TENTANG KAMU

TENTANG KAMU
PART 91


__ADS_3

"Kami pulang." Ucap Una saat memasuki rumah Bunda.


"Kalian belanja apa?" Tanya Bunda dengan raut wajah bahagia. Una dan Luna sudah akur.


"Inilah Bun. Padahal aku punya banyak yang seperti ini." Ucap Luna melirik Una kesal.


"Itu model lama. Ini kan yang terbaru." Jawab Una cepat, padahal ia juga tak tahu soal fashion.


"Siapa ini?" Tanya Bunda pada satu wanita yang berada diantara mereka.


"Bunda, ini teman Una. Namanya Ziva."


Ziva menyalami Bunda.


"Ziva teman baik Una Bunda. Yang sering Una ceritai sama Bunda."


"Terima kasih ya. Kamu sudah sering membantu Una. Bunda nggak bisa membalas kebaikan kamu."


Ziva jadi canggung. "Nggak Tante. Kadang saya nggak bisa membantu Una juga."


"Jangan panggil Tante, panggil Bunda saja. Kamu tinggal disini saja." Ajak Bunda, Una pernah bercerita jika temannya itu adalah anak yatim piatu.


"Iya benar. Kamu tinggal disini saja." Una juga sangat antusias. Ziva selama ini ngekos, akan sangat berbahaya jika ada orang jahat nantinya.


"Nggak usah Tan, Bunda. Saya nggak apa kok." Tolak Ziva halus.


"Sudah disini saja. Ntar kalau kamu sudah menikah, baru kamu ikut suami kamu." Timpal Una.


Ziva sangat geram, Una begitu sangat semangat menyuruhnya tinggal dirumah orang tuanya. Ia mengerti niat baik temannya itu, tapi tidak seperti ini juga.


"Una... jangan suruh aku tinggal disini." Bisik Ziva.


"Nggak apa, Bunda baik lho."


"Aku nggak bisa."


"Ya sudahlah, kalau kamu nggak mau." Ucap Una santai. Ia sudah mempunyai ide lain untuk temannya itu.


"Bunda, biarkan saja Ziva tinggal sendiri. Ia mau mandiri. Una yakin ia dapat menjaga dirinya." Una meyakini Bundanya.


Tak lama, Ziva duduk di ruang tamu. Una sedang sibuk membuatkan minuman. Una tak mau menyuruh pelayan rumah.

__ADS_1


Seorang pria masuk ke dalam rumah dan melihat seorang wanita duduk sambil memegang hp. Ia pun segera menghampiri.


"Satu titik dua koma. Kakak cantik siapa yang punya?"


Ziva menatap aneh pria berseragam SMA tersebut, yang memberinya pantun tak jelas.


"Hmm... maksudnya siapa namanya?" Pria itu membenarkan perkataannya.


"Namaku Adit kak." Adit memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan.


"Ngapain kamu disini? sana ganti baju." Una datang membawa nampan.


"Teman kak Una?" Tanya Adit tambah bersemangat.


"Iya." Una menganggukkan kepala.


"Apa teman yang sering kakak ceritakan itu."


Mendapat anggukan kembali, wajah Adit makin bahagia.


"Kak, terima kasih banyak karena selama ini kakak sudah menjaga kak Unaku. Jika kakak tak mengajak kak Una kabur, mungkin kami tak akan bertemu." Adit mulai berakting sedih.


"Iya kak, aku sangat berterima kasih sekali pada kakak."


"Sudah sana Adit, ganti bajumu." Una segera mengusir Adit, ia melihat temannya itu mulai tak nyaman.


Una dan Ziva mengobrol panjang di ruang tamu itu. Sesekali terdengar suara tawa mereka.


Dari balik tembok, Adit menguping.


"Na... aku pulang ya." Ucap Ziva melihat jam sudah menunjukkan pukul 5.


Melihat Ziva bangkit, Adit segera berjalan ke ruang tamu.


"Kak Una, kak Ziva mau kemana?" Tanya Adit.


"Kak mau pulang. Sudah sore juga." Jawab Ziva.


"Aku antar saja kak."


"Nggak usah, biar naik ojek saja."

__ADS_1


"Nggak apa kak. Biar aku antar saja. Pasti selamat sampai tujuan. Ini juga sudah sore, bisa-bisa kak sampai rumah sudah gelap. Ya kan kak Una?" Adit meminta pendapat Una.


"Iya juga Va. Biar Adit antar saja."


'Yes.' Adit bersorak.


"Aku akan ikut juga."


Wajah bahagia itu langsung memudar.


"Sudah biar Adit saja yang antar. Kak Una nggak lupa sama bang Bian, kan."


Una menepuk jidatnya. Ia melupakan suaminya karena keasyikan mengobrol. Bian pasti sudah pulang dan tak mendapati dirinya di rumah.


"Sayang..."


Suara bariton itu mengagetkannya. Dengan memberanikan diri Una pun menoleh ke arah suara. Ia melihat Bian merapatkan gigi dengan melipat tangan di dada.


"Aku pulang Na." Pamit Ziva lalu menganggukkan kepala pada Bian.


"Ayo kak." Ajak Adit dengan semangat. Tak ada lagi yang akan mengganggunya mengantar Ziva pulang.


"Hati-hati mengemudinya Dit. Antar sampai rumah. Va, kabari aku kalau sudah sampai rumah." Una pun melambaikan tangan pada temannya itu.


"Mas Bianku sayang..." Una segera menghampiri Bian dan memeluk pria itu.


Cup


Una menkecup pipi pria berwajah cemberut itu. Dan wajah cemberut itu langsung terbit senyuman.


"Mas Bianku, ayo kita makan." Ajak Una dengan nada sangat manja.


"Ayo kita makan, setelah itu aku akan memakanmu." Bisik Bian yang membuat wajah Una memanas.


'Apa otak pria ini isinya hanya itu?'


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2