di apartemennya dengan wanita itu?'


"Luna luna..." Mamanya Bian bingung melihat Luna yang langsung berlari pergi.


"Biar Adit saja yang ngejar kak Lun. Permisi Om dan Tante." Pamit Adit sopan dan segera mengejar sang kakak.


Luna meremas tangannya kesal, membuat Adit yang menyetir di sampingnya melirik takut.


"Sudahlah kak Lun, lepaskan bang Bian." Bujuk Adit, kadang merasa kasihan sang kakak yang selalu ditolak mentah-mentah.


"Diam. Kamu bisa cepat tidak?" senggak Luna kasar.


"Kita pulang saja ya. Ayah sama Bunda sudah menunggu di rumah, mereka..."


"Kalau kau nggak mau mengantarku, aku akan pergi sendiri." potong Luna dengan nada tinggi.


"Baiklah." Adit pun mengalah. Ikuti sajalah, tah apa yang mau kakaknya ini lakukan.


Di apartemen Bian bangkit saat mendengar bel pintu yang berkali-kali berbunyi.


"Akan ku patahkan tanganmu." Dengus Bian sambil membuka pintu.


"Bian..."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2